
"Fokus saja untuk anak kita, jangan berlebihan." Kalimat itu keluar dari bibir suaminya, dan meskipun kalimat itu terdengar biasa saja dan sederhana, nyatanya kalimat itu benar-benar membuat hati Ibunya Helena seperti tersayat tak beraturan.
"Helena memang bukan anak kita, tapi Helena adalah anak ku. Selama ini hanya demi menghormati mu, keluargamu, dan menjaga perasaan mu aku mengacuhkan Helena, aku mengikuti semua yang kau perintahkan padaku. Aku mengabaikan perasaan Helena, aku membutakan mataku saat Helena bersedih atau merasa iri dengan apa yang di miliki Kakak dan adiknya. Helena memang bukan anak kandungmu, tapi kau juga ingat benar bagiamana Helena begitu mematuhi apa yang kau katakan bukan? Sekarang dia dalam keadaan yang kacau, kau dan juga anak-anak justru menekan seolah Helena benar-benar tidak pernah ada. Kalian mengatakan itu, menyerang dengan ucapan apakah sengaja? Apa kalian sengaja memintaku banyak pikiran dan mati lebih cepat?"
Freya menghela nafasnya. Tentu saja bukan itu maksud nya. Dia hanya tidak ingin melihat Ibunya sedih dan tidak tenang sepanjang hari tapi kesalahan yang dia lakukan adalah, dia tidak mencoba menangkan Ibunya dengan cara yang benar.
Ibunya Helena bangkit dari duduknya menatao suaminya yang kini juga tengah menatapnya.
"Ini sudah cukup, aku sangat lelah sekali. Jika aku masih saja tidak cukup di mata mu, maka aku juga hanya bisa menyerah."
Pria itu menatap Ibunya Helena dengan dahi mengeryit dan tatapan tidak percaya, hatinya juga begitu kecewa dengan jawaban Ibunya Helena.
"Kau akan menyerah hanya karena Helena?" Suami Ibunya Helena benar-benar keheranan dengan jalan pikiran wanita yang sudah dia nikahi tiga puluh dua tahun lalu itu.
__ADS_1
Ibunya Helena tersenyum kelu, hanya karena Helena? Sebegitu tidak pentingkah Helena di keluarga ini? Padahal selama ini Helena tidak banyak menuntut, dia tidak pernah meminta terkecuali saat dia sudah tidak memiliki pilihan lain. Dia selalu mengatakan tidak apa-apa, aku baik-baik saja, baiklah, dengan bibir tersenyum tapi tatapan matanya begitu menjelaskan kalau dia sedang merasa sangat sedih dan hatinya sedang sakit.
"Aku sudah mengabdikan hidupku kepadamu, keluargamu, anak-anak kita. Aku pikir dengan cara itu aku bisa menebus kesalahan ku, dan membuat kalian menerima Helena. Tapi aku benar-benar melakukan hal yang sia-sia, hanya karena aku sangat mencintaimu, aku mengabaikan Helena dan menutup hati untuk menolaknya. Aku rasa ini sudah cukup, aku sudah melakukan apa yang aku bisa lakukan, toh anak-anak juga sudah dewasa, mereka bisa melakukan apapun sendiri. Aku harus menyerah dan mencoba untuk menghargai diri sendiri. Aku akan melepaskan kalian, aku akan mengalah dan mengakui ketidakmampuan ku menjadi sosok yang kalian inginkan."
Ibunya Helena bangkit dari posisinya, berjalan menuju kamarnya, sementara Suami dari Ibunya Helena benar-benar terdiam tak bisa berkata-kata. Selama ini dia memang masih belum melupakan apa yang terjadi di antara istrinya dan Tuan Feto, dia tidak bisa menerima pernyataan istrinya yang mengaku jika hanya melakukanya sekali saja. Melihat Helena sama artinya dengan membuat kenyataan itu terus hinggap di pikirannya. Dia juga sangat mencintai istrinya, dia terus mencoba untuk mempertahankan keluarga meski tak bisa di bohongi kalau dia merasa begitu sakit, tapi dia juga tidak siap dengan rasa sakit kehilangan istrinya yang pasti akan menjadi berkali lipat dari apa yang dia rasakan saat itu.
Kedua kakaknya Helena juga terdiam, sebentar saling menatap dengan mimik menyesal telah mengatakan kalimat yang seharusnya tidak mereka ucapkan. Sebenarnya mereka bukan hanya sekedar benci saja dengan Helena, mereka merasa Helena terlihat hidup dengan berkecukupan sementara mereka begitu sulit walau hanya untuk makan saja. Terlebih kakak laki-lakinya Helena, hingga kini dia masih menganggur dan kebutuhan harian hanya bisa mengandalkan istrinya yang bekerja di salah satu perusahaan makanan instan.
Di sisi lain.
Tuan Feto tersenyum meski rasanya dia amat sedih melihat Melisa yang sangat pucat, kurus, dan terlihat begitu tidak bertenaga. Dia ingin berbohong demi menyenangkan putrinya, tapi kalau dia melakukan itu, sudah jelas yang akan terjadi adalah Melisa semakin terkejut dan syok karena Ibunya selalu datang dan mengatakan apapun yang terjadi di luar terutama tentang Tuan Feto dan juga Helena.
"Melisa, kalau bukan sekarang, maka nanti pada akhirnya kami akan menyusul mu ke tempat ini. Kami hanya tinggal menunggu waktu saja, ingat Melisa! Kebenaran akan tetap terkuak apalagi seorang Martin di tambah Helena adalah orang-orang yang sangat gigih mencari kebenaran, mereka juga hebat. Ayah tahu hati mu pasti terluka, tapi apakah ada Ayah tidak memikirkan mu? Kau tahu seberapa besar perasaan sayang Ayah pada mu kan? Ayah tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa memikirkan mu."
__ADS_1
Melisa tak lagi ingin memprotes Ayahnya, tentu saja bagiamana pun kondisinya, Tuan Feto adalah Ayah yang baik dan Ayah yang selalu memiliki niatan untuk melindungi putrinya bahkan sampai titik darah penghabisan.
"Melisa, masalah harta Ayah bukannya tidak memikirkan mu. Ayah minta maaf sekali, Ayah tidak tahu lagi bagiamana mengeluarkan mu dari sini. Kau," Tuan Feto tak sanggup lagi melanjutkan apa yang ingin dia katakan.
"Ayah, aku tahu, jangan menyalahkan diri sendiri. Apapun yang akan di usahakan, hukum di negara ini tidak bisa kita salahi lagi kan? Aku baik-baik saja tanpa harta itu Ayah, sejak kehilangan Denise aku sadar benar bahwa tidak ada yang berharga lagi, aku juga sudah tidak menginginkan apapun lagi. Aku selama ini hanya tahu membuat Ayah pusing, juga membuat Ibu kesal. Sekarang apapun keputusan kalian berdua, aku akan mendoakan supaya Ayah dan Ibu mendapatkan yang terbaik, dan juga selalu bahagia."
Tuan Feto mengangguk dengan tatapan matanya yang terlihat begitu kelu. Tentu saja dia masih tidak tega dan tidak rela melihat bagaimana keadaan putrinya, tapi semoga saja putrinya tetap tegar dan kuat, suatu hari nanti jika mereka memiliki usia yang panjang, Tuan Feto berharap masih bisa melihat kedua putrinya dalam keadaan baik-baik saja.
Tuan Feto bangkit dari duduknya, menggenggam erat tangan Melisa dan menatapnya sedih.
"Melisa, kau tumbuh besar di dekat Ayah, kau menjadi gadis yang cantik, proses itu adalah hal yang paling membahagiakan untuk Ayah. Terimakasih telah lahir menjadi putri Ayah, terimakasih telah memberikan warna dalam hidup Ayah. Semoga Ayah masih memiliki satu untuk menemuimu lagi, jaga diri mu baik-baik nak."
Melisa menangis tapa suara, perlahan melepaskan tangan Ayahnya sembari berdoa di dalam hati untuk keselamatan Ayahnya.
__ADS_1
Bersambung.