
Di sisi lain.
Airi, dia benar-benar tersenyum lebar melihat bagaimana putranya sudah bisa tengkurap dan membalikkan tubuhnya dengan mudah. Sekarang usianya sudah tujuh bulan, bahkan putranya juga sudah terlihat akan belajar merangkak. Untuk kalian yang lupa, Airi adalah Kakaknya Farah, suaminya pernah berselingkuh dengan Farah.
Hari ini adalah akhir pekan, karena dia tidak bekerja makanya dia bisa menjada putranya sendiri dan meminta pengasuh anaknya istirahat atau libur seperti kebiasaan akhir pekan sebelumnya. Tadinya Airi ingin pergi ke apartemen Helena, dia benar-benar merindukan Helena tapi karena Helena memberitahu bahwa dia akan pergi ke penjara untuk menemui Farah, dia batalkan niatnya dan karena lusa adalah hari libur alias tanggal merah, Airi akan datang di hati itu saja.
Suara ketukan pintu apartemen membuat Airi mengeryit bingung, siapa yang datang? Selama ini hanya ada tiga orang saja yaitu, pengasuh bayinya, tukang antar makanan, dan juga Helena. Apakah mungkin itu Helena? Dia langsung datang ke apartemennya setelah menemui Farah?
Airi bangkit dari duduknya, karena dia tidak nyaman meninggalkan putranya, Akti akhirnya memilih untuk membawa putranya lalu berjalan menuju pintu untuk membukanya.
"Lukas?"
Airi membulatkan matanya terkejut.
"Sayang?" Lukas menatap Airi dengan tatapan matanya yang terlihat sangat rindu, dia juga terlihat jauh lebih kurus dari sebelumnya, dia terlhat kacau dan juga terlihat begitu menyedihkan terutama matanya yang benar-benar terlihat kurang tidur dan banyak pikiran sekali.
__ADS_1
Airi benar-benar terkejut, dia tidak sanggup lebih lama melihat Lukas, jadi dia segera mencoba untuk menutup pintu apartemen, tapi secepat itu Lukas menahan pintu menggunakan tangannya tak perduli jika karena tekanan yang cukup kuat dari Airi jemari Lukas sampai terluka dan sedikit berdarah. Melihat itu Airi segera kembali membuka pintunya. Benar saja, untuk apa dia harus menghindari Lukas? Yang salah bukanlah dia, yang seharusnya merasa takut dan bersalah adalah Lukas, Airi memantapkan hatinya untuk kuat dan juga sudah waktunya untuk mereka membicarakan soal perceraian.
"Baiklah, sepertinya kau juga tidak akan menyerah bukan? Kalau begitu mari kita bicara dan sepakati apa yang akan kita bicarakan nanti." Ucap Airi dengan tegas membuat Lukas hanya bisa mengangguk pasrah, ah! Lukas mengalihkan pandangan matanya, dia melihat bayi yang di gendong Airi, dia sangat tampan, kedua matanya yang jernih dan bulat benar-benar mirip Airi, tapi bentuk bibir dan hidung mirip sekali dengannya. Tentu saja Lukas langsung menyadari bahwa itu adalah anaknya mereka bukan?
"Sayang, dia, apakah dia anak kita?"
Airi mengeratkan pelukannya, dia merasa kalau Lukas pasti memiliki niat untuk merebut secara paksa anak mereka.
Melihat Airi yang begitu waspada, Lukas jadi tidak memiliki keberanian untuk menyentuh putranya. Padahal jelas kalau dia juga merindukan, menginginkan putranya, dia juga ingin menjadi sosok Ayah untuk putranya. Dia ingin memiliki banyak waktu untuk dia habiskan bersama putranya, tapi dengan situasi sekarang jelas Airi hanya akan salah paham dengan itu kan?
Lukas dan Airi kini sudah berada di dalam, duduk si sofa ruang tamu sementara Putra mereka berada di pangkuan Airi, dan kini mulai tertidur.
Airi melirik ke arah Lukas yang terlihat masih belum ingin bicara dan hanya memperhatikan dirinya juga putranya, Airi memutuskan untuk membawa putra mereka masuk ke dalam kamar agar lebih leluasa untuk putranya tidur. Sementara itu, Lukas mulia bangkit dan melihat lebih dekat photo putranya yang saya itu pasti belum lama di lahirkan. Lukas menyentuh wajah bayinya dalam photo itu, rasanya sedih sekali karena saat istrinya melahirkan dia tidak bisa menemani, dan tidak bisa melihat putranya tumbuh sampai sekarang.
"Kita harus segera bicara, aku memiliki hal yang harus di kerjakan setelah ini, jadi jangan membuang waktu ku lebih banyak dari pada ini." Ucap Airi begitu dia keluar dari kamar dan mendapati Lukas tengah memandangi photo putra mereka dengan sorot mata kerinduan juga penyesalan. Tidak, mungkin lebih tepatnya Airi merasa takut sekali karena jika Lukas semakin menyukai dan menginginkan putra mereka, bisa saja Lukas akan melakukan segala cara yang dia bisa untuk merebut putranya kan?
__ADS_1
Lukas kembali duduk, sebentar dia kembali menatap Airi yang terlihat begitu dingin saat menatapnya. Yah, tentu saja itu adalah hal yang wajar mengingat apa yang sudah dilakukan olehnya. Lukas juga merasa begitu bersalah, malu dan menyesal sekali, tapi dia juga tidak bisa menampik perasaan kehilangan yang luar biasa. Dia tidak terbiasa tanpa Airi, dia tidak memilki semangat apapun saat Airi tidak di sampingnya. Dia tentu tahu benar jika dia bersalah, dia juga sangat tidak tahu malu karena masih mencari dan berusaha untuk mendapatkan kembai Airi dengan kesungguhan yang dia miliki sekarang. Semenjak Airi pergi, Lukas benar-benar merasakan benar betapa besar arti Airi di dalam hidupnya setelah cukup lama mencurangi Airi dengan sikap gilanya.
"Kenapa kau bisa datang kemari?" Tanya Airi yang tentu saja merasa penasaran bagiamana bisa Lukas menemukan alamatnya, padahal dia sudah memilih tinggal di apartemen biasa saja dan meminta resepsionis merahasiakan identitasnya.
"Aku terus mencari mu selama ini, tadinya aku sudah benar-benar putus asa, tapi saat aku bertemu dengan teman ku, dia mengatakan jika dia tidak sengaja bertemu denganmu di swalayan, dia juga mengirim photo mu. Sejak itu aku selalu datang ke swalayan, setiap hari tanpa absen tapi kau tidak juga datang. Aku memutuskan untuk mencari lewat rekaman kamera pengawas jalanan meski kemungkinan berhasilnya adalah sepuluh persen saja. Sejak itu lah aku menyadari bahwa kau timbul di sini, dan aku benar-benar melakukan segala cara, mungkin lebih tepatnya pemaksaan agar bisa menemui mu."
Airi menghela nafas, mendengar cerita Lukas dan bagiamana penampilan Lukas sekarang, sepertinya apa yang di katakan Lukas memang adalah sebuah kebenaran. Tapi sayangnya dia tidak merasa goyah atau merasa Ibu karena hatinya seperti benar-benar mati rasa sekarang.
"Karena kita sudah bertemu, apa yang ingin kau katakan?" Tanya Airi yang seketika itu membuat Lukas terdiam dengan segala pemikiran dan harapannya.
Lukas mengeraskan rahangnya, dia tiba-tiba saja merasa ragu terhadap apa yang selama ini dia inginkan jika bertemu dengan Airi. Dia ingin memeluk Airi, dia ingin memohon ampunan dan membujuk Airi untuk pulang bersama anak mereka, lalu mereka akan hidup dengan bahagia serta melupakan masa lalu yang menyakitkan. Sungguh ironis sekali karena Lukas begitu bodoh menganggap semua itu akan terwujud seolah yang memiliki hati hanyalah dirinya saja, dia lupa kalau Airi pasti akan merasakan sakit hati yang bukan tidak mungkin sama sekali tidak memilki minat kembai padanya.
"Berhentilah membuang waktu ku, kau seharusnya tahu apa yang kau pikirkan tidak pernah bisa kau dapatkan bukan?"
Bersambung.
__ADS_1