
Martin terdiam, dia memikirkan semua yang di ceritakan Helena kepadanya tentang Farah. Dia adalah Dokter yang merapihkan semua tentang Velerie, sampai Velerie benar-benar hanya tinggal di kebumikan saja. Kalau melihat catatan medis sehingga Velerie bisa meninggal adalah, tulang punggung yang patah, remuk menjadi berapa bagian hingga melukai jantung dan paru-paru, kepala yang membentur aspal sangat kuat membuat tengkoraknya pecah, mengalami pendarahan di bagian luar dan dalam, patah tulang kaki, juga kedua tangan, patah tulang leher. Jika benar yang mengemudikan mobil itu adalah orang mabuk, apakah mungkin orang mabuk bisa menginjak gas sekuat itu sehingga tubuh Velerie bisa begitu hancur?
Deg!
Martin menelan salivanya, jujur saja membayangkan, juga menduga sediri kalau orang yang menabrak Velerie pasti sudah merencanakan ini. Dia pasti tahu sampai dimana kecepatan yang bisa dia gunakan untuk membunuh seorang anak kecil hingga membuatnya tewas di beberapa detik, menit kemudian. Mungkin dia sengaja tapi juga tidak ingin membuat Velerie menderita lebih lama jadi sekuat tenaga dia menabrak agar Velerie tewas secepat mungkin dan tidak perlu merasakan sakit cukup lama. Ataukah, ada sesuatu keuntungan yang di dapatkan dari kematian Velerie?
Melihat Martin yang terdiam, seperti sedang berpikir keras, bahkan raut wajahnya terlihat takut dan gugup sendiri, Helena tentu saja merasa aneh.
" Apa yang sedang kau pikirkan? "
Martin tersentak, menatap Helena dan memaksakan senyumnya yang terlihat begitu jelas.
" Helena, apakah kau memiliki pembenci selama ini? "
Helena terdiam sebentar, lalu membuang nafasnya.
" Banyak! Mantan mertuaku sangat membenciku, juga membenci Velerie. Memang benar Velerie adalah cucu mereka juga, tapi kau tahu bagiamana keadaan Velerie ku saat aku tunjukan photo nya padamu bukan? Istri mantan suamiku, bahkan orang tuaku, kakakku, juga adikku sepertinya tidak menginginkan Velerie. Aku juga sudah menceritakan padamu betapa anehnya tingkah Farah bukan? Sekarang aku seperti merasa tidak ada satupun orang yang tidak membenci kami berdua. " Helena menahan tangisnya, matanya sudah merah dan berair, tapi dia masih terus mencoba untuk tidak menangis.
__ADS_1
Martin tersenyum dengan mimik jengah, bagaimanapun keadaan seorang anak apakah pantas untuk di benci? Hanya karena dia mengidap down syndrom apakah dia tidak layak untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang yang layak? Percayalah, anak yang memiliki keistimewaan itu adalah anak yang hatinya paling murni, memiliki cinta juga untuk orang yang mencintainya. Walaupun tidak bisa banyak berucap dan sehebat anak normal lainnya, yakinlah di dalam hatinya dia pasti menginginkan kebahagiaan untuk orang yang dia cintai, mendoakan yang terbaik lewat senyum indahnya.
" Jadi, mari kita gunakan unggahanmu untuk menyerang pihak-pihak yang berkomplot. Ini adalah awal, jadi tolong jangan banyak berharap untuk langsung mendapatkan pelaku utamanya. Percayalah tidak ada jalan buntu jika kita tetap yakin dan berusaha sekuat tenaga. " Ucap Martin menguatkan Helena, dan sungguh ucapan Martin cukup berguna karena pada akhirnya Helena tidak jadi menangis.
Setelah hari itu, unggahan yang di unggah Helena Semakin marak, memenuhi media sosial. Polisi yang mendapatkan banyak komplain pada akhirnya merasa tertekan juga, bahkan pagi ini ada banyak orang yang melakukan demonstrasi menuntut keadilan untuk Helena dan juga Velerie. Tahu apa yang lebih hebat lagi? Unggahan Helena di liput oleh salah satu media televisi yang pada akhirnya membuat berita itu semakin membesar dan akhirnya sampai juga ke telinga David dan keluarga.
" Dasar perempuan kurang kerjaan! Anak sudah mati ya biarkan saja, untuk apa mencari keadilan? Toh seharusnya dia bersyukur anaknya mati, jadi dia bisa menikah lagi dan tidak usah sibuk mengurusi anak yang cacat seperti itu. Bayangkan saja, kalau anaknya masih hidup, pria mana yang mau mendekati dia? " Gumam Ibunya David sat dia tak sengaja melihat berita itu, di sana juga ada Melisa yang hanya menanggapi dengan senyum miring penuh syukur karena hidupnya cukup tentram setelah tidak ada Velerie. Yah, kalau tahu akan sedamai ini, tentu saja dulu dia akan lebih sering mendoakan dan menyumpahi Velerie agar cepat mati.
" Ibu, kenapa bicara Ibu selalu saja keterlaluan? Velerie itu anakku, cucu Ibu juga. " Protes David yang baru saja keluar dari kamar Denise dan tak sengaja mendengar apa yang di katakan oleh Ibunya. Menyakitkan sekali, entah saat Velerie hidup dan setelah dia meninggal, David harus dan selalu saja mendengar Ibunya, kedua kakaknya, Melisa bahkan Denise juga sering kali mencela dan menghina Velerie.
Ibunya David membuang nafas, wajahnya terlihat jelas seolah menjelaskan benar bahwa Velerie memang sama sekali tak pernah dia anggap sebagai cucunya, jadi dia tidak merasa menyesal, pula tidak merasa sedih kehilangan Velerie dan apa yang sedang Helena perjuangkan saat ini.
David membuang nafas kasarnya, seperti biasa, mengatakan apapun kalau soal Velerie dia pasti akan kalah, apalagi kalau sudah dengan istrinya. Dia akan selalu saja membawa-bawa Denise, membuat David tak berdaya dan mau tak mau merasa kalau diam dan mengalah adalah pilihan hah terbaik.
" Terserah Ibu saja, sekarang aku minta tolong untuk menjaga Denise. "
" Kau mau kemana? " Tanya Melisa langsung bangkit dari duduknya, menatap David yang berbalik dan menatap dirinya.
__ADS_1
" Aku juga ingin ke kantor polisi, menanyakan langsung sampai di mana proses berjalan. Kalau memang begitu sulit untuk polisi mengungkap tentang ini, aku akan menyewa beberapa detektif, jadi akan mempermudah segalanya. "
Melisa ternganga dengan tatapan kesal.
" Beberapa Detektif? Kau mau membuang uang hanya untuk hal itu? Kau gila ya?! Denise membutuhkan banyak biaya untuk berobat kedepannya! "
David mengusap wajahnya menahan kesal.
" Aku masih bisa membiayai pengobatan Denise, menyewa beberapa Detektif mana mungkin akan membuat keuangan kita terpengaruh? "
" Jangan gila kau, David! Satu detektif saja bisa ratusan juta, kau mau membuang uang untuk orang yang sudah mati?! "
" Tutup mulutmu, Melisa! Orang yang kau maksud adalah anakku, darah dagingku! Anak pertama yang juga aku sayangi, sama seperti Denise! " David membelalak marah karena begitu tak terima dengan apa yang di katakan oleh istrinya itu.
Ibunya David kebingungan mau bagiamana, dan membela siapa. Di satu sisi dia juga tidak suka kalau putranya di bentak seperti tak memiliki harga diri, di lain sisi dia juga tidak enak kalau menyalahkan menantu yang sudah banyak membantu keluarganya.
" Cih! Hanya anak cacat saja, kalau kau merindukan anak cacat itu, kau bisa melihat penderita down syndrom lainnya kan? Bukankah wajah mereka sama dengan wajah putri pertama yang kau sayangi itu? " Melisa mencemooh dengan senyum dan tatapannya membuat David tak tahan melihatnya dan melayangkan tamparan ke wajah Melisa.
__ADS_1
Bersambung.