
Helena meraih jemari Ibunya, menggenggam erat tangan Ibunya, tersenyum menatap Ibunya untuk membuat Ibunya tidak merasa gugup dan tertekan. Hari ini Ibunya Helena memutuskan untuk mengambil semua barang yang ada di rumah pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya. Tentu saja pada awalnya dia akan datang sendirian saja, tapi karena Helena khawatir dan merasa perlu untuk membantu serta menemani Ibunya, Helena akhirnya ikut serta datang kesana dan dia juga sudah benar-benar mempersiapkan diri secara mental kalau saja dia akan mendengar ucapan tidak enak dari kakak juga pria yang selama ini dia anggap adalah Ayahnya.
"Ibu?" Sapa anak pertama Ibunya Helena, yang langsung mendapatkan balasan senyum dari Ibunya Helena.
"Ibu datang untuk mengambil barang-barang yang Ibu perlukan."
Anak pertama Ibunya Helena yang adalah seorang pria itu hanya bisa memaksakan senyum dan menggeser tubuhnya untuk mempersilahkan Ibunya masuk ke dalam.
"Ibu?" Sapa Freya, dia adalah anak kedua Ibunya Helena.
"Apa kabar, Freya?" Tanya Ibunya Helena yang tentu saja tetap mengkhawatirkan keadaan anak-anaknya.
Freya nampak tak suka melihat Helena datang, tapi dia juga hanya bisa menghela nafas dan mencoba untuk tersenyum sebaik mungkin agar Ibunya tidak tersinggung.
Helena, dia benar-benar tak menunjukkan ekspresi apapun. Tentu saja bagi dirinya melihat kedua kakaknya tidak menyukai adanya dia adalah hal yang biasa, tentu akan aneh kalau mereka terlihat hangat dan seperti saudara pada umumnya. Ini sudah terbiasa jadi Helena benar-benar tidak akan terpengaruh lagi.
__ADS_1
"Ibu datang hanya untuk mengambil barang saja? Ibu tolong lah, kami kesulitan kalau Ibu tidak di rumah." Ucap Freya dengan tatapan memohon dan wajah melas membuat Ibunya Helena merasa kasihan, tapi dia juga merasa kalau Freya benar-benar butuh ketegasan agar dia bisa lebih dewasa lagi.
"Freya, kau sudah memiliki suami dan anak bukan? Kau sudah memilik keluarga sendiri, alangkah bagusnya jika kau betah di rumah suami mu. Bagaimanapun pertengkaran kalian berdua adalah karena kau yang tidak siap menikah. Tapi Freya, kalau kau terus berada di disini sepanjang waktu, kau akan kehilangan banyak hal, kau benar-benar harus sadar benar kalau kau adalah seorang istri, dan Ibu dari anak seorang pria. Cobalah untuk memperbaiki diri, Ibu yakin dengan begitu kau dan suami mu tidak akan bertengkar terus menerus."
Freya tersentak, sejujurnya ucapan Ibunya benar-benar membuatnya tersinggung, tapi dia juga tidak bisa mengatakan apapun karena sadar benar selama ini begitu manja dan sedikit saja ada masalah dia akan datang atau pulang ke rumah orang tuanya, membawa semua anaknya, dan tinggal beberapa hari sampai suaminya datang untuk membujuk. Ini sudah satu bulan, ternyata suaminya masih belum datang, bahkan dia berhenti menghubunginya karena merasa Freya terlaku kekanakan dan seenaknya saja.
"Kau juga Tom, jangan tenang saja di rumah dan menumpang hidup dengan istri mu terus menerus. Wanita yang terlalu mandiri dan bisa menghasilkan banyak yang tanpa suami, itu berarti dia tidak membutuhkan suami untuk hidup, dan dia juga akan memiliki pemikiran untuk mendapatkan pria yang ada di atasnya. Kau jangan menganggap dia bodoh, sebenarnya kau adalah suami yang bodoh dan kau akan menjadi pria paling menyedihkan jika istri mu mulai lelah dengan mu. Dia pasti sudah banyak mengeluh sekarang bukan? Kalau kau tidak percaya padaku, lihat saja dan bertahan dengan sikap malas mu, dan lihatlah saja istrimu yang akan menyeret koper dan tidak menoleh untuk menatap mu sama sekali."
Tom tak mengatakan apapun, dia terdiam karen apa yang di katakan Ibunya benar-benar sedang dia rasakan. Istrinya mulai mengeluh lelah, dia sering kesal karena setiap hari hanya melihat Tom bermain game, makan dan tidur sedangkan dia harus memikirkan bagaimana cara membeli bahan makanan, membeli listrik, dan keperluan internet serta kebutuhan rumah tangga lainnya.
"Bisa kita bicara sebentar?"
Ibunya Helena menatap Helena, tentu saja Helena mengangguk setuju karena bagaimana pun mereka berdua pasti membutuhkan waktu untuk bicara berdua saja sebelum melangkah ke langkah mereka masing-masing. Helena memutuskan untuk duduk di ruang tamu, di sana ada Freya dan juga Tom yang tidak mungkin masuk ke kamar yang mereka gunakan karena artinya mereka harus melewati ruangan tengah di mana Ayah dan Ibu mereka sedang bicara.
"Kau benar-benar melakukan ini?" Tanya Suaminya Ibu dengan tatapan yang tak bisa untuk di artikan oleh Ibunya Helena.
__ADS_1
"Bukankah kau bertanya terlalu terlambat? Kau sudah menerima surat pengajuan cerai kan? Aku juga datang ingin mengatakan padamu, atau lebih tepatnya aku memohon padamu agar jangan mengundurnya lagi. Hubungan kita yang sangat menyakitkan untuk satu sama lain ini sudah sepatutnya untuk di akhiri. Kau tahu benar dan merasakan bagaimana hubungan kita berjalan selama ini kan? Di usia kita sekarang, memang akan di sayangkan sekali adanya perceraian, tapi percayalah walaupun hanya sebentar kita pantas memiliki dan merasakan kebebasan dan kebahagiaan dengan jalan kita masing-masing."
Pria itu menghela nafas, sebenarnya sejak dia mendapatkan surat dari pengadilan dia benar-benar masih merasa kalau itu tidak mungkin mengingat bagaimana mereka berkorban untuk hubungan mereka berdua. Tapi, melihat bagaimana istrinya menyampaikan apa yang dia inginkan hari ini, dia tersadar bahwa selama ini yang mereka jalani tidak termasuk kebahagiaan untuk istrinya.
"Kau benar-benar melepaskan ku dan anak-anak kita? Walaupun aku ingin mengatakan untuk jangan melakukan itu, sepertinya hati mu sudah sangat yakin sekali."
Ibunya Helena membuang nafas, dia tersenyum meski tak bisa melakukan itu dengan benar.
"Kau, dan juga anak-anak memang sangat penting untuk ku, tapi untuk sekali ini saja biarkan aku egois dan berpikir bawa, hidup ku lebih berarti dan pantas untuk mendapatkan apa yang aku inginkan."
Pria itu tak bisa lagi mengatakan apapun, selama ini dia sudah cukup jelas melihat bagaimana istrinya selalu berusaha menempatkan diri dengan benar, di salahkan terus menerus dan sekarang sudah waktunya dia mendapat kebahagiaan dah kebebasan untuk membahagiakan dirinya.
"Baiklah, aku hanya punya satu harapan saat ini, aku harap kau bahagia dengan pilihan mu. Jangan ragu datang padaku saat kau membutuhkan bantuan ku karena bagaimanapun kita tetap harus berhubungan baik bukan?"
Ibunya Helena mengangguk paham, kali ini dia tersenyum lebar dengan tulus mengucapkan terimakasih.
__ADS_1
Bersambung.