Why?

Why?
Menemui Farah


__ADS_3

Helena tersenyum menatap sosok yang sudah lama tidak dia lihat, sosok yang dulu begitu dekat dengannya, seolah tak bisa jika tidak bisa hidup tanpa Helena karena hampir setiap hari datang dan meminta bantuan Helena terutama masalah keuangan. Dia adalah, Farah.


"Kau datang untuk mengejek ku?" Farah menatap Helena dengan sorot matanya yang begitu menyudutkan, dia juga terlihat begitu putus asa dengan apa yang terjadi sehingga kesannya seperti menyalahkan Helena karena telah membuat dirinya sangat hancur sekali.


Helena menghela nafas, dia tersenyum sebab tatapan matanya yang tidak biasa. Mengejek? Tidak, dia tidak sedang ingin melakukan itu, dia datang karena ingin memberitahu bagaimana keadaan kedua orang tua Farah dan juga bagaimana tentang semua hal yang terjadi.


"Aku tidak pernah ingin mengejek, menertawakan apa yang sedang kau jalani, aku juga tidak ingin membuang waktu ku dengan percuma. Aku datang kemari untuk memberitahu padamu bahwa, sahabat baik mu, Melisa telah meninggal."


Farah membulatkan matanya, meninggal? Apa lagi ini? Padahal hanya karena ginjal Velerie saja semua orang bisa hancur seperti ini?


"Kau terlihat sangat terkejut artinya kau memang tidak mengetahui apapun. Bukan hanya Melisa saja, tapi putrinya juga meninggal karena komplikasi, keadaannya memburuk setelah menerima donor ginjal. Farah, sebenarnya aku hanya ingin memberitahu pada mu bahwa, semua yang kalian lakukan, semua yang kalian pikir akan dapat melindungi Denise dengan mengorbankan putriku, sehebat itu kalian bekerja sama, tapi kalian tetap tidak bisa melawan Tuhan. Apa kau pernah memikirkan begini? Andai saja Melisa tidak membunuh putriku, andai saja kau tidak mengangkat ginjal anak ku, andai saja Denise tidak mendapatkan donor ginjal, andai saja semua itu tidak terjadi, mungkin kau masih bisa tersenyum meski beban di pundak mu begitu berat. Aku terus bertanya, kenapa? Kenapa kalian melakukan itu? Kenapa kalian berbondong-bondong bekerja sama untuk mencurangi ku dan putri ku? Bukankah pada akhirnya kita semua kehilangan?"


Helena menatap Farah yang terlihat mulai terganggu, dia gelisah dan Helena benar-benar menikmati bagiamana Farah berekspresi.

__ADS_1


"Kau kehilangan kebebasan mu, saat kau keluar kau pun hanya hanya menunduk karena perasaan malu, kau kehilangan kakak perempuan mu yang masih memilih untuk mengasingkan diri hingga kini, dan menolak untuk menemui siapapun terlebih kau dan suaminya yang menjadi selingkuhan mu. Kau kehilangan banyak uang, kau kehilangan banyak hal, bahkan aku dengar Ibunya sudah sangat menderita karena sakitnya sementara anaknya yang lain tidak bisa melakukan banyak. Melisa kehilangan putrinya, kedua orang tua Melisa juga kehilangan putrinya, mereka hidup di penjara, kepala seolah juga mendapatkan sanksi hukum dan sosial, banyak lagi orang yang terlibat dan menderita."


Farah mengepalkan kedua tangannya, lalu membuat kedua tangannya saling menggenggam satu sama lain agar dia bisa menahan dirinya yang begitu tertekan dan merasa begitu bersalah serta perasaan takut yang tidak bisa dia elak.


"Farah, pada akhirnya kalian semua mendapatkan penderitaan yang sama bukan? Kalian merebut dunia ku, kalian membunuh anak ku, tapi pada akhirnya Tuhan memberikan hukuman dengan caranya sendiri."


Helena tersenyum tipis, sungguh dia tahu kalau apa yang dia lakukan sangat tidak penting, tapi dia ingin Farah mengetahui apa yang tejadi di luar sana, dan merasakan betapa besarnya akibat dari meremehkan kehidupan seseorang. Nyawa bukanlah hal yang sederhana, nyawa adalah sesuatu yang bahkan lebih berharga di banding hamparan kadang berlian. Penting untuk menghargai orang lain, penting untuk memahami jika sebuah kehidupan artinya sebuah dunia bagi orang yang di cintai dan mencintai nya. Walaupun memang sia-sia saja untuk orang yang tidak ingin memahami, namun seiring berjalannya waktu, orang juga akan menerima meski tanpa di beritahu atau di ingatkan.


Helena tersenyum, dia bangkit dari duduknya, meraih tasnya dan sebentar kembali menatap Farah sebelum dia benar-benar meninggalkan Farah di sana.


"Apa-apaan dia? Sudah tahu begitu banyak apa yang aku lakukan sejak dulu, kenapa baru mengungkit sekarang? Aku bahkan sudah lupa, tapi kau sengaja melakukannya? Kau pasti ingin aku tenggelam dalam rasa bersalah dan membenci apa yang pernah aku lakukan juga membenci diriku sendiri kan? Helena, sejak dulu hingga sekarang kau memang tidak pernah mempercayai apapun, kau hanya tidak perduli apapun kecuali tentang putri mu. Aku kesal karena kau bahkan tidak pernah menceritakan satu saja rahasia mu apalagi tentang suasana hati mu. Aku seperti bukan sahabat mu, dan aku kesal karena setiap waktu aku harus mengemis bantuan pada mu, aku kesal karena hanya aku yang membutuhkan mu, tapi kau sama sekali tidak melakukan sebaliknya." Gumam Farah, tubuhnya gemetar hebat karena ucapan Helena tadi benar-benar membuat Farah merasa membenci dunia ini, dia tidak nyaman dengan perasaan benci itu, namun ketika dia mencoba untuk mengelak, dia justru tertampar oleh kenyataan yang menyatakan jika dia adalah pelaku yang pantas mendapatkan hukuman dari Tuhan.


Di sisi lain.

__ADS_1


Airi, dia benar-benar tersenyum lebar melihat bagaimana putranya sudah bisa tengkurap dan membalikkan tubuhnya dengan mudah. Sekarang usianya sudah tujuh bulan, bahkan putranya juga sudah terlihat akan belajar merangkak. Untuk kalian yang lupa, Airi adalah Kakaknya Farah, suaminya pernah berselingkuh dengan Farah.


Hari ini adalah akhir pekan, karena dia tidak bekerja makanya dia bisa menjada putranya sendiri dan meminta pengasuh anaknya istirahat atau libur seperti kebiasaan akhir pekan sebelumnya. Tadinya Airi ingin pergi ke apartemen Helena, dia benar-benar merindukan Helena tapi karena Helena memberitahu bahwa dia akan pergi ke penjara untuk menemui Farah, dia batalkan niatnya dan karena lusa adalah hari libur alias tanggal merah, Airi akan datang di hati itu saja.


Suara ketukan pintu apartemen membuat Airi mengeryit bingung, siapa yang datang? Selama ini hanya ada tiga orang saja yaitu, pengasuh bayinya, tukang antar makanan, dan juga Helena. Apakah mungkin itu Helena? Dia langsung datang ke apartemennya setelah menemui Farah?


Airi bangkit dari duduknya, karena dia tidak nyaman meninggalkan putranya, Akti akhirnya memilih untuk membawa putranya lalu berjalan menuju pintu untuk membukanya.


"Lukas?"


Airi membulatkan matanya terkejut.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2