Why?

Why?
Kenyataan


__ADS_3

"Itu semua karena ku bukan lah anak kandung ku!"


Kalimat itu di ucapan Ayahnya dengan begitu tegas, tatapan matanya yang tajam dan berani justru membuat Win kembali terkekeh geli.


"Ibumu mengkhianati ku, dia memiliki hubungan dengan pria lain. Kenapa dia bisa melakukan itu sedangkan aki tidak? Aku hanya terang-terangan, sementara Ibu mu diam-diam seolah menganggap ku adalah orang bodoh!" Ayah mereka terlihat benar-benar terguncang, mungkin mengatakan itu adalah hal yang membuatnya kesal dan sangat menguras energi, tapi seperti pada asal, Win sama sekali tidak pernah terlihat takut atau sedih sama sekali.


Win membuang nafasnya, menatap Ayahnya dengan tatapan seolah dia meremehkan ucapan Ayahnya.


"Hei pria bodoh! Kau pikir aku tidak melakukan sesuatu? Melihat mu setiap waktu mengacuhkan ku, memusatkan segala perhatian mu terhadap Martin seolah aku tidak ada, tentu saja membuat ku berpikir apakah benar aku adalah anak mu? Aku sudah melakukan DNA test, dan darah sialan yang mengalir di dalam tubuh ku adalah darah bajingan milik mu!"


Ayah mereka menatap Win dengan tatapan terkejut, sungguh dia tidak bisa mempercayai itu semua. Selama ini dia tidak melakukan DNA test terhadap Win karena merasa tidak begitu perduli terhadapnya. Martin memiliki wajah yang hampir serupa dengan dirinya, tapi Win benar-benar hampir mirip sekali dengan Ibunya sehingga dia meragukan anaknya sendiri.


"Sam?" Panggil Ayahnya mereka membuat ajudan segera mendekati Tuannya dan bertanya apakah itu mungkin?


"Sudahlah, tidak usah berlebihan sekali. Kau pikir aku bahagia menjadi anak kandung mu? Tidak, aku sama sekali tidak bahagia. Sebelumnya aku pikir kau bukanlah Ayah kandung ku sehingga aku hanya terus mendoakan kematian mu, tapi begitu aku tahu kau adalah Ayah kandung ku, aku justru ingin mencekik mu sampai mati."

__ADS_1


"Win!" Ibunya Win datang dengan terburu-buru, dia benar-benar sangat tidak menyukai ucapan anaknya itu sehingga menampar Win sangat kuat.


Ibunya Win tersentak, membeku dengan tatapan matanya yang terlihat terkejut sekali. Tidak, dia benar-benar sudah keterlaluan dengan memukul Win sekuat tenaganya.


Win terkekeh, dia mengarahkan tatapan matanya untuk menatap kedua bola mata Ibunya.


"Saat aku mengatakan bahwa pria itu adalah pria paling bajingan di muka bumi ini karena terus membuat Ibu menangis, Ibu hanya mengatakan jika Ayah ku sedang khilaf. Kemudian saat wanita simpanan itu menampar Ibu dan memaki mu, Ibu hanya diam dan mengatakan bahwa kehidupan para orang dewasa sudah biasa seperti itu. Saat wanita itu mati karena bunuh diri, dengan bodohnya dia mengajak para tetangganya mati, pria bajingan itu juga menyalahkan mu dan kau hanya diam saja menerima tuduhan dan menangis diam-diam. Sebenarnya apakah Ibu sehat? Karena orang seperti Ibu lah aku jadi begitu berpikir wanita memang harus lebih di siksa lagi agar bisa menggunakan mulutnya dengan benar! Sadarlah, sadarlah betapa pria itu begitu gila selama ini?! Dia bilang tidak mencintai mu, tapi bagiamana dia bisa tidur dengan mu sampai melahirkan anak? Dia bilang tidak mencintai mu, hanya pernikahan aliansi tapi kenapa dia tidak pergi saja saat wanita itu mati? Apakah Ibu pernah melarangnya pergi? Tidak kan? Ibu tahu kenapa? Pria itu, pria penyakitan dan tidak tahu malu itu memiliki ketergantungan terhadap Ibu dan simpanannya. Dia memiliki fantasi berlebihan dalam hubungan, dia menyukai situasi di mana dia di perebutkan! Sebenarnya sampai kapan Ibu akan membiarkan dia menginjakkan kakinya di atas kepala Ibu?!"


Ibunya Win mengepalkan tangannya. Sungguh dia memahami betapa sakitnya Win melihat kondisi Ibunya yang menyedihkan meski tubuhnya terlihat sehat dan baik-baik saja. Selama ini dia begitu di butakan oleh perasaan cinta dan tuntutan orang tuanya, Setya janjinya kepada keluarga untuk tetap mendampingi suaminya apapun kondisinya. Selama ini dia juga bisa terbilang terobsesi untuk bisa melihat putranya mendapatkan kasih dan cinta yang sama seperti yang Martin dapatkan.


"Win!" Bentak Ibunya Win sembari menahan tangis.


"Jangan membentak ku! Selain melahirkan ku, kau tidak pernah melakukan apapun, kau sama saja dengan pria itu! Yang bisa kau lakukan hanyalah menyalah kan ku saat pria itu tidak menyukai ku. Sekarang kau bahkan ingin membelanya? Ingatlah baik-baik, dia sama sekali tidak pernah menganggap mu penting selain harta yang kau miliki."


Ibunya Win tidak lagi ingin bicara, dia membiarkan saja air matanya jatuh. Tidak, tentu saja dia tidak akan rela kehilangan Win, tentu saja dia tidak ingin putranya menderita, tapi selama ini dia juga telah mendorong putranya untuk masuk ke dalam luka sedalam itu.

__ADS_1


"Untuk kali ini saja, percayalah pada ku bahwa, seekor lalat tidak akan paham bahwa bunga lebih indah dari pada sampah. Pria yang Ibu bela mati-matian itu akan seperti itu hingga akhir."


Setelah mengatakan itu Win pergi meninggalkan kamar Ayahnya, meninggalkan semua orang yang begitu terkejut, meninggalkan Ayahnya yang kini menangis menyesali semua yang telah dia lakukan, meninggalkan hati yang terluka dari seorang Ibu.


"Win, tidak seperti itu, sungguh tidak seperti itu."Gumam Ibunya Win sembari menangis tanpa suara.


Beberapa saat kemudian.


Martin terdiam tak mengatakan apapun, saat ini dia tengah duduk di sisi tempat tidur kamarnya. Dia benar-benar mengingat jelas setiap kata yang keluar mulut Win, ucapan yang begitu menggambarkan bawa Ayah mereka adalah Ayah terburuk di dunia, juga Ibunya Martin adalah sosok yang begitu bersalah begitu juga Martin. Selama ini dia cukup menganggap bahwa tidak memiliki Ayah agar dia bisa hidup dengan lega, tapi ternyata itu sama sekali tak terjadi.


Ayahnya ternyata adalah seorang pria yang bahkan tidak tahu cara menghargai istrinya, dia juga dengan tidak berperasaan menjalin hubungan dengan Ibunya hingga hamil, dan melahirkan Martin. Entah sebesar apa kesalahan orang tua Martin dalam hal ini, tapi sekarang Martin benar-benar memahami jika kebencian yang di sarankan oleh Win adalah hal yang wajar saja.


"Ibu, kenapa Ibu harus melakukannya? Tahu kah pada akhirnya aku harus menanggung rasa bersalah meski aku tidak melakukan apapun?"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2