Why?

Why?
Luka Lebam


__ADS_3

Martin tersenyum menatap Helena yang sejak tadi terlihat sebal padanya, yah mungkin karena Martin mencuri kesempatan untuk mencium Helena sebelumnya. Tapi untung saja ada Sofia yang mengalihkan jadi Helena tidak terlalu bisa memperlihatkan kalau dia kesal.


"Ibu, wajah Ibu banyak lebam itu pasti sakit kan?" Tanya Sofia dengan tatapan sedih, cara bicaranya juga tidak sejelas itu (Maafkan othor yang tidak bisa menulis kalimat cadel khas anak anak ya...)


Helena menggelengkan kepalanya, tersenyum agar Sofia tidak merasa takut atau apapun yang akan membuatnya sedih.


"Ini hanya karena Ibu tidak sengaja jatuh, luka seperti ini tidak sakit kok." Ujar Helena yang sebenarnya merasakan benar bagiamana punggungnya perih, pergelangan tangannya, juga pergelangan kaki. Belum lagi perut yang di pukul, atau di tinju Tian Feto Maia menyisahkan rasa sakit, tamparan kuat dari Tuan Feto juga membuat telinganya berdengung tapi untunglah dia masih bisa mendengar meski memang merasa agak terganggu karena berdengung.


"Ibu, nanti kalau aku besar aku akan jaga Ibu baik-baik ya? Sekarang Ibu harus istirahat, aku akan duduk diam dan menjaga Ibu bersama Ayah."


Helena tersenyum dengan tatapan haru, andai saja dia bisa menggendong anak kecil yang sebentar lagi berusia empat tahun itu, dia pasti akan merasa lebih baik bukan? Sayang sekali, tubuhnya benar-benar lemas dan terasa begitu sakit dari ujung kepala hingga ke ujung kakinya.


"Sofia, apa tidak apa-apa Sofia tidur di sini?" Tanya Helena kepada Martin.


Martin tersenyum, lalu mengangguk. Tentu saja tidak masalah, toh memang Sofia sendiri yang menginginkannya. Kamar kelas satu itu memiliki sofa, dan juga tempat tidur khusus untuk kerabat yang berjaga jadi benar-benar tidak masalah sekali.


"Ibu, apa lebamnya ada di bagian lain?" Tanya Sofia yang sepertinya sejak tadi kedua bola matanya tak henti memperhatikan Helena.


Tentu saja Helena tidak mungkin mengatakan yah sebenarnya, dia terus mencoba untuk membuat Sofia yang manja dan juga manis itu tidak khawatir.


"Tidak ada sayang, sungguh! Lebam seperti ini tidak sakit, jadi berhenti mengkhawatirkan Ibu ya?"


Sofia terlihat sedih dan diam sebentar sebelum kembali berucap.

__ADS_1


"Waktu itu Ayah Win mencubit tanganku, hanya lebam sedikit tapi rasanya sakit sekali. Lebam di wajah Ibu kan banyak, pasti sakit lebih sakit kan?"


Martin dan juga Helena saling menatap dengan terkejut. Selama ini Martin memang tidak pernah menanyakan apapun kepada Sofia karena tidak ingin membuat Sofia mengingat Ibunya dan terus menangis mencari Ibunya. Martin juga pernah merasa begitu bersyukur karena Sofia memang anak yang amanat patuh padahal seharusnya Sofia masih dalam tahap suka berdebat bukan?


"Ayah Win? Maksudnya, kenapa Ayah Win mencubit Sofia? Sofia membuat Ayah Win marah?" Tanya Helena yang ingin memastikan, dan kalau sampai dugaannya benar, maka Helena bersumpah tidak akan pernah tinggal diam melihat anak lain mengalai ketidak adilan, kekerasan seperti yang pernah di alami putrinya.


Sofia mengangguk.


"Setiap malam aku butuh Ibu untuk tidur, Ayah Win marah dan mencubit, kadang memukul. Ibu juga sering memukul kalau sedang bertengkar dengan Ayah Win." Jawab Sofia dengan wajah polosnya yang terlihat tak begitu menunjukkan apa yang seharusnya dia tunjukan melalui ekspresinya.


Martin benar-benar hanya bisa terkejut kesal, marah, rasanya ingin sekali memukuli mantan istri dan suami barunya itu. Bagiamana pun Sofia masih terlalu kecil, dan dia juga tidak berhak di perlakukan seperti itu bukan? Martin memang seorang pria yang payah bagi manta istrinya karena tak bisa menyuguhkan kemewahan seperti yang diberikan suaminya yang sekarang. Tapi, dia bukanlah Ayah yang buruk semacam itu, dia tidak akan tinggal diam, dia pasti akan memberikan pelajaran kepada dua orang itu.


"Sofia, selain mencubit dan memukul, apa lagi yang pernah mereka lakukan?" Tanya Helena yang masih ingin tahu.


Martin bangkit dengan wajahnya yang sudah memerah menahan marah.


"Martin! Tetaplah tenang, semua sudah berlalu, dia baik-baik saja di tanganmu bukan? Kau unggul, kau menang Karen pada akhirnya Sofia bersama mu, dan kau akan menjadi pemenang sesungguhnya saat kau tidak melakukan apa yang mereka lakukan." Ucapan Helena barusan benar-benar menyadarkan Martin, dia mulai mencoba untuk tenang dan sebisa mungkin untuk tidak menunjukan kemarahan terutama di hadapan Sofia. Sudah cukup dia merasa tertekan saat tinggal bersama Ibu dan Ayah tirinya, dia benar-benar tidak akan merusak mental anaknya.


"Percayalah padaku, suatu hari dia akan menyesal karena membuang keluarganya untuk sesuatu yang berharga tapi nyatanya dia tidak di hargai sama sekali. Saat itulah penyiksaan yah sesungguhnya, kau hanya perlu melakukan yang terbaik sebagai seorang Ayah."


Martin membuang nafasnya, mengangguk dan tersenyum.


"Iya benar, aku harus melakukan yang terbaik sebagai seorang Ayah. Jangan lupa kau juga harus melakukan hal yang sama karena kau adalah Ibunya Sofia."

__ADS_1


Helena membuang wajahnya, membuat Martin terkekeh sendiri.


Helena, maaf sekali karena apapun caranya aku hanya akan menyeret mu masuk ke dalam kehidupan kami.


Di sisi lain.


"Gila! Kau gila, benar-benar gila, Feto!" Ibunya Melisa melemparkan semua barang yang ada di meja kerja milik Tuan Feto, juga menghamburkan kembaran kertas yang entah apa isinya.


Tuan Feto yang sedang duduk hanya bisa menghela nafas, membiarkan semua barang di mejanya hancur berantakan. Tentu saja begini reaksi istrinya kalau mengetahui jika delapan puluh persen aset milik Tuan Feto di alihkan kepada Helena, dan jika Helena menolak maka otomatis akan menjadi milik anak yang di lahirkan Helena nanti.


"Bajingan! Kau anggap apa aku, dan anak kita hah?! Dia sedang kesulitan di penjara, tapi kau justru mengkhianatinya?! Kau Ayah yang kejam!"


Tuan Feto masih memilih untuk diam, Ayah yang kejam? Selalu saja seperti ini, dan karena ucapan itulah dia selalu melakukan apa yang di katakan istrinya hanya demi menunjukan kalau dia bukanlah Ayah yang kejam.


"Sekarang ubah kembali surat kuasa itu, ubah! Kembalikan semuanya atau ubah menjadi milik Melisa, putri sah kita!"


Tuan Feto menatap istrinya yang masih terlihat begitu tak bisa menahan kemarahannya. Sebenarnya dia sedang tidak ingin berdebat karena ingin melanjutkan melihat photo Helena dan memperhatikan satu persatu, tapi istrinya terus saja menuntut ini dan itu jelas tidak akan berakhir jika Tuan Feto masih memilih untuk diam bukan?


"Jawabanku adalah, tidak. Aku tidak akan melakukan apa yang kau katakan."


Ibunya Melisa benar-benar tidak habis pikir, sebegitu pentingkah Helena di banding Melisa?


"Kalau begitu, aku akan pastikan Helena lenyap malam ini!"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2