Why?

Why?
Kemarahan David


__ADS_3

David masih terdiam di tempatnya, menatap Denise yang menangis tapi otaknya tengah memikirkan bagiamana selama ini Velerie hidup? Apakah saat malam dia akan menangis meminta untuk di temani? Selama ini dia tidak pernah memiliki waktu sebanyak yang dia berikan kepada Denise, jadi apakah sungguh dia adalah Ayah yang pantas untuk Velerie? Belum lagi melihat Ibu kandungnya sendiri begitu mementingkan perasaan Melisa, dan begitu mendesak untuk terus mengalah tidak perduli apakah David benar atau salah.


Denise, jika dia di besarkan dengan cara seperti ini, apakah dia akan baik-baik saja saat dewasa nanti? Apakah dia mampu beradaptasi dengan orang lain yang belum tentu akan bisa memaklumi dia dan mengalah seperti yang di lakukan keluarganya?


Tidak, cara mendidik seperti ini jelas adalah seperti menciptakan monster di hati anaknya sendiri.


"Tidurlah dengan Ibumu, ada yang harus Ayah kerjakan, dan mulai besok kau sudah harus belajar untuk tidur sendiri." Setelah mengatakan itu segera David meninggalkan tempat, berjalan menuju parkiran dan langsung menuju ke rumah orang tua Farah menggunakan mobil miliknya.


Beberapa sat kemudian.


David dengan segera keluar dari mobil, tatapannya yang garang dan dingin jelas membuat orang tua Farah yang menyadari kedatangan David benar-benar merasa takut karena bisa saja David akan membunuh Farah bukan?


"Kunci pintunya, jangan biarkan dia masuk!"


Sayang sekali, David yang sudah mencoba untuk membuka pintu tapi di kunci justru menjadi semakin kesal, dia menendang pintu rumah orang tua Farah dengan satu kakinya, dan benar-benar terbuka.


Ibunya Farah terdiam dengan tatapan terkejut, dia sana juga ada kakaknya Farah, yang menatap David dengan tatapan datar. Kakak laki-lakinya Farah adalah sahabat David juga, jadi dia benar-benar tidak enak karena kejadian ini.

__ADS_1


"Setelah mencuri ginjal anakku, kenapa kau ingin menyembunyikan putrimu yang jahat itu? Berikan dia padaku, minta dia untuk segera keluar!" David membentak Ibunya Farah dengan matanya yang begitu membelalak marah. Salahkah? Tidak, dia tidak merasa salah karena David tahu benar bagaimana Ibunya Farah begitu membela Farah sejak dulu. Airi, dia harus menikahi pria yang tidak dia sukai supaya suaminya bisa membantu membayar uang kuliah Farah, kakaknya Farah yang laki-laki juga memilih pergi dari rumah karena tuntutan Ibunya yang sangat besar padahal dia juga memiliki istri dan anak untuk di biayai olehnya.


"David, Farah sudah banyak menderita karena kejadian ini, semua orang sedang menyalahkan dirinya, jadi tolong buatkan dia tengah sebentar. Dia tahu pasti dia salah, dan dia juga akan bertanggung jawab, hanya saja biarkan dia tenang dulu ya?"


David mengeraskan rahangnya, sungguh dia sangat kesal sekali hingga seluruh tubuhnya benar-benar terasa seperti terbakar. Sudah cukup dia kehilangan putrinya, sudah cukup dia menjadi Ayah yang tidak berguna hingga tidak berada di sisi putrinya saat terakhir, bahkan saat menguburkan putrinya dia tidak berada di sana. Kali ini dia sudah tidak bisa tahan lagi, dia tidak ingin hanya diam dan ketika Velerienya tidak mendapatkan keadilan.


"Jadi anda tidak membiarkan dia keluar?" David semakin menajamkan matanya, mengepalkan tangan dan mulai melangkahkan kaki mencari keberadaan Farah tidak perduli bagaimana Ibunya Farah berjalan dengan susah payah mencoba untuk mencegah David menemukan Farah.


Brak!


Di luar rumah.


Farah berlari menjauh dari rumahnya sembari menangis ketakutan. Dia tahu bagaimana David yang terdengar begitu emosi, kalaupun Farah kukuh tidak keluar dari kamar, sudah pasti David akan mencarinya hingga dapat kan? Dan benar saja, David benar-benar melakukanya, jadi untunglah Farah memutuskan untuk keluar dari pintu belakang.


David terdiam menahan kesal karena hingga ruangan terakhir dia sama sekali tak menikam Farah.


Bugh!

__ADS_1


David meninju dinding dengan begitu kuat hingga punggung tangannya terluka dan mengeluarkan darah meskai tidak banyak.


"Lari lah, Farah lari sejauh mungkin, sembunyikan dirimu serapat mungkin, aku tidak akan membiarkanmu begitu saja, aku pastikan secepatnya kau di seret dengan kasar dan memalukan oleh polisi."


Ucapan David barusan benar-benar membuat Ibunya Farah gemetar ketakutan. Polisi? Tidak, Farah tidak boleh di tangkap polisi, Farah tidak boleh di penjara karena itu sama saja menghancurkan masa depan putrinya bukan?


Setelah yakin tak ada Farah di sana, David memutuskan untuk segera pergi meninggalkan rumah orang tua Farah. David kembali menjalankan mobilnya, dan kini dia hanya bisa menahan segala perasaannya, menjalankan mobilnya tidak tahu kemana arah yang ingin dia tuju. David sudah tidak bisa menahan lagi, dia tidak sanggup lagi berpura-pura kuat hingga akhirnya dia menangis, terisak membayangkan betapa bodohnya dia sebagai seorang Ayah. Sejak Velerie lahir, gadis kecil yang tidak bersalah itu benar-benar harus menghadapi ujian hidup yang begitu berat. Satu jam setelah Velerie lahir, Ibunya datang untuk melihat, dan begitu dia melihat wajah Velerie yang khas down syndrom, langsung saja Ibunya mengatakan kalimat yang tidak enak.


"Sudah Ibu bilang kan? Jangan menikah dengan Helena, lihat! Lihat anakmu yang cacat! Aku tidak Sudi memiliki cucu yang aneh seperti itu."


Sebenarnya begitu Velerie lahir, bak David dan juga Helena sangat terkejut melihat keadaan anak mereka, tapi mau bagaimana lagi?Velerie adalah buah cintanya bersama Helena, Velerie adalah anak yah lahir dari benihnya, dia tidak bisa tidak menyayangi Velerie. Helena dan David pada awalnya kukuh untuk membesarkan Velerie sendiri, tidak akan meminta bantuan dari pihak keluarga manapun karena mereka tidak ingin mendengar kalimat yang tidak mengenakan. Tapi, baru saja sebelas bulan mereka hidup bertiga, masalah demi masalah muncul dan David yang terpojok dan tak berdaya memilih jalan yang paling menyakitkan dan yang paling dia sesali hingga detik ini. Dia melepaskan Helena, melepaskan putrinya, melepaskan cinta dan harapannya demi kedua orang tuanya.


Andai saja dia memiliki keegoisan dan keteguhan yang kuat, andai saja dia tidak meninggalkan Helena dan Velerie, sudah pasti Velerie masih hidup dengan sehat bukan?


"Ah......! Dasar bodoh! Pria brengsek! Bajingan! Kenapa tidak kau saja yang mati?! Bodoh!" David memukuli setir kemudinya, menangis sejadi-jadinya menyesali keputusan besar yang pernah dia lakukan hanya karena Ibunya terus mengancam untuk nih diri. Padahal Ibunya jelas tidak akan mungkin melakukan itu, tapi kenapa David begitu tidak berdaya saat itu?


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2