
Helena dan Sofia kini berada di halaman rumah yang di gunakan Martin juga kawan-kawannya untuk di jadikan firma hukum. Helena benar-benar inga bagaimana perasaannya saat pertama kali datang ke sana, cukup menyeramkan karena bangunan itu seperti bangunan tua. Tapi sekarang, bangunan itu tampak hebat dan juga mahal berkat kerja keras mereka semua. Helena merasa kesedihan yang dia alami bermanfaat untuk orang lain, karena sejak menangani kasus Helena, firma hukum yang hampir tidak di kenal masyarakat kini masuk ke jajaran favorit di mana jelas keuangan mereka membaik dan semakin baik setiap harinya.
"Helena?"
Helena membalikkan badannya begitu mendengar namanya di sebut, dan suara itu benar-benar tidak asing di telinganya.
"Ibu?"
Helena menatap Ibunya yang sepertinya benar-benar tidak sengaja bertemu dengannya di sana.
"Ada apa? Kenapa Ibu datang kemari?"
Ibu Helena terdiam sebentar, dia terus memperhatikan wajah Helena dan bersyukur sekali karena pada akhirnya Helena terlihat baik sekarang.
"Ibu, Ibu memutuskan untuk bercerai."
Beberapa saat kemudian.
Ibunya Helena dan Helena sendiri juga ada Sofia, kini tenga berada di sebuah kafe yang letaknya tak jauh dari tempat kerja Martin.
__ADS_1
"Kenapa Ibu memutuskan untuk bercerai?" Tanya Helena yang bisa dengan jelas mengingat bagaimana Ibunya benar-benar terlihat sangat mencintai suaminya, bahkan tidak pernah memperdulikan bagaimana perasaannya asalkan itu keinginan suaminya, dia akan dengan segera memenuhi apa yah di katakan suaminya.
Ibunya Helena membuang nafas, laku tersenyum setelahnya.
"Usia Ibu sudah tidak muda lagi, Helena. Ibu tidak menginginkan apapun lagi kecuali memuliakan diri Ibu sendiri. Ibu ingin di sisi akhir hidup Ibu bisa menjalani hidup yang sehat mental, juga bisa sedikit berguna untukmu."
Helena terdiam menatap Ibunya yang terlihat seperti sudah menahan lelah cukup lama, Ibunya terlihat sedih tali juga terlihat lega. Helena mencengkram tas miliknya yang dia pangku sejak tadi. Sebenarnya kalau mengingat bagiamana Ibunya terus meminta untuk tidak merawat Velerie dan bagaimana Ibunya terlihat tidak menyukai Velerie, Helena masih menyimpan kebencian untuk Ibunya. Tapi untuk apa lagi dia terus membiarkan kebencian hinggap di hatinya?
"Helena, Ibu tahu Ibu sudah banyak sekali melakukan kesalahan. Ibu juga ingat benar bagiamana Ibu menolak untuk merawat Erie, dan meminta mu untuk tidak mengurus Erie, menitipkan Erie di panti asuhan saja. Percaya atau tidak, waktu itu Ibu hanya memikirkan kondisi mu saja, Helen. Kau adalah seorang janda di usia muda, kau sudah amat menderita karena Ibu dan keluarga mu, Ibu tidak sanggup membayangkan kau akan terus menderita makanya Ibu ingin kau fokus dengan diri mu sendiri. Ibu pikir jika kau memiliki tempat tinggal sendiri, memiliki tabungan sendiri dan memiliki keluarga sendiri, Ibu akan lega dan tidak mati membawa penyesalan. Tapi sekarang Ibu benar-benar sadar betapa Ibu sangat egois dan arogan karena terus memaksakan demi memenuhi harapan Ibu."
Helena tak mengatakan apapun untuk menanggapi ucapan Ibunya. Dia benar-benar membatin heran tapi juga sedih karena ternyata Ibunya bisa mengetahui apa yang sedang Helena pikirkan tanpa Helena mengatakannya?
Helena menatap Ibunya, bagaimana bisa selama ini Helena tak melihat sulitnya menjadi Ibunya? Sekarang melihat Ibunya yang sudah melangkah sejauh ini hingga mantap meninggalkan pria yang memberikannya tiga orang anak, pria yang selama ini dia cintai hingga mengorbankan perasaannya sendiri, rasanya Helena sudah tak memiliki alasan lagi untuk tidak membuka hatinya, menerima Ibunya dan mencoba perlahan memiliki hubungan yang baik dengan Ibunya.
Helena tersenyum menatap Ibunya, mengangguk membuat Ibunya benar-benar bisa menghela nafas lega dan menangis bahagia.
"Ibu, mari berhenti membahas tentang masa lalu apa lagi tentang maaf memaafkan. Aku ingin memulai kembali hidup ini dengan lebih baik, aku berharap perubahan di dalam hidupku juga akan di rasakan oleh Ibu."
Ibunya Helena meraih tangan Helena, menggenggamnya dan tersenyum bahagia. Iya, masa yang canggung ini tidak akan berlangsung lama, dia akan berusaha sebaik mungkin menjadi seorang Ibu yang baik, juga akan siap menerima apapun keadaan Helena. Jika nanti memang Helena kembali menikah dan memiliki anak, bagaimanapun keadaan anaknya dia akan mencintai anak Helena dengan sepenuh hati.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, anak manis ini siapa?" Tanya Ibunya Helena seraya menatap Sofia.
"Namanya Sofia, dia anaknya Martin dengan mantan istrinya."
Ibunya Helena menatap Helena, lalu mengeryit melihat kedekatan Helena dan Sofia yang bagaikan Ibu dan anak.
"Ibu, apa kita tidak jadi belanja?"
Pertanyaan Sofia barusan benar-benar membuat Ibunya Helena bahagia. Ibu? Yah, setidaknya Sofia bisa membuat Helena tak begitu terus memikirkan Velerie, dan hubungannya dengan Martin sepertinya juga berjalan baik.
Bagus Helena, hiduplah dengan baik dan biarkan Ibu melihat kau bahagia dengan jalan hidup yang kau pilih. Apapun yang akan kau lakukan di masa depan, percayalah Ibu hanya akan mendukung mu, dan Ibu berjanji akan membantu mu bagaimanapun caranya.
Di sisi lain.
"Brengsek, kenapa aku harus berada di tempat ini?! Kalian semua tidak boleh melakukan ini padaku, cepat keluarkan aku dari sini! Kalian tidak tahu siapa suamiku hah?! Dia adalah Feto! Dia adalah pria yang hebat, dan kalau kalian macam-macam, maka dia akan membuat kalian mendapatkan hukuman!" Seperti itulah yang sering di ucapkan oleh Ibunya Melisa selama dia di hukum kurungan seumur hidup. Dia masih saja tak mengingat apa saja perbuatan yang telah dia lakukan, juga masih saja mengancam siapapun agar di lepaskan.
"Diam lah! Siapa yang perduli suami mu itu siapa? Kau di dalam sini dengan hukuman seumur hidup kau pikir bisa dengan mudah melepaskan mu? Kau hanya bisa diam menunggu saja waktu mu habis, tidak akan ada yang datang untuk membebaskan mu!" Ucap Tahanan lain yang tidak tahan dengan suara Ibunya Melisa. Dia terlalu sering berteriak dan menyumpahi orang lain padahal sudah jelas apa yang dia katakan tidak akan di dengarkan oleh orang yang bersangkutan.
Ibunya Melisa terdiam sebentar, ya dia mulai ingat bahwa dia telah mendapatkan hukuman sumur hidup seperti yang di dapatkan oleh putrinya. Sekarang dia benar-benar tidak bisa berbuat apapun lagi, suaminya juga di penjara, putrinya juga penjara, putranya sudah tiada, cucunya juga sudah tiada. Di dalam hati dia benar-benar meratapi semua yang terjadi kepada anggota keluarganya, padahal dia pikir dia dan keluarganya akan hidup bahagia hingga akhir nanti.
__ADS_1
Bersambung.