Why?

Why?
Sebuah Tindakan


__ADS_3

Ibunya Melisa menatap suaminya yang lagi-lagi terlihat begitu tertekan dan merasa bersalah. Memang kenapa kalau yang di katakan itu benar? Helena hanyalah anak yang tidak sengaja di lahirkan karena kesalahan, tentu saja Helena tidak memiliki arti seperti Melisa dan kakaknya. Ibunya Helena hanya melahirkan satu anak saja, sedangkan dia melahirkan Melisa dan kakaknya, jadi wajar saja jika Melisa yang di nomor satukan, di tambah Melisa juga anak sah mereka yang sudah di tunggu kehadirannya selama beberapa tahun menikah.


"Jangan sok baik, Feto. Anak itu hanyalah anak haram mu yang tidak penting, memang kenapa dan apa hebatnya? Toh dia adalah benalu di hidup kita bukan? Sekarang semua sudah seperti ini, kau pikir kita bisa apa? Sebentar lagi kita akan di penjara kalau tidak cepat bergerak dan menghapus semua buktinya."


Tuan Feto mengusap wajahnya dengan kasar, tidak! Kali ini dia benar-benar tidak akan melakukan hal itu.


"Tidak, aku tidak akan melakukan apapun."


Ibunya Melisa menatap Tuan Feto dengan tatapan marah. Tidak melakukan apapun?


"Maksudnya kau akan diam saja sampai kita di penjara?!"


Tuan Feto tak menjawab, dia justru mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang dan memintanya untuk membawa dua orang yang menculik Helena untuk di bawa pergi berobat. Setelah itu Tuan Feto memutuskan untuk turun dan mencari tahu bagaimana keadaan Helena sekarang. Entah akan di terima atau tidak, tapi dia benar-benar mengkhawatirkan keadaan Helena.


Tidak perlu repot mencari tahu di mana kamar Helena, Tuan Feto hanya butuh menghubungi seseorang dan dia bisa tahu di mana Helena berada, semua itu karena sejak satu Minggu yang lalu rumah sakit yang dia gunakan untuk menyekap Helena telah resmi dia beli.

__ADS_1


Sesampainya di sana, Tuan Feto benar-benar hanya bisa menahan perasaan di mana dia harus melihat tatapan Martin yang terlihat ingin membunuhnya, juga Ibunya Helena yang begitu enggan melihat ke arahnya.


"Bagaimana keadaan Helena?" Tanya Tuan Feto.


Ibunya Helena memilih untuk diam karena dia benar-benar tidak tahu bagaimana mengahadapi pria yang telah memberikan banyak luka kepada putrinya.


"Dokter sedang memeriksa." Ucap Martin, sebenarnya dia benar-benar malas sekali untuk menjawab, tapi etika yang dia miliki mendorong nya untuk menjawab pertanyaan dari Tuan Feto.


Tuan Feto memilih untuk dia dan menunggu saja sampai Dokter keluar dari sana.


"Pasien mengalami dehidrasi yang cukup parah, luka bakar di punggung dan bagian lain juga mengalami infeksi. Mungkin butuh waktu yang cukup lama untuk benar-benar pulih."


"Lakukan yang terbaik, hubungi para Dokter untuk membantu supaya cepat pulih. Pastikan juga lukanya tidak meninggalkan bekas." Ucap Tuan Feto yang segera di angguki oleh Dokter itu.


Martin benar-benar hanya bisa tersenyum mengejek melihat bagaimana Tuan Feto begitu berubah sikap kepada Helena. Lantas kenapa jika memang dia putrinya Tuan Feto? Bahkan Martin pun yakin benar Tuan Feto dan Helena tidak akan mungkin bisa memiliki hubungan yang baik.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Tuan Feto mendatangi Dokter untuk memastikan benar bagaimana keadaan Helena, lalu dia meminta tolong kepada Dokter yang menangani untuk mengambil sampel darah Helena. Bukan masih meragukan Helena, tapi dia ingin Helena benar-benar terbukti adalah darah dagingnya, karena ada banyak hal yang harus di urus setelahnya.


Tuan Feto kini memilih untuk kembali ke rumah, begitu sampai di rumah dia benar-benar mengabaikan istrinya yang terus bertanya dengan histeris dan memprotes semua tindakan Tuan Feto terhadap Helena. Tuan Feto langsung masuk ke ruang kerja pribadinya dan mengunci pintu rapat-rapat.


"Melisa, Ayah sudah menjadi Ayah yang kau inginkan selama ini. Sekarang biarkan Ayah melakukan hal yang sama untuk Helena, tolong jangan terlalu membenci Ayah ataupun Helena. Ayah harap di sisa hidup Ayah ini bisa Ayah gunakan dengan baik dan mati tanpa berbekal penyesalan." Tuan Feto menatap sebuah photo keluarganya, dia benar-benar merasa sedih karena keluarganya berakhir seperti sekarang ini. Anak laki-lakinya meninggal lebih dulu, Melisa di penjara karena kesalahannya sebagai orang tua telah memanjakan Melisa. Sekarang dia memiliki Helena sebagai darah dagingnya, hanya dia yang tersisa jadi Tuan Feto benar-benar tidak akan melewatkan apapun sekarang.


Setelah selesai dengan segala urusannya, Tuan Feto keluar dari ruang kerjanya dan sudah di sambut oleh istrinya dengan mimik marah yang begitu terlihat jelas.


"Hebat, hebat sekali kau, Feto! Kau mengabaikan ku dan membuatku berdiri berjam-jam disini menunggumu keluar? Hanya karena kau tahu wanita itu adalah anak mu juga kau sampai memperlakukan aku begini? Sungguh aku benar-benar tidak habis pikir dengan mu! Dia hanyalah anak haram, apa pentingnya dia di banding Melisa?! Lebih baik kau pikirkan bagaimana kita akan mencari jalan keluar untuk masalah kita, dan kau juga harus memikirkan bagaimana caranya mengeluarkan anak kita dari dalam penjara!"


Tuan Feto tak bicara sama sekali, sejak Melisa masuk ke dalam penjara jelas dia sama sekali tak bisa memiliki kesempatan untuk mengeluarkan Melisa. Sekarang keadaannya juga sudah berubah, dia yang sejak Melisa di penjara lalu Denise meninggal, semua sangat kacau karena kehilangan semua pewaris keluarga. Dia sempat putus asa lalu melampiaskan semua itu kepada Helena, tapi nyatanya Helena adalah putri kandungnya juga, jadi dia bisa sedikit tenang karena setidaknya dia memiliki keturunan dalam keluarga.


Di rumah sakit.


Martin menggenggam tangan Helena, terus menatapnya sembari berdoa agar Helena cepat pulih dan kembali seperti sebelumnya, atau akan lebih baik jika Helena menjadi lebih baik dari pada sebelumnya. Ibunya Helena juga masih berada di sana, menangis tanpa suara menyesali apa yang terjadi.

__ADS_1


Sejak kecil dia menyadari benar bagiamana Helena begitu berbeda dengan kakak kakaknya yang sangat suka bicara dan bertengkar karena memperebutkan mainan atau bahkan makanan. Helena hanya akan diam, melihat saja dan menjauh tanpa bicara. Setelah melahirkan Helena dia tidak bekerja sama sekali karena mertuanya sudah tidak mau membantu untuk menjaga anaknya. Hari demi hari hanya bisa dia lewati dengan pasrah apalagi tak lama hamil Kath. Helena sering mendapatkan ketidak adilan, itu semua karena suaminya yang tidak ingin menafkahi Helena, dia juga sama sekali tak memperhatikan Helena, mendiamkan saja Helena terserah dia akan melakukan apa. Ibunya Helena hanya bisa diam-diam melakukan sesuatu untuk Helena, mulai dari bekal makan yang berbeda dan lainnya yang bisa dia lakukan, tapi nyatanya Helena masih tak bisa merasakannya.


Bersambung.


__ADS_2