
Sejak kejadian di ruang musik waktu itu, dapat dipastikan bahwa hubungan Eva dan Ren bertambah dekat. Jika sebelumnya Eva acuh tidak acuh setiap Ren menghampirinya, kali ini ia menyambut kedatangannya, bahkan tanpa sadar selalu ngobrol hingga terlarut. Seperti biasa, Gita tidak pernah melewatkan setiap kesempatan untuk meledek sahabatnya. Namun bukannya kesal ataupun malu seperti dulu, kini Eva hanya tersenyum dengan manis tanpa jawaban yang pasti. Alhasil, Gita sudah malas mengerjainya dan kehilangan mainannya.
Hari-hari berjalan dengan normal. Tanggal demi tanggal silih berganti, dan tak terasa dua bulan terlewat sudah sejak hari kedatangan Ren. Sesuai jadwal, SMA Nusa Biru telah memasuki bulan Ujian Akhir Semester II.
“Eva-chan, mau belajar bersama?”
Eva yang barusan tiba di kelas dan hendak meletakkan ranselnya di kursi pun terhenti. Hari ini adalah hari Jumat, tepat hari terakhir sekolah sebelum ujian semester pada hari Senin dimulai. Jadi, apa maksud pertanyaan Ren untuk belajar bersama?
“Sebelum pindah ke sini saya juga ada sekolah di Jepang, tapi pelajarannya berbeda. Jadi, saya harus mengulang pelajaran Indonesia dari awal semester. Apa kamu bersedia menemani saya belajar bersama?”
“Aku—”
“Kalian mau belajar bareng? Aku ikut.”
Tiba-tiba entah dari mana, Putra dengan wajah yang berengut bergabung di antara mereka. Tanpa sadar Eva menelan ludahnya.
“Kamu ... mau belajar bareng kami?” tanya Eva ragu. Pasalnya, meskipun Putra termasuk siswa yang bermasalah dan disegani, ia cukup cerdas untuk selalu berada dalam peringkat tiga besar—mengabaikan fakta ia sering bolos. Tidak lupa juga, ia dan Putra masih berjaga jarak dan canggung.
__ADS_1
“Iya. Kenapa? Tidak boleh?”
Eva menjauhi tatapan menusuk Putra. “Bukannya tidak boleh, sih. Tapi kamu tidak suka kerja kelompok, kan?” Selama ini ia tidak pernah aktif dalam tugas apapun, tapi teman-teman yang lain terlalu takut untuk mencoret namanya.
“Itu kerja kelompok, sekarang belajar kelompok, berbeda,” jawab Putra masih dengan garang. “Jadi? Aku tidak boleh ikut? Aku pintar, aku bisa ajar anak Jepang ini juga.”
Tak mampu menjawab, Eva hanya bisa menoleh kepada Ren. “Bagaimana, Ren? Apa dia boleh ikut?”
Ren mengangguk. “Tentu saja,” jawabnya. “Sebelum itu, nama kamu siapa?” lanjutnya bertanya kepada Putra.
Bukannya menjawab, Putra justru melototi Ren. “Apa maksudmu bertanya namaku? Kau pura-pura tidak kenal atau memang sengaja mengajakku ribut?”
“Woah, woah, yang sabar, Mas, yang sabar!” seru Andi panik.
Tahu kekurangan Ren yang tidak bisa mengingat wajah orang, Eva buru-buru menimpali, “Ren hanya menanyakan namamu, kenapa kamu harus emosi seperti itu? Kamu sendiri juga sering bolos, jadi wajar kalau Ren tidak mengenalimu.”
Putra masih ingin memberontak, tapi niatnya terurung begitu mendengar penjelasan Eva. Lantas ia membuang muka. “Ya sudah, maaf. Namaku Putra.”
__ADS_1
Seolah kejadian barusan bukan masalah besar, Ren tetap tersenyum padanya. “Salam kenal.”
“Wow, ada apa ini?” Gita yang baru tiba langsung bergabung. “Tumben ramai. Aku ketinggalan sesuatu, ya? Lho, ada Putra? Sepertinya ada kejadian yang seru.”
“Tidak, kok. Tidak ada masalah apa-apa,” jawab Eva cepat. “Ren hanya ngajak belajar bareng, kamu mau ikut?”
Seketika wajah Gita langsung memelas. “Lebih baik aku pikirkan bagaimana cara membawa contekan daripada memaksa otakku untuk mengingat rumus-rumus gila itu.”
Mendengar balasan Gita, napas Eva serasa berhenti. Ia sempat khawatir hanya belajar berduaan dengan Ren—yang kemungkinan akan berakhir di rumahnya. Namun, sekarang ia lebih khawatir lagi dengan Putra yang tiba-tiba ingin bergabung. Eva masih ingat jelas ekspresi Putra saat menolak pernyataan cintanya. Lantas apa tujuannya sekarang mendekatinya lagi setelah menghindar selama ini?
“Anu ... apa aku boleh ikut?” Andi mengacungkan tangan dengan ragu. “Aku lemah dalam Kimia, jadi akan lebih baik jika ada yang mengajariku.”
“Terserah saja,” ucap Putra dengan datar. “Aku akan menunggu kalian di depan pintu nanti. Jadi jangan harap kabur dariku,” lanjutnya dengan nada mengancam lalu beranjak ke kursinya yang berada di pojok belakang. Tepat saat ia duduk, bel sekolah pun berbunyi. Masing-masing dari mereka ikut duduk, mengecualikan Gita yang anehnya masih berdiri sambil melongo.
“Tunggu tunggu, aku tidak salah lihat, nih? Putra ikut belajar bareng?” Kedua mata Gita yang tengah menatap Eva membelalak lebar. “Gila! Kenapa kamu gak kasih tahu aku, sih? Tontonan yang seru seperti ini gak mungkin aku lewatkan! Aku ikut!”
Bukannya merasa tenang karena sudah ramai orang, Eva semakin cemas jadinya.
__ADS_1
***
Bersambung ...