
"Berani sekali kau?" Win meraih dagu Yuri, mencengkram kuat untuk menahan bibir Yuri sehingga Win bebas melakukan apa yang ingin dia lakukan dengan bibir Yuri. Tahu kalau dia memaksakan mencium Yuri lebih dalam, Yuri pasti akan mengigit sehingga dia hanya menyesap bibir Yuri saja, sementara satu tangannya dia gunakan untuk menahan kedua tangan Yuri yang sudah dia tahan di atas kepalanya.
Entah bagiamana menggambarkan perasaan Win, tapi pria itu terus saja terusik dengan perasaan tidak rela di tinggal begitu saja oleh Yuri sehingga dia memutuskan untuk membawa Yuri, lalu mencari jawaban dari rasa penasaran yang membingungkan itu.
"Kau pikir kau siapa?! Memang apa yang aku ambil dari mu sampai kau memperlakukan ku begini?!" Protes Yuri seketika dia mendapatkan kesempatan untuk bicara saat bibirnya terlepas dari bibir Win.
Win menatap Yuri dengan tatapan dingin, sejenak dia terdiam dan memikirkan ucapan Yuri. Benar, apa yang dia ambil sehingga dia harus menahan Yuri? Semua barang yang dia berikan kepada Yuri tak satupun Yuri bawa pergi. Jika memang karena masalah kekesalan dan dendam terhadap Martin, mungkinkah masih perlu untuknya melakukan ini? Martin sudah tidak perduli dengan Yuri, tapi kenapa dia masih tidak bisa membiarkan Yuri?
"Aku hanyalah seorang janda, aku saja yang membuang suami serta anak demi pria yang bahkan tidak menghargai ku. Apa yang kau harapkan dari wanita rendahan ini? Tidak ada, sungguh aku tidak memiliki apapun yang bisa membuat mu memiliki keuntungan. Kau tidak kekurangan wanita, kau hanya perlu menggerakkan jari telunjuk mu jik menginginkannya kan? Kau juga sudah pernah mengatakan bahwa bagian tubuhku banyak yang sudah mengendur, jadi tolong lepaskan aku, Win. Aku mohon......."
Yuri sudah benar-benar tidak tahan lagi, dia tidak tahu harus melakukan apa agar Win melepaskannya. Sekarang dia hanya bisa memohon dengan air matanya yang sudah tak bisa lagi dia tahan.
Win mengeraskan rahangnya, dia kesal sekali melihat wajah Yuri yang begitu memelas sampai menangis meminta untuk di bebaskan. Kenapa seperti ini? Dulu Yuri selalu saja menangis dan merengek, menggerutu saat Win kedapatan berselingkuh atau membahas tentang perpisahan. Semuanya benar-benar berbanding terbalik, Yuri yang sekarang bukan lagi Yuri yang dulu.
__ADS_1
"Tapi sayang sekali, aku benar-benar belum merasa sebosan itu. Aku memang bisa mendapatkan kepuasan dari wanita lain, tapi kalau ada yang lebih mudah dan gratis, kenapa tidak biarkan saja dia tinggal?" Win tersenyum miring mencengkram kuat kedua tangan Yuri, lalu mengunakan satu tangannya lagi untuk membuka pakaian yang di gunakan oleh Yuri hingga setelah beberapa saat Yuri kini tak lagi menggunakan sehelai benang pun. Tentu saja dia masih menangis tak berdaya, tapi sayangnya Win benar-benar tidak perduli sama sekali, Win dengan cepat membuka pakaiannya, tanpa pemanasan dia langsung saja menyerang dengan tak sabaran.
"Ah!" Yuri meringis menahan rasa sakit, dia benar-benar tidak bisa lagi memiliki kesempatan untuk lepas, dia benar-benar lelah dan memasrahkan saja bagaimana jadinya nanti. Tubuhnya seolah bukan miliknya, hatinya juga bukan miliknya lagi sehingga siapapun bisa dengan mudahnya menyakiti. Harga diri, sepertinya Yuri memang sudah tidak memilki harga diri lagi, dia bahkan sudah tidak memilki kemampuan untuk menyebut kata saya dengan bangga.
Win, pria itu benar-benar membutakan matanya, mengunci rapat telinganya tak ingin melihat, dan mendengar bagaimana Yuri terlihat kesakitan. Di dalam hati Win sekarang hanyalah tentang dirinya sendiri, dia tidak perduli dengan apa yang di rasakan Yuri, dia tidak perduli apa yang di inginkan Yuri, dia hanya memperdulikan dirinya menjaga hatinya untuk tidak merasa terhina dan kecewa, dia mengutamakan dirinya untuk merasa puas dan bahagia.
Entah kenapa juga rasanya lama sekali, mungkin karena mereka melakukannya tidak dalam situasi dan kondisi yang siap. Win bahkan sudah kelelahan, berkeringat sangat banyak, begitu juga dengan Yuri yang tak berhenti menangis meski tanpa suara, dia juga terus berdesis kesakitan tapi juga tak di anggap sama sekali.
Win menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Yuri begitu dia selesai dengan apa yang dia lakukan. Untuk hari itu Yuri benar-benar di buat lebih terpukul lagi karena Won lupa untuk melepaskan penyatuan mereka sehingga kemungkinan untuk hamil pasti ada. Sebelumnya Win akan melepas dan mengeluarkan cairan itu di luar, tapi entah apa yang sedang di pikirkan oleh Win, ataukah mungkin dia lupa karena sangat kelelahan?
Setelah Win menggeser tubuhnya, berbaring di sebelah Yuri dan memeluk Yuri erat sehingga Yuri tak bisa melepaskan diri, Yuri memutuskan untuk menunggu saja sampai Win benar-benar lelap barulah dia akan perlahan melepaskan diri dan pergi meninggalkan rumah itu.
Beberapa jam kemudian.
__ADS_1
Yuri perlahan mengangkat lengan Win, menjauhkan dari tubuhnya, lalu perlahan Yuri menggerakkan kakinya dari ranjang tidur. Sebentar Yuri mendesis merasakan bagian bawahnya yang terasa perih, lalu dengan langkah kaki pelan dia memunguti semua pakaian miliknya. Barulah setelah itu dia perlahan berjalan mendekati pintu, meraih handle pintu dan membukanya. Setelah dia keluar dari kamar, terburu-buru langkah kaki Yuri berjalan menjauh dari kamar di mana Win berada, turun dari tangga, dan langkahnya terhenti saat dia sampai ke ruang tengah di mana seorang wanita kini duduk menunggu dengan gelisah. Tentu saja yang di tunggu adalah Win, siapa lagi memangnya?
Melihat Yuri datang, juga penampilannya yang begitu menjelaskan apa saja yang baru saja dia lakukan, wanita itu menatap Yuri dengan tatapan tajam.
"Kau, kenapa kau ada di sini lagi?! Kau pasti merayu Win kan? Kau pasti memohon, bersujud supaya kau bisa kembali ke sini kan?!"
Yuri tersenyum dengan mimik pilu, sebegitu rendah ya seorang Yuri di mata asisten Win yang juga adalah selingkuhannya? Walaupun memang benar tidak ada lagi harga diri yang bisa Yuri lindungi, tapi dia benar-benar tidak tahan mendengarnya. Yuri menatap wanita itu dengan tatapan matanya yang menunjukkan benar kalau dia merasa tidak suka dengan apa yang wanita itu katakan.
"Percayalah, aku pernah begitu sok hebat seperti mu, tapi pada akhirnya aku bukanlah siapapun yang memiliki arti untuk Win. Kau begitu gelisah dan emosional saat melihat ku, tentu saja aku sudah bisa menebak bahwa selama ku pergi pun kau masih belum memilki arti bagi Win bukan? Win hanya sedang bermain-main saja dengan mu, seharusnya kau cukup menikmatinya saja, jangan coba untuk mengontrol permainan, kau sungguh hanya akan berakhir dengan mengasihani diri sendiri."
Wanita itu terlihat semakin kesal, dia berjalan mendekat dengan emosinya.
Bersambung.
__ADS_1