
Ucapan Martin barusan benar-benar membuat Helena merasa tenaganya serta tekadnya berkumpul menjadi satu seolah tak mudah untuk di lawan. Kali ini jelas Helena akan menghadapi orang kaya yang selalu mengutamakan diri sendiri, jadi Helena haus benar-benar cerdas menghadapi orang seperti mereka.
"Namun, jangan pernah lupa kalau kau juga seorang manusia. Kau harus tetap menjaga kesehatan, jangan lupakan itu, jadikan kesehatanmu adalah prioritas utamamu. Jangan mengeluh dan menetapkan hidupmu hanya untuk satu tujuan lalu mengakhiri hidup demi menemui putrimu, sungguh itu adalah keputusan yang paling bodoh dan salah."
Helena memaksakan senyumnya, sial! dia benar-benar kesulitan menjaga hatinya agar tidak merasakan sesuatu yang aneh setiap kali Martin begitu hebat dalam berbicara dan bertindak. Padahal selama ini dia benar-benar terus berdoa dan berharap kalau saja dia sudah berhasil mendapatkan keadilan untuk Velerie, dia benar-benar ingin mengakhiri hidupnya yang di rasa tak ada gunanya. Tapi Martin seperti secara perlahan mengubah hatinya, mendorong dan menawarkan pilihan lain seolah meminta Helena untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda dan kebahagiaan yang berbeda pula.
"Kenapa kau mengatakan kalimat yang lagi-lagi membuat orang lain merasa goyah?"
Martin terdiam sebentar sembari menatap Helena.
"Orang lain? Kalau itu orang lain aku tidak akan pernah mengatakannya."
Helena dan Martin kini terdiam saling menatap.
Beberapa saat kemudian.
Martin menjalankan tangannya perlahan, meraih tengkuk Helena menyentuhnya dengan lembut, namun bibirnya yang kini sudah menyatu dengan bibir Helena benar-benar sulit untuk di kontrol seolah dia menginginkan yang lebih dari pada itu. Entah sejak kapan mereka begitu memiliki perasaan yang pro hingga tanpa sadar saling menyalurkan perasaan lewat sebuah ciuman.
Helena, dia sendiri benar-benar tidak tahu dan tidak sadar jika melakukan ciuman dan justru larut dalam ciuman Martin yang terasa hangat menjalar seluruh tubuhnya. Dia lupa akan perasaan yang kacau balau sebelumya, dia lupa akan masalahnya saat bibir Martin terus bergerak lembut menyesap dengan begitu panas.
Semakin lama, Martin benar-benar kehilangan kendali, sudah dua tahun dia sama sekali tidak menyentuh wanita, dan Helena sendiri juga sudah lima tahun tak memiliki keinginan untuk dekat dengan pria apalagi melakukan aktivitas fisik bersama pria, tapi Martin seperti menyihirnya membuatnya lupa bagaimana kerasnya dia menolak para pria yang coba untuk mendekatinya.
Martin mulai menurunkan tangannya tapi tak sedikit pun melepaskan ciuman bibirnya, perlahan menurunkan tangan mengusap punggung Helena membuat Helena tersentak, dia tersadar dia sedang melakukan apa.
__ADS_1
"Martin!" Helena menjauhkan dirinya, juga mendorong Martin. Segera Martin juga terdiam membeku memikirkan betapa kurang ajarnya apa yang dia lakukan barusan. Sungguh, dia benar-benar tidak sadar saat matanya begitu intens bertatapan dengan mata Helena yang begitu cantik.
"Ma maaf....."
Helena bangkit dari duduknya, dia tak mengatakan apapun tapi dengan segera dia keluar dari kamar Martin dan menuju kamarnya.
Bruk!
Helena menjatuhkan dirinya ke lantai dengan posisi duduk menyenderkan dirinya di pintu kamar hotel. Helena memegangi dadanya, rasanya begitu tidak biasa karena telapak tangannya bahkan bisa merasakan debaran jantungnya yang terasa begitu kuat.
Kenapa?
Kenapa lagi-lagi dia kehilangan kendali? Kenapa dia harus memiliki perasaan semacam itu di waktu yang tidak tepat? Sekarang dia hanya boleh memikirkan tentang Velerie saja, tapi kenapa Martin seperti menerobos masuk ke hatinya? Helena memeluk kedua lututnya, menatap dengan tatapan kelu, tidak tahu harus mengatakan dan melakukan apa.
"Berpura-pura saja tidak terjadi apapun meski itu tidak mungkin. Setelah kasus Velerie selesai, baru pikirkan bagaimana dengan ini." Gumam Martin lalu bangkit dari posisinya menuju kamar mandi.
Selesai mandi Martin terdiam memandang wajahnya ketika dia sedang bercermin. Dengan intens dia menatap bibirnya yang tentu akan membuatnya teringat bagiamana lembut, kenyal dan hangatnya bibir Helena.
"Sialan!"
Martin menggelengkan kepala berharap otaknya tak lagi memikirkan adegan itu, tapi sial sekali dia justru bereaksi sehingga membuatnya kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Besok paginya.
__ADS_1
Helena, Martin dan juga Sofia kini sudah berada di dalam mobil, bersiap untuk kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing. Tidak ada yang di obrolkan kecuali bersama Sofia. Helena dan juga Martin benar-benar mengindari untuk tidak bicara dulu.
Di sisi lain.
"Cepat! Jangan sampai terlambat, kalau terjadi sesuatu yang buruk terhadap cucuku, kalian semua akan merasakan akibatnya!"
Ucap seorang pria berusia enam puluh tahunan dengan marah dan khawatir melihat keadaan Denise kembai memburuk. Dia adalah kakeknya Denise yang bernama, Tuan Feto. Bersama dengan istrinya, juga Melisa dan juga David, ada pula Ibunya David yang dengan khawatir kini tengah menunggu Denise mendapatkan penganan medis.
"Seharusnya sudah membaik bukan? Ini sudah dua bulan kenapa tidak ada yang berubah? Cucuku satu-satunya harus merasakan sakit yang tidak ada habisnya!"
Kesal Tuan Feto yang tidak habis pikir dengan banyaknya proses dan pengorbanan masih lah tak membuat cucunya sehat seperti kebanyakan anak di luaran sana. Istrinya Tuan Feto juga tidak tahu harus mengatakan apa, dia hanya bisa menangis sembari meminta suaminya untuk menunggu saja sampai Dokter selesai memeriksa.
David juga tak kalah sedih dan khawatir, sama seperti yang di rasakan Melisa. Tapi mau bagaimana lagi? Sekarang dia hanya bisa berharap Denise baik-baik saja dan segera membaik.
Beberapa saat kemudian.
"Saluran urine dari ginjal baru ke kandung kemih mengalami infeksi, dan penghambatan. Di tambah lagi pasien mengalami infeksi saluran kemih. Kami masih harus memeriksa dan memantau dengan cermat kondisi pasien, harap bersabar untuk anda semua." Ucap Dokter yang menangani Denise selama ini.
"Dasar bodoh, tidak berguna!" Tuan Feto meraih kerah seragam Dokter yang di gunakan oleh Dokter itu, menatap dengan sangat marah seolah tak ada kata maaf untuknya. Dokter itu hanya bisa terdiam, membiarkan saja sudah apa yang akan di lakukan Tuan Feto padanya. Dia memang seorang Dokter, dia di juluki tangan Tuhan, tapi apakah orang tidak bisa berpikir bahwa tangan Tuhan bukan berarti bisa melakukan apapun bukan?
"Kalau memang akan sesulit ini, kenapa tidak oeprasi saja lagi, tukar ginjal tidak berguna itu sehingga cucuku bisa cepat hidup dengan normal!"
David menatap Ayah mertuanya dengan tatapan penuh amarah. Mengganti ginjal? Bahkan untuk mendapatkan ginjal kemarin saja dia membutuhkan dua tahun lebih, separuh usia Denise. Di tambah lagi, apakah dia lupa kalau Denise hanyalah anak yang usianya baru liat tahun?
__ADS_1
Bersambung.