
Yuri memundurkan langkahnya, bibirnya benar-benar tersenyum, tapi kayanya memerah dan mulai menitihkan air mata. Niatnya ingin menemui putrinya agar bisa melepaskan rindu yang dia rasakan selama beberapa bulan ini, tai melihat kedekatan Helena dan Sofia yang bagai Ibu dan anak kandung, Yuri tiba-tiba tersadar kalau dia tidak seberani itu, dia tidak begitu hebat dalam memiliki keberanian sehingga dia memilih untuk membalikkan badannya dan berjalan menjauh dari Helena dan Sofia yang masih begitu sibuk menanam bunga di halaman rumah mereka.
Sudah satu bulan lebih sejak Helena dan Martin menikah, tadinya Yuri ingin mengucapkan selamat meski benar ucapan darinya itu sangat terlambat. Dia juga memilik niat untuk menemui putrinya karena perasaan rindu yang dia rasakan tidak hilang meski sering melakukan panggilan video.
"Ibu bahagia sekali melihat wajah bahagia mu, nak. Ibu benar-benar gagal sekali karena tidak pernah membuat mu terlihat bahagia dan terbahak seperti itu. Maafkan Ibu ya sayang? Baik-baik di sana, sekarang Ibu bisa tenang dan Ibu akan datang lagi nanti dengan versi baru, Ibu yang setidaknya sedikit saja lebih baik dari sebelumnya."
Yuri menyeka air matanya, mungkin dia memang terlalu berlebihan dalam memahami hatinya, dia terlalu pengecut padahal Sofia adalah putri kandungnya sendiri, bahkan Sofia juga selalu menyambut hangat saat dirinya menghubungi melalui telepon. Tapi, mengingat bagaimana Sofia benar-benar terlihat begitu bahagia dan lepas, Yuri tersadarkan jika selama ini dia telah begitu gagal dalam mengasuh Sofia. Iya, tidak apa-apa, dia akan menahan perasaan rindu itu sembari memperbaiki diri dan akan menemui Sofia saat dia sudah benar-benar percaya kepada dirinya sendiri bahwa dia pantas untuk di sebut Ibu bagi putrinya.
Deg!
Langkah kaki Yuri terhenti saat sosok di hadapannya tak menyingkir seolah sengaja melakukannya. Yuri yang sejak tadi jalan dengan menunduk terpaksa menaikkan pandangan matanya, meski sebenarnya dia sudah merasa berdebar kuat karena sosok tinggi besar di hadapannya seperti benar-benar dia kenal.
"Win?"
Yuri sontak meundurkan dirinya, tidak! Dia tidak ingin memiliki urusan lagi dengan pria yang tidak berperasaan itu, dia tidak ingin terus terikat batuk dengan pria yang bahkan tidak tahu bagaimana caranya menghargai. Yuri sudah akan pergi dengan langkah kakinya yang cepat, tapi win dengan segera meraih lengan Yuri, menariknya dan meraih pinggulnya agar Yuri tak bisa pergi kemanapun, bahkan untuk bergerak saja Yuri sungguh kesulitan.
__ADS_1
"Lepaskan aku!"
Win tak bicara untuk beberapa saat, sampai dia benar-benar melihat bagaimana kedua bola mata Yuri yang sangat tajam dan memancarkan aura kemarahan.
"Memang kau mau kemana? Apa kau pikir mudah untuk lepas dari ku? Mau lari kemana memangnya? Ke panti asuhan yang bangunannya saja sudah akan roboh? Yuri, jangan kau pikir kau bisa lari sesuka mu. Selama ini aku sudah membiarkan mu, dan sekarang aku tidak memiliki kesabaran sebanyak itu."
Setelah mengatakan itu, Win menyeret Yuri untuk ikut dengannya, masuk ke dalam mobil. Dia benar-benar mengabaikan Yuri yang terus mencoba untuk melepaskan diri, bahkan Yuri juga berteriak. Yah, lakukan saja seperti yang dia suka, toh tidak akan ada yang mencoba menghentikannya.
Beberapa saat kemudian.
Win menghempaskan tubuh Yuri di atas tepat tidur, dengan cepat menindih sebelum Yuri bangkit sehingga Yuri menjadi lebih kesal, marah, dan berniat untuk kabur dari pria itu semakin besar.
"Kau gila! lepaskan aku!"
Yuri terus mendorong tubuh Win, mencoba sekuat tenaga menyingkirkan tubuh itu tapi sial, dia benar-benar tidak sekuat itu sehingga Win justru hanya diam, tersenyum tipis dengan tatapan aneh yang justru membuat Yuri menjadi tambah kesal lagi. Kenapa bisa seperti ini? Padahal dia sudah merasa cukup tenang beberapa bulan ini, dia ingin lepas dari pria yang telah membuatnya kehilangan banyak hal, kehilangan kepercayaan diri juga untuk mencintai dan menerima cinta. Yuri sungguh sudah tidak memiliki niatan dalam hatinya tentang sebuah hubungan, tapi jika seperti ini terus, lambat laun dia hanya akan mati tersiksa dan percuma.
__ADS_1
"Sudah aku bilang kan? Kalau aku belum membuang mu, maka kau tidak akan aku biarkan begitu saja. Tunggulah, biarkan aku bosan baru kau bisa pergi nanti."
Yuri menangis tanpa suara, benar-benar hanya Tuhan yang tahu seberapa besar dan dalam luka hati yang dia rasakan saat ini. Dia sudah tahu dan paham kalau apapun yang dia lakukan tidak akan bisa merubah Win. Pria itu semakin hari semakin menunjukkan dengan jelas betapa dia tak ingin menghargai Yuri, merendahkan Yuri dengan segala sikapnya. Tentu saja berada di sisi Win lagi adalah hal yang paling menakutkan untuk Yuri.
Win mendekatkan wajahnya, dia berniat mencium bibir Yuri, tapi secepat itu Yuri menoleh untuk menolak ciuman dari Win. Tentu saja hal itu membuat Win kesal, kenapa dia di tolak? Padahal seharusnya Yuri berterimakasih karena berkat Win, juga jika berada di sisi Win barulah Yuri akan hidup mewah kan?
Sayang sekali, yang Yuri inginkan bukankah kemewahan lagi, tapi dia menginginkan ketenangan, juga waktu untuk bisa memenangi diri sehingga bisa menjadi Ibu yang pantas untuk putrinya. Dia juga tidak ingin merasakan sakit lagi, dia tidak ingin menderita lagi hanya karena terlalu mencintai seseorang terutama orang itu adalah Win.
"Berani sekali kau?" Win meraih dagu Yuri, mencengkram kuat untuk menahan bibir Yuri sehingga Win bebas melakukan apa yang ingin dia lakukan dengan bibir Yuri. Tahu kalau dia memaksakan mencium Yuri lebih dalam, Yuri pasti akan mengigit sehingga dia hanya menyesap bibir Yuri saja, sementara satu tangannya dia gunakan untuk menahan kedua tangan Yuri yang sudah dia tahan di atas kepalanya.
Entah bagiamana menggambarkan perasaan Win, tapi pria itu terus saja terusik dengan perasaan tidak rela di tinggal begitu saja oleh Yuri sehingga dia memutuskan untuk membawa Yuri, lalu mencari jawaban dari rasa penasaran yang membingungkan itu.
"Kau pikir kau siapa?! Memang apa yang aku ambil dari mu sampai kau memperlakukan ku begini?!" Protes Yuri seketika dia mendapatkan kesempatan untuk bicara saat bibirnya terlepas dari bibir Win.
Win menatap Yuri dengan tatapan dingin, sejenak dia terdiam dan memikirkan ucapan Yuri. Benar, apa yang dia ambil sehingga dia harus menahan Yuri? Semua barang yang dia berikan kepada Yuri tak satupun Yuri bawa pergi. Jika memang karena masalah kekesalan dan dendam terhadap Martin, mungkinkah masih perlu untuknya melakukan ini? Martin sudah tidak perduli dengan Yuri, tapi kenapa dia masih tidak bisa membiarkan Yuri?
__ADS_1
Bersambung.