Why?

Why?
Bahagia Tapi Sedih


__ADS_3

"Rasakan, rasakan bagaimana putriku satu-satunya dan cucuku satu-satunya merasakan penderitaan ini. Kau pantas untuk semua ini, kau pantas merasakan rasa sakit yang jauh lebih sakit di banding yang kau rasakan sekarang! Kau menghancurkan kehidupan putriku, kau memporak-porandakan kebahagiaan, bahkan anaknya juga meninggal!" ibunya Melisa berucap dengan wajah emosional sekali, matanya menatap marah bahkan sampa memerah hingga ke kantung matanya.


Hari ini Ibunya Melisa datang bersama dengan Tuan Feto, tentu saja dia begitu memaksa untuk sampai di sana. Dia benar-benar ingin melihat sendiri bagaimana Helena di siksa, dan ternyata melihat Helena secara langsung benar-benar membuatnya merasa cukup puas.


Helena kini terlihat tak berdaya, dia memiliki memar di wajah, leher, tangan, bahkan kakinya juga. Rambutnya berantakan, wajahnya sangat pucat, bibirnya kering sampai pecah-pecah. Sorot matanya yang sayu, dia benar-benar terlihat sangat melas tapi benar-benar membuat Ibunya Melisa dan juga Tuan Feto merasa puas.


Helena sekarang ini benar-benar sudah tak memiliki data untuk bicara lagi, dia diam tak melakukan apapun, bahkan dia juga sulit sekali hanya untuk membuka matanya. Telinganya masih bisa mendengar dengan jelas apa yang di katakan Ibunya Melisa, tapi sial sekali dia tidak dapat mengatakan apa yang ingin dia katakan.


Jika benar aku akan mati sebentar lagi, Tuhan...... Tolong pertemukan aku dengan Velerie, aku ingin bertemu dia dan bersama dengannya.


Helena pingsan beberapa saat setelah itu.


Ibu.......Ibu.......Ibu......


Helena tersentak, dia membuka matanya dan kini tiba-tiba dia berada di sebuah taman yang sangat luas.


Erie......


Helena terdiam dengan mimik wajahnya yang terlihat begitu terkejut. Dia melihat Velerie berlari ke arahnya, merentangkan tangan dengan senyum indah yang biasa di tunjukkan Velerie saat Velerie merasa bahagia. Helena menggelengkan kepala, dia menolak apa yang dia lihat, tapi Velerie masih ada dan kini sudah berada dekat sekali dengannya. Helena tak perduli lagi, dia segera memeluk Velerie erat-erat dan menangis sesegukan. Tidak tahu ini mimpi, atau bahkan dia sudah mati dan sekarang sudah bertemu dengan Velerie, Helena benar-benar sangat bahagia dan dia yakin tidak akan menyesal berada di tepat yang sama dengan putri yang dia rindukan selama ini.


"Ibu, aku senang dan bahagia melihat Ibu bahagia. Tapi, aku juga sedih sekali, Ibu."

__ADS_1


Helena melepaskan tubuh Velerie, menatap Velerie dengan tatapan terkejut karena ini adalah kali pertama Helena bisa mendengar Velerie mengatakan kalimat yang panjang tanpa kesulitan atau bahkan kesulitan mengambil nafas.


"Erie sayang, kau bisa bicara dengan begtu lancar? Sungguh?" Helena menatap Velerie dengan senyum bahagia karena akhirnya putrinya benar-benar bicara dengan kalimat yang panjang dan tanpa kesulitan sama sekali.


"Iya, aku bisa bicara dengan lancar, aku juga bisa berlarian dan bermain sepanjang waktu. Ibu, disini aku tidak merasakan sakit, tidak merasakan lelah, hatiku selalu bahagia, tapi ketika Ibu datang aku tidak bisa tidak merasa sedih."


Helena kembali merasa bingung, dia meraih kedua tangan Velerie dan menggenggamnya sembari menatap Velerie dengan tatapan yang hangat.


"Sayang, Ibu di sini akan menemanimu, kenapa kau sedih? Ibu akan berada di samping mu selamanya, Ibu janji!"


Velerie terlihat sangat sedih mendengarkan apa yang di katakan Helena.


"Ibu, aku belum ingin Ibu menemani ku, seharusnya Ibu tidak datang kemari."


"Aku akan menunggu Ibu di sini dengan setia, aku akan bermain sepanjang waktu di sini. Tapi, Ibu harus segera kembali, Ibu tidak boleh berada di sini sekarang."


Helena menggelengkan kepalanya, dia semakin mengeratkan genggaman tangannya yang kini menggenggam tangan Velerie. Helena menatap Velerie dengan tatapan memohon untuk jangan mengatakan itu lagi, dia tidak ingin Velerie memintanya pergi di saat dia hanya menginginkan kebersamaan bersama Velerie.


"Ibu, tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku di sini tidak pernah merasakan sakit, lapar, atau bahkan lelah. Aku selalu memperhatikan Ibu, aku melihat Ibu saat Ibu sedih dan tersenyum. Ibu, aku suka wajah Ibu yang cantik saat tersenyum dan tertawa. Ibu, kembalilah, hidup dengan baik agar aku semakin bahagia berada di sini, aku harap Ibu tidak sedih lagi."


Helena terus menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin berpisah dengan Velerie, dia benar-benar tidak akan rela melakukanya. Tapi sayangnya dia sama sekali tak mengatakan apapun, mulutnya seperti terkunci rapat entah mengapa.

__ADS_1


"Ibu, aku mencintaimu. Aku selalu bersamamu jadi jangan takut. Ibu adalah Ibu yang hebat, aku yakin bisa melakukannya. Ibu, terimakasih banyak sudah melahirkan dan mencintaiku dengan sangat!" Velerie mendorong tubuh Helena membuat Helena seperti terjatuh dari tempat yang tinggi dan gelap namun beberapa detik setelah itu matanya kembali terbuka, dan sinar matahari yang menyilaukan mata itu membuatnya tersadar dia ada di dunia menyebalkan sekarang.


"Sudah waktunya kita habisi dia dengan cara yang memalukan, karena malam nanti belum tentu dia masih hidup." Tuan Feto tersenyum miring, dia berniat membuatkan kedua orang yang telah menculik Helena untuk melecehkan Helena, lalu merekam dan menyebar luaskan videonya nanti. Tapi baru saja dia berbalik badan Martin datang dengan nafas terengah-engah, dua penculik yang berjaga itu juga sudah terkapar tak sadarkan diri.


Martin membuatkan matanya melihat bagaimana Helena yang begitu kacau.


"Apa yang kalian lakukan, brengsek!" Martin sudah akan berlari mendekati Helena, tapi Ibunya Melisa merebut pisau yang sejak tadi berada di tangan Tuan Feto, lali lebih dulu berada di belakang Helena dan mengarahkan pisau itu di leher Helena. Tentu saja Martin segera menghentikan langkahnya karena dia tidak ingin Helena dalam bahaya karenanya.


"Helena!" Ibunya Helena baru saja datang, Martin sebenarnya meminta Ibunya Helena untuk menunggu saja di bawah dan menunggu kabar. Tapi Itu membuatnya tak tenang sehingga dia menyusul ke atap rumah sakit. Melihat dua pria tergeletak di lantai saja dia sudah sangat terkejut sebenarnya, sekarang dia harus melihat Helena terikat pada sebuah tiang, penampilannya benar-benar kacau dan banyak sekali memar juga bibir Helena berdarah.


"Jika kalian berani mendekat atau melaporkan ini, makan akan ku pastikan Helena mati di tangan ku!" Ucap Ibunya Melisa.


Helena terkekeh mendengar apa yang di katakan Ibunya Melisa.


"Kalau begitu lakukan saja, aku sama sekali tidak pernah merasa takut. Aku akan berterimakasih sekali jika kau benar-benar melakukannya, aku tidak sabar bertemu putriku."


"Jangan! Aku mohon....Aku mohon jangan!" Ibunya Helena menangis, mengatupkan kedua telapak tangannya menatap dengan tatapan memohon.


"Tolong, jangan lakukan itu." Ibunya Helena menatap Tuan Feto sekarang.


"Tuan, Helena adalah putri kandungmu, dia adalah anak yang lahir dari kesalahan kita berdua malam itu, istrimu bahkan sudah mengetahuinya sejak lama. Aku bersumpah apa yang aku katakan benar, jika kau tidak mempercayai apa yang aku katakan, maka bawalah dia dan lakukan DNA tes."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2