
Setelah pergi ke taman bermain bersama, Martin, Helena dan Sofia, mereka benar-benar menghabiskan waktu dengan bahagia. Sofia yang begitu bahagia karena pada akhirnya dia merasakan betapa serunya menaiki wahana permainan bersama Helena dan juga Martin. Gadis kecil itu sebelumnya hidup bagai di dalam tempurung kosong dan yang hampa dan sunyi, dia akan di karang mengeluh apalagi cara Win membuat Sofia diam dan tidak banyak bicara cukup ekstrim. Martin, pria itu juga bahagia sekali karena ini adalah kali pertama baginya datang ke wahana bermain bersama putrinya dan wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Yah, memang benar Helena bukanlah Ibu kandung Sofia, tapi tidak bisa di pungkiri jika sikap dan sifat Helena benar-benar jauh lebih baik di banding Yuri yang adalah Ibu kandung Sofia, terlebih perasaan yang di miliki Martin terhadap wanita itu benar-benar jauh lebih besar.
Helena, wanita itu juga banyak tersenyum karena apapun yang dia lakukan di sana, dia seperti melihat Velerie berlarian kesana kemari dengan wajah bahagia. Rasanya dia memang masih tetap merindukan putrinya itu, tapi sekarang karena hati Helena yang sudah merelakan membuatnya merasa yakin bahwa, tidak ada tempat yang lebih baik, lebih membahagiakan untuk putrinya selain di sisi Tuhan. Surga yang di tinggali Velerie pasti amat nyaman sehingga Velerie terlihat begitu bahagia bukan? Helena juga ingat benar bagaimana Velerie berbicara dengan lancar meski itu bisa di sebut mimpi. Helena menghela nafas, tersenyum karena hanya itu yang bisa dia lakukan.
Setelah puas bermain, Matiin, Helena dan Sofia memutuskan untuk pergi makan siang sembari beristirahat di sana. Di tempat makan itu pula Helena dan yang lainnya tidak sengaja melihat Yuri dan Win. Tidak ada pembicaraan di antara mereka karena Martin juga tidak ingin menghabiskan waktu hanya untuk memperdebatkan hal yang tidak penting sama sekali.
Yuri, dia benar-benar terus menatap Martin, Sofia dan Helena dengan tatapan sedih. Dia benar-benar iri dan juga sedih melihat Martin dan putrinya begitu bahagia bersama dengan wanita asing. Padahal seharusnya tempat itu adalah miliknya kan? Yuri menunduk pilu, sejujurnya ada terus saja merindukan putrinya, dia merasa begitu menyesal telah menyerahkan putrinya kepada Martin dan membiarkan Putrinya memanggil wanita lain sebagai Ibunya.
"Lihatlah wanita yang bersama Martin, kau seharusnya mencontoh cara berpakaian dan merias wajahnya. Dia tidak berlebihan mengunakan makeup, tapi dia benar-benar terlihat sangat cantik. Perhatikan baik-baik dan terapkan itu padamu. Lihatlah, tubuhmu sudah tidak bagus lagi, dada dan bagian bokong mu sudah mengendur, jangan lupakan kalau matamu juga sudah terlihat keriput."
Yuri membulatkan matanya yang memerah menahan tangis, tangannya gemetar begitu juga dengan bibirnya sehingga dia memilih untuk menggigit bibirnya cukup kuat agar tak mengeluarkan suara apapun.
Bagaimana bisa pria yang sudah dia berikan segalanya begitu tidak menghargai dirinya? Sejak Win mendekati dirinya tidak perduli kalau Yuri memiliki suami, Win mengatakan kalau akan menerima dia apa adanya, tidak akan kehilangan rasa cintanya hingga kapanpun. Dia juga tidak mengeluhkan soal bentuk tubuh, juga soal riasan wajah. Bukankah Yuri sudah melakukan banyak hal demi pria itu? Dia terus mencari gara-gara hanya untuk membuat Martin kesal, karena tak berhasil dia memilih untuk terang-terangan berselingkuh lalu kabut membawa Sofia, satu bulan setelah itu dia menggugat cerai Martin. Tak pernah sekalipun dia memikirkan perasaan Martin kala itu, dia sangat arogan dan di butakan oleh harta yang di berikan oleh Win, dia pikir dengan harta itu dia akan bahagia dan lepas dari hidup susah seperti saat bersama dengan Martin. Tapi, begitu sudah di jalani dia benar-benar di buat tersadar bahwa harta tak melulu bisa menyuguhkan kebahagiaan.
"Makan makanan mu, fokuslah atau kau akan tahu rasanya jika aku mulai kesal." Ucap Win yang membuat Yuri tak bisa menahan tangisnya, tapi dengan cepat dia menyeka air matanya. Seperti ini lah yang sering dia rasakan. Gaya bisa berpura-pura tidak mendengar ucapan Win yang menyakitkan, berpura-pura tidak melihat saat Win berkali-kali mengkhianati, berselingkuh entah sudah dengan betapa banyak wanita. Dia tersiksa, semakin hari dia semakin sadar bahwa hanya Martin yang bisa memperlakukannya dengan baik. Martin, pria itu bahkan pernah memaafkan dirinya saat pertama kali kedapatan berselingkuh, tapi mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur bukan?
__ADS_1
"Aku harap, kau tidak memiliki minat terhadap wanita yang akan di nikahi Martin." Gumam Yuri tapi jelas masih bisa di dengar oleh Win.
Win tersenyum miring, menatap Helena semakin teliti memperhatikan bagiamana wajah cantik Helena yang tegas, postur tubuhnya yang kurus tapi berisi, juga senyum yang terbit dari bibirnya sungguh terlihat sangat menggoda.
"Hanya orang bodoh yang tidak akan menginginkan wanita cantik seperti dia, dan aku adalah salah satu yang menyukainya."
Yuri masih tetap menatap makanannya, dia kembali menggigit bibir bawahnya tak perduli sekuat apa hingga bibirnya sedikit berdarah. Bukankah itu terlalu menyakitkan? Tapi harus bagaimana dia menanggapi ucapan Win? Doa terlalu candu dengan yah yang di berikan Win, tapi dia juga tidak menyukai, tidak menginginkan rasa sakit di hatinya itu.
"Sampai kapan kau akan terus seperti itu, Win? Sudah waktunya kita punya anak dan fokus dengan hidup kita kan?"
Helena mengunyah makanannya meski dia sulit untuk menelan. Tentu saja karena dia menyadari sejak tadi Win terus menatapnya. Dia terganggu sekali, begitu juga dengan Martin yang tidak menyukai tatapan Win yang sejak tadi terarahkan kepada Helena.
"Demi Tuhan, aku ingin menusuk kedua bola mata sialan itu dengan garpu." Kesal Martin.
Helena menatap Martin, meraih tangan Martin dan tersenyum.
__ADS_1
"Abaikan saja, lagi pula hanya menatap seperti itu tidak ada artinya kan?"
"Helen, sebelumnya dia nekad membawa lari Yuri dariku, jadi-"
"Tapi aku bukan Yuri, dan tidak akan menjadi Yuri. Untuk bisa mendapatkan simpati terlebih hatiku, kaya dan tampan bukanlah syarat yang utama. Aku tidak akan melakukan hal serendah itu."
Martin menggenggam erat tangan Helena, dia tersenyum lega karena apa yang di ucapkan Helena benar-benar terdengar begitu melegakan dan meyakinkan.
"Jadi, bagaimana ya laki-laki biasa saja seperti ku mendapatkan hatimu sampai membuat mu setuju untuk menikah denganku?"
Helena membuang nafasnya.
"Mau bagaimana lagi? Anggap saja aku sudah lelah menolak."
Bersambung.
__ADS_1