Why?

Why?
Rasa Yang Tidak Pantas


__ADS_3

Martin sudah mengetuk beberapa kali, tapi masih juga tak di buatkan pintu hingga Helena ikut mengetuk pintu karena kesal padahal dia sudah benar-benar lelah sekali.


Melihat ada penghuni sebelah yang keluar dari apartemen, segera Martin menghentikan untuk bertanya kepadanya.


"Tuan, maaf mengganggu!" Martin dengan segera berjalan mendekati orang itu.


"Anda tahu apakah orang di sebelah anda ada di dalam?" Tanya Martin.


"Sepertinya ada, tapi dia memang jarang sekali keluar. Belum lama juga ada tamu, dia memang jarang keluar, jadi aku yakin pasti ada di dalam."


Martin tersenyum, mengangguk paham dan mengucapkan terimakasih sebelum pria itu meninggalkan dirinya karena harus melakukan sesuatu.


"Bagaimana?" Tanya Helena.


"Dia bilang pasti ada di dalam, tapi ini aneh sekali karena dia tidak mau membuka pintunya."


Martin membuang nafas kasarnya, dia mengatakan satu tangan untuk menyentuh handle pintu, satu lagi terangkat untuk mengetuk pintunya. Tapi saat satu tangan yang menyentuh handle pintu tak sengaja tertekan, membuat pintu itu terbuka.


Martin dan Helena saling menatap kenapa begini? Mereka memutuskan untuk masuk ke dalam meski agak ragu. Tapi begitu dia sampai ke ruang tamu, dia benar-benar di buat terkejut karena keadaan guru SLB itu benar-benar tidak biasa.


"Ah.....!" Pekik Helena yang begitu terkejut, tentu saja dia akan sangat terkejut karena ternyata guru SLB itu berada di dalam posisi duduk, mulutnya mengeluarkan sejenis cairan yang hampir mirip dengan busa, matanya terbuka lebar, tapi jelas sekali kalau wanita itu sudah tiada.


Martin dengan segera membalikkan tubuh anaknya sejajar dengan punggungnya, meraih lengan Helena, membuatnya berbalik badan karena melihat lebih lama juga tidak akan bagus untuk Helena.

__ADS_1


"Sepertinya dia berusaha mendahului kita, dia pasti sudah menggeledah apartemen ini, jadi kita keluar saja cepat, aku akan hubungi polisi setempat." Ucap Martin lalu membawa Sofia dan Helena menjauh dari sana, keluar dari apartemen milik guru SLB.


Martin meminta Helena untuk diam dan duduk di luar bersama dengan Sofia yang tentu saja tidak ragu untuk berada di pangkuan Helena meski saat itu Helena memang benar-benar terlihat sangat syok dan terkejut sekali.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Walaupun ini terdengar jahat, tapi aku yakin akan mendapatkan satu jalan yang mudah untuk kita." Martin menatap Helena dengan posisinya yang tengah bersimpuh dengan satu lutut yang menahan tubuhnya.


Helena tentu tak bisa mengatakan apapun, dia bingung sekaligus terkejut dengan apa yang dia lihat tadi. Ini pasti tidak benar bukan? Kenapa tiba-tiba guru SLB itu meninggal di saat dia baru saja menyatakan kesiapannya untuk bersaksi di pengadilan, dan siap untuk menemuinya? Kenapa?


Tak tahan lagi, Helena benar-benar bingung dan terus bertanya hingga dia menangis, dan karena ada Sofia makanya dia benar-benar harus menjaga suara Isak tangisnya. Sebenarnya kenapa semua begitu rumit? Kepalanya terus menerus disisi dengan pertanyaan, kenapa, kenapa kenapa, tapi sial karena dia sama sekali tidak mendapatkan jawabannya hingga kini.


Beberapa saat kemudian.


Martin kini tengah sibuk berbicara dengan polisi menjelaskan bagaimana kronologinya hingga dia menemukan Guru SLB dengan kondisi tewas. Untunglah ada beberapa saksi dan juga rekaman kamera pengawas yang menjelaskan pukul berapa mereka sampai ke gedung apartemen sekaligus jam berapa Martin dan Helena masuk kedalam sehingga waktunya benar-benar menolong mereka. Kalau saja mereka datang satu atau dua jam lebih cepat, pasti mereka akan di tuduh sebagai penyebab kematian guru SLB itu.


"Maaf karena butuh waktu lama, kau pasti sangat lelah dan sangat terkejut. Untuk sementara aku dan kau harus stand by seandainya Mereke membutuhkan keterangan kita. Aku sengaja meminta mereka untuk tidak bertanya padamu dulu, melihat kondisi mu kau pasti sedang sangat kacau."


Helena menatap Martin, matanya yang masih sembab itu seolah mengatakan kepada Martin bahwa dia benar-benar tidak menerima kenyataan itu dengan baik, dia bingung, dia tidak tahu harus bagaimana, dia tidak tahu harus mengatakan apa karena semua ini terjadi begitu cepat di luar prediksinya.


Segera Martin bangkit dari posisinya, mendekatkan dirinya untuk lebih dekat dengan Helena, lalu membawa Helena yang masih memangku Sofia ke dalam pelukannya.


"Percayalah padaku, semua akan baik-baik. Aku memiliki cara yang lebih ampuh untuk menyelesaikan misi kita. Tenanglah, semua akan baik-baik saja, semua akan berjalan seperti yang seharusnya, kau hanya tidak boleh menyerah, aku akan berada di sampingmu, membantumu semampuku, atau bahkan mampu tidak mampu aku akan melakukannya."


Helena sebenarnya ingin menjauhkan tubuhnya dari Martin, tapi ucapan Martin, kalimat yang begitu terdengar menguatkan dan membuat dirinya sadar benar bahwa dia memiliki seseorang yang selalu mendukungnya, Helena jadi tak bisa menolak bagiamana Martin memperlakukannya saat itu. Tahu, sungguh dia tahu di saat seperti ini dia tidak seharusnya merasakan perasaan aneh hingga jantungnya berdegup kencang, tapi ini benar-benar di luar kendalinya.

__ADS_1


"Martin?"


"Hem?"


"Apa kau selalu seperti ini tehadap semua klien mu?"


Martin berdehem mengusir kegugupan yang tiba-tiba saja dia rasakan, dia menolak untuk menatap mata Helena karena ia merasa malu untuk melakukannya.


"Tidak, maaf kalau aku terlalu lancang padamu. Aku hanya tidak tahu kenapa aku selalu ingin menghibur mu, melihat senyum di bibirmu yang akan membuat wajahmu terlihat semakin cantik."


Helena tersenyum tipis, entah benar atau tidak apa yang di ucapkan Martin, tapi Helena benar-benar merasa senang mendengarnya.


"Oh iya, kau mau menghadiri pemakaman guru SLB besok? Kalau mau kita bisa tinggal di hotel yang tidak jauh dari rumah orang tuanya. Jenazah guru SLB akan di makamkan siang besok setelah pihak rumah sakit selesai autopsi guna mencari penyebab kematiannya."


Helena mengangguk setuju membuat Martin tersenyum lega. Setidaknya Helena tidak terus memikirkan masalah kematian guru SLB, meskipun terdengar jahat, tapi Martin akan benar-benar memanfaatkan kematian guru SLB sebagai jalan untuk menuju arah yang mereka tuju.


"Martin, apakah menurut mu Guru Vethie Jolie itu di habisi oleh orang yang merasa terancam?"


Martin menghela nafasnya, lalu menatap Helena dengan tatapan serius.


"Iya, kemungkinan terbesarnya memang itu, menurut ku. Tapi bagusnya sekarang kita jadi tahu bahwa dia mulai terusik dan merasa terancam. Pada akhirnya mereka akan saling menggigit, jadi bertahan lah, Helena. Mari kita tonton adegan itu sembari meminum kopi."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2