
"Baiklah, aku sudah tidak ingin bermain-main dengan kalian. Pembicaraan selanjutnya hanya milik kalian berdua bukan?" Helena tersenyum seraya memasukkan pisau lipat miliknya ke dalam saku bajunya lalu menggerakkan kursi roda menghadapkan kepada David dan juga Melisa. Helena melepaskan headset yang di kenakan oleh anak yang duduk di kursi roda lalu berkata,
"Sofia, ini sudah selesai. Terimakasih banyak sudah membantu Bibi. Sekarang kita bisa pulang dan membeli burger kesukaan mu, oke?"
Sofia tersenyum lalu merentangkan tangannya agar Helena menggendongnya.
Melihat kalau anak itu bukanlah Denise, Melisa benar-benar terkejut sekali. Segera dia bangkit dan menatap Helena dengan tatapan marah karena sadar jika dia sudah di permainkan oleh Helena. Berbeda dengan David, dia benar-benar lega karena Helena sama sekali tak berubah. Seberapa besar perasaan benci dan marah, Helena adalah perempuan yang mengutamakan keselamatan dan jelas Denise bukan orang yang akan dia celakai bukan?
"Kau, kau benar-benar keterlaluan! Dimana anakku?!" Tanya Melisa dengan matanya yang membulat sempura penuh kemarahan.
Helena bangkit dengan posisinya sudah membawa Sofia dalam gendongannya. Helena hanya sebentar tersenyum, menatap Melisa yang pasti merasa sangat kesal luar biasa karena telah dia permainkan. Tapi tetap saja, bahkan Melisa menangis darah rasanya itu tidak benar-benar akan menghilangkan perasaan cukup di hatinya. Dia ingin lebih, lebih, lebih, lagi melihat Melisa menderita. Bahkan dia juga mendoakan agar Denise juga mati menyusul Velerie meski beberapa saat setelah membatin seperti itu Helena benar-benar menyesali.
"Mungkin, anakmu sedang berada di sebelah anakku, menemaninya. Mungkin, mereka berdua sedang berbincang santai menceritakan bagiamana kehidupan yang begitu tidak adil, atau mereka sedang membahas soal hubungan persaudaraan yang selama ini tidak pernah baik."
"Diam!" Melisa melotot marah, tentu saja dia tidak akan membiarkan saja Helena bebas setelah ini. Dia akan melakukan segala cara agar Helena bisa menderita, sejuta kali lipat lebih menderita dari pada sebelumnya, dia akan menggunakan cara apapun untuk memenuhi janjinya ini.
Helena tersenyum tipis meski yang dia inginkan adalah mendekati Melisa, menampar wajah yang tidak tahu malu itu dengan sangat kuat. Tapi untuk apa? Tamparan satu tangannya jelas tidak akan memiliki efek apapun, jadi lebih baik biarkan kesedihan dunia yang menamparnya bukan?
"Jangan kau pikir aku tidak tahu apapun apa yang sedang kau bicarakan, Melisa. Tapi kau benar-benar harus menelan pil pahit karena sepertinya Ayahmu akan sibuk menolong dirinya dan mencari cara bagaimana dia akan menyelamatkan diri. Mari kita lihat apakah saat itu kau masih bisa memikirkan soal balas membalas apa yang kau rasakan padaku." Ucap Helena lalu melangkahkan kaki untuk meninggalkan atap rumah sakit.
__ADS_1
"Dasar wanita sialan! Katakan di mana anakku!" Melisa berniat segera mendekati Helena, lalu melakukan apa yang ingin dia lakukan. Bahkan dia juga tidak keberatan kalau harus mendorong Helena jatuh begitu juga anak yang ada di gendongannya. Tapi, David menahan lengannya dengan ekspresi yang terlihat begitu marah padanya.
"Kau belum selesai denganku, Melisa." Ucap David membuat Melisa tak bisa melakukan apapun kepada Helena hingga Helena sudah tidak terlihat lagi.
Begitu keluar dari lift, Helena benar-benar sudah semakin tak bisa menahan dirinya lagi. Helena mulai menangis, tubuhnya gemetar dan dia semakin mengeratkan tangannya agar gak membuat Sofia terjatuh dari gendongannya.
Grep!
Sebuah lengan kekar menahan tubuh Helena, juga menahan Sofia lalu membawanya ke dalam pelukannya.
"Sudah selesai, semua sudah selesai, kau sudah bekerja keras, saatnya untukmu istirahat." Ucapannya, dan dia adalah Martin. Pria itu memeluk kedua sanita di pelukannya dengan hangat. Tak lama setelah itu Martin mengambil Sofia tapi dia tetap memeluk erat Helena yang kini sudah mulai menangis dengan tubuhnya yang gemetar.
"Kau akan mendapatkan akhir yang kau inginkan, percayalah padaku, ini adalah janjiku padamu." Ucap Martin mencoba sebisanya untuk menguatkan Helena.
Beberapa saat kemudian.
Melisa bangkit dari posisinya secara perlahan, dengan susah payah sembari menahan sakit di sekujur tubuhnya. Kenapa? Itu karena David benar-benar membabi buta menghajarnya. Luka yang dia dapatkan memang tidak akan membuatnya cacat apalagi mati, tapi rasanya benar-benar begitu terasa karena untuk pertama kali dia melihat David yang seperti bukan manusia beberapa saat tadi.
"Helena, David, kalian benar-benar tidak akan aku maafkan. Terutama kau, Helena. Aku tidak akan membiarkan mu hidup dengan tenang dan nyaman seperti sbelumnya." Gumam Melisa sembari menyeka air mata kemarahan yang luruh membasahi pipinya.
__ADS_1
Di sisi lain.
Brak!
Pengacara Jhon membuang semua barang yang ada di meja kerjanya. Sekarang dia benar-benar hancur sehancur-hancurnya. Sudah sejak beberapa waktu ini dia di buat tak bisa melakukan apapun dengan pemberitaan media sosial yang begitu meledak. Pihak kepolisian yang menangani kasus Helena juga mulai di periksa kenapa kasus sebesar ini bisa tidak bisa di tangani dan mereka juga kesulitan mendapatkan bukti padahal media sosial seperti menjelaskan bahwa bukti begitu banyak.
Kematian guru Vethie Jolie juga membuat posisi semua orang menjadi semakin tertekan. Saksi palsu, tersangka palsu, bukti semua terbantahkan dengan tegas apalagi belum lama ini video Tuan Feto begitu menyebar cepat dan pasti Tuan Feto akan mencoba untuk melindungi dirinya sendiri bukan?
"Tidak, aku tidak bisa diam saja, aku harus membersihkan namaku sebelum semuanya terlambat." Pengacara Jhon terdiam sebentar memikirkan bagaimana dia akan membuat semua bukti tak menunjuk kepadanya. Dia sudah puluhan tahun menjadi pengacara jadi dia tidak bisa membiarkan begitu saja kariernya hancur hanya karena batu Kolar yang tidak ada harganya.
Tanpa Pengacara Jhon ketahui, kini Tuan Feto juga sedang melakukan yang sama. Tuan Feto sedang mencoba untuk membersihkan dirinya dan agar bukti tak teralihkan padanya karena bagaimanapun kebohongan demi kebohongan sudah di tentukan dan di rancang oleh pengacara.
Sial, mereka benar-benar semakin di buat gila karena ternyata ada siaran langsung yang menyorot wajah Melisa tengah mengakui kesalahannya yang jelas membuat mereka tak bisa berkata-kata.
"Anak bodoh ini, apa yang sedang dia lakukan?!" Maki Tuan Feto yang sudah tidak sanggup lagi berpikir karena tentu dia tidak dapat mengendalikan saluran televisi yang mulai aktif membicarakan Melisa.
Tuan Feto meraih ponselnya, laku mengatakan kepada seseorang agar segera melindungi keluarganya apapun yang terjadi.
"Maaf, Melisa. Sekarang giliran mu yang harus berkorban."
__ADS_1
Bersambung.