Why?

Why?
Memohon Ampunan


__ADS_3

Helena menatap nanar pria yang kini berdiri tak jauh darinya, ekspresi tak berdaya dan terlihat begitu merasa bersalah membuat Helena benar-benar tidak tahan, kesal setengah mati melihatnya.


Pria itu adalah, Tuan Feto.


Sejujurnya Helena benar-benar tidak ingin bertemu dengan orang itu dulu, dia tidak ingin mengingat dulu bagaimana kebenaran tentang dirinya, juga masih begitu menolak keras bahwa Tuan Feto adalah Ayah kandungnya. Ini benar menyakitkan, tapi bagaimanapun dia menolak dia tidak akan Sudi mengatakan sepatah katapun untuk orang itu.


"Helena, sebenarnya sungguh begitu memalukan menunjukkan wajah di hadapan mu. Tapi kebenaran jika aku adalah Ayahmu benar-benar membuatku sangat kacau dan sulit untuk tidak menemuimu. Pria jahat, brengsek dan pendendam ini hanya bisa meminta maaf, memohon ampun dan Ayah juga tidak akan mengharapkan benar kau memaafkan. Semua ini pasti sangat sulit untukmu, begitu juga untuk Ayah. Andaikan saja Ayah tahu lebih cepat, mungkin semua tidak akan berakhir seperti sekarang ini. Benar-benar tidak ada gunanya memang karena kata sebaginya memang hanyalah untuk khayalan saja."


Helena tak merespon ucapan Tuan Feto sama sekali, entah sebenarnya apa yang ingin di katakan orang itu, Helena benar-benar tidak perduli sama sekali.


"Helena, Ayah akan berusaha sebaik mungkin, juga akan mempertanggung jawabkan semua yang sudah Ayah lakukan. Ayah berharap di masa depan kau bisa hidup dengan segala kebahagiaan, dan semoga saja Ayah memiliki waktu untuk bisa memelukmu tanpa paksa meski hanya sebentar saja. Meskipun kebenaran bahwa kau adakah anak Ayah, tapi sejak saat itu perasaan sayang sekaligus menyesal ini begitu memburu. Hanya itu yang ingin Ayah katakan, semua hal akan di lanjutkan oleh sekretaris Ayah nanti, tapi itu juga kalau kau sudah pulih benar."


Tuan Feto melihat wajah Helena dengan seksama, ternyata memang benar Helena mirip dengannya, terlebih sorot matanya yang begitu mirip. Sungguh bodoh sekali karena tidak menyadari sejak awal bukan?


Tuan Feto memaksakan senyumnya, sebenarnya dia ingin menyentuh kepala Helena dan mengusapnya perlahan, tapi Helena pasti akan menolak dengan keras dan berakhir dengan kebencian yang semakin bertambah.

__ADS_1


"Sebenarnya ada banyak sekali hal yang ingin Ayah bicarakan, tapi situasi kita jelas tidak akan membuatmu nyaman bukan? Ayah permisi dulu, istirahat lah dengan baik, Ayah janji mulai dari hari ini apapun yang kau inginkan, selama Ayah bisa memberikannya maka Ayah akan memberikannya untukmu."


Setelah mengatakan itu Tuan Feto memutuskan untuk undur diri, membiarkan Helena tenang karena datangnya dia hari ini pasti membuat Helena merasakan emosi bukan? Walaupun Helena memang hanya diam, itu benar-benar Tuan Feto pahami bahwa dia sedang menahan segala keadaan yang tengah berkecamuk di hatinya.


Di luar ada Ibunya Helena yang menunggu, seperti yang dijanjikan bahwa dia akan tetap datang dan menunggu di luar, tidak menunjukkan wajahnya dulu di hadapan Helena. Ibunya Helena bangkit begitu Tuan Feto keluar dari sana, lalu menyerahkan album photo di mana semua photo Helena sejak dia baru lahir hingga menikah dengan David.


"Terimakasih banyak, aku banyak berhutang padamu, aku harap aku bisa melakukan sesuatu untuk mengurangi penderitaan kalian berdua."


Ibunya Helena menghela nafas, penderitaan mereka berdua? Tidak, tidak akan bisa. Di banding dirinya yang menderita karena harus menanggung rasa malu kepada suami, serta anaknya yang lain, begitu juga dengan mertua, Helena adalah orang yang paling menderita. Ibunya sendiri saja masih tidak tahu bagaimana dia akan membuat Helena menerimanya kembali tanpa batasan, jadi mana mungkin dia menerima apapun dari Tuan Feto?


"Jangan berterimakasih, aku tidak pantas menerima itu. Aku tidak tahu kekacauan apa lagi yah akan terjadi setelah ini, tapi kalau boleh meminta tolong maka tolong lindungi Helena. Dia sangat menderita selama ini, dia memiliki beban hati yang begitu berat, dia membutuhkan waktu untuk tenang, jadi tetap lindungi dia maka itu adalah hal yang paling aku harapkan."


Di sisi lain.


"Suamiku benar-benar sedang gila karena perasaan bersalah, aku harus bergerak sendiri jadi jangan meninggalkan jejak sedikitpun, lakukan segala cara agar kami tidak berada dalam masalah hukum." Linta Ibunya Melisa kepada asisten sekretaris yang selama ini bekerja untuknya.

__ADS_1


"Nyonya, bagaimanapun Tuan Feto telah membuat keputusan besar dengan tidak melakukan apapun, apa anda yakin akan baik-baik saja saat saya melakukan apa yang anda perintahkan?"


Ibunya Melisa menghela nafas, sebenarnya perasaan kesal yang dia rasakan meronta dan dengan kesalnya dia seperti ingin melindungi dirinya sendiri saja. Tapi, kalau dia hanya melindungi diri, maka pada akhirnya dia tetap akan terseret saat suaminya mengakui segalanya yang telah dia lakukan. Biarkan saja dia marah, sungguh dia sama sekali tidak begitu perduli.


"Lakukan saja apa yang aku katakan. Oh iya, semua aset yang atas namaku aku ingin melindungi semua itu, rencananya aku akan melakukan bayi tabung dengan cara mengambil sel telur milik Melisa, aku sudah menghuni pihak bank sper**. Dengan rahim wanita lain aku masih bisa memiliki cucu kandung, jadi tidak ada yang percuma harta ku dan suamiku."


Asisten Ibunya Melisa mengangguk paham. Sebenarnya kalau aset milik Ibunya Melisa tidak sebanding, atau sangat jauh kalau dengan mimik Tuan Feto. Ibunya Melisa memiliki dua apartemen mewah, satu rumah di lokasi elite, dan juga beberapa saham, dan perhiasan peninggalan keluarga yang harganya pasti cukup tinggi.


"Begini Nyonya, bagaimana dengan aset Tuan? Apa anda yakin aset itu masih berada di tangan Tuan Feto? Setelah aku pikirkan lagi, Tuan Feto tidak melakukan apapun untuk melindungi diri dari jerat hukum jelas dia juga sudah mempersiapkan segalanya. Anda bilang kalau Helena adalah anak kandung Tuan dengan wanita lain bukan? Jelas Helena adalah putrinya yang tidak berada di dalam penjara, dia masih muda dan pasti akan memiliki seseorang di kemudian hari dan melahirkan anak. Apakah anda tidak terpikirkan kalau bisa saja Tuan Feto sudah mengalihkan semua aset yang dia miliki kepada Helena bukan?"


Ibunya Melisa tersentak dalam diam, dia benar-benar tidak terpikirkan akan hal itu, dan sekarang dia benar-benar takut kalau saja itu terjadi.


"Cari tahu! Cari tahu dan pastikan semua aset itu masih aman!"


"Baik, Nyonya."

__ADS_1


Ibunya Melisa segera bangkit dari duduknya, sepertinya dia tidak akan diam saja menunggu, dia juga merasa harus mencari tahu sendiri sebelum semuanya terlambat.


Bersambung.


__ADS_2