
Helena kembali ke apartemen setelah seharian penuh ini dia bicara dengan Martin, dan bagaimana mereka akan bekerja sama mendapatkan kebenaran, keadilan, juga memberikan hukuman kepada pelaku kejahatan yang membuat anaknya menjadi korban dengan menyedihkan.
Jujur saja awalnya Helena merasa sangat ragu dengan Martin, dia bahkan membatin dan ingin segera beranjak pergi untuk mencari pengacara yang lain, yang sesuai dengan apa yang dia inginkan. Tapi, saat Martin mengatakan kepada Helena bahwa dia juga sedang berjuang untuk mengungkapkan kasus besar yang di tutup begitu saja, dan Ibunya adalah salah satu korban dari dua belas korban lainnya.
Helena merasa Martin berbeda, dia memang tidak menyangkal apa yang di katakan Helena, tuduhan Helena tentang betapa buruknya orang-orang seperti Martin, tapi cara Martin berbicara dan tidak memaksa Helena untuk mempercayai dirinya, Helena menjadi sedikit berubah pikiran, ternyata Martin memilki sifat yang bertolak belakang dari apa yang dia pikirkan. Benar, dia memang tidak tahu benar bagaimana bisa istrinya meninggalkan dia, juga bagaimana dengan yang lainnya, tapi kali ini Helena merasa mereka berada di perahu yang sama.
Pagi Harinya.
Helena sudah siap dengan setelah kerja, ini sudah tiga Minggu sejak putrinya meninggal, dan dia juga harus kembali bekerja agar dapat menghasilkan uang, mencari keadilan, maksudnya, mengemis keadilan tentu saja membutuhkan biaya bukan? Kali ini mungkin semuanya akan berjalan tidak selalu seperti yang dia inginkan, kesulitan juga pasti akan datang silih berganti menguji kesabaran yang di miliki. Tapi Helena yang sekarang seperti begitu mati rasa, dia hanya akan melakukan apa yang harus dia lakukan, tidak perlu melakukan apa yang seharusnya tidak dia lakukan.
Tidak banyak yang berubah, hanya saja tatapan orang yang seolah ikut sedih dengan apa yang menimpa Helena, tapi mereka tidak berani mengatakan soal itu. Yah, mungkin mereka tidak ingin mengungkit apa yang akan membuat Helena merasa sedih. Syukurlah, karena itu juga Helena bisa menjalani hari di kantor dengan tenang dan fokus.
Jam pulang kerja.
Helena menghentikan langkah kakinya saat melihat David berdiri di lobi kantor tempat dia bekerja, menatapnya dalam diam. Helena sebenarnya tidak ingin memperdulikannya sehingga dia memutuskan untuk kembali melangkahkan kaki menuju halte bus. Tapi David berjalan cepat menuju Helena, meraih lengan Helena dan menahan langkah kakinya.
" Ayo kita bicara, sebentar saja. "
__ADS_1
Helena menarik lengannya, menatap David tak ingin mengatakan apapun tapi dia juga penasaran apa yang ingin di katakan David sehingga dia menyetujui ajakan David.
Di sebuah mini kafe, tak jauh dari kantor Helena bekerja, di sanalah David dan juga Helena berada sekarang untuk bicara.
" Aku mendatangi kantor polisi untuk melaporkan apa yang terjadi dengan anak kita, tapi katanya sudah terdaftar atas namamu. " Ucap David.
Helena tersenyum dengan mimik yang seolah dia meremehkan apa yang di ucapkan oleh David. Meskipun jelas bisa melihat itu, David tetap ingin menyelesaikan apa yang ingin dia katakan karena dia juga tidak akan membiarkan saja dan mati membawa penyesalan nantinya.
" Polisi bilang, aku hanya perlu bertanya denganmu jika ingin tahu bagaimana dan sampai di mana proses ini berjalan. "
" David, ini sudah tinggi Minggu, dan kau baru bertanya bagiamana kasus anak kita berjalan? Sungguh? Apakah kau tidak merasa malu dengan Velerie? "
David terdiam sebentar, dia mengusap wajahnya dengan satu tangan, begitu mendapatkan pertanyaan itu dia terlihat begitu lelah, dia seperti mendapatkan banyak tekanan dan mengalami banyak hal tidak menyenangkan, tapi dia juga tidak bisa mengelak bahwa dia memang tidak layak di sebut Ayah bagi Velerie.
" Maaf, aku benar-benar minta maaf. Denise mengalami komplikasi setelah operasi kemarin, aku benar-benar tidak bisa istirahat dan mengurus hal lain karena Denise selalu menginginkanku berada di sisinya. Bahkan saat tidur dia akan memelukku erat sekali. Aku tahu aku seharusnya juga mengurus ini, tapi aku tidak kuasa meninggalkan Denise. "
Helena menegakkan tubuhnya, sungguh seorang Ayah yang begitu baik dan sangat penyayang bukan? Tapi sayang sekali Helena justru kesal mendengar itu, Helena bahkan tanpa sadar juga menginginkan kematian Denise agar membuat David dan juga Melisa merasakan apa yang dia rasakan. Tapi, mengingat bahwa Denise hanyalah anak kecil yang tidak berdosa, dia tidak ada hubungannya dengan apa yang di lakukan oleh kedua orang tuanya, Helena menjadi kehilangan pikiran jahat itu, menghela nafas sembari menyesali apa yang dia pikirkan.
__ADS_1
" Terserah kau saja, aku tidak perduli tentang Denise aku tidak perduli tentang apapun yang berhubungan denganmu. " Helena menatap David dengan tatapan serius.
" Velerie sudah meninggal, dia pergi adalah pilihan yang baik, dan pilihan yang paling melegakan untuk kita semua. Kau dan aku sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, entah kau akan mendukung untuk mencari keadilan untuk Velerie atau tidak, aku juga tidak akan menuntut mu. Kau dan aku benar-benar hanya akan menjadi orang asing mulai sekarang, dan mari kita akhiri semua ini dengan baik. "
David terdiam, sungguh dia sangat terkejut karena akan mendengar kalimat itu dari Helena. Padahal dia hanya ingin membahas soal Velerie saja, dia pikir mereka masih bisa berteman apapun yang telah terjadi.
" David, aku memang membencimu, benci sekali hingga tiap kali mengingat namamu, melihat wajahmu aku seperti ingin membunuhmu. Tapi, aku juga ingin mengatakan terimakasih banyak. Terima kasih banyak karena sudah hadir dalam hidup ku, memberikan Velerie yang membuat duniaku terasa begitu indah, membuatku menjadi kuat di tengah gencatan dan tekanan dari semua orang. Walaupun Velerie hanya berada di sisiku enam tahun, tapi kebahagiaan yang dia berikan akan bertahan seumur hidup ku. " Helena meraih tasnya, bangkit dari duduknya, dia menentukan salam hormat dengan menunduk kepada David.
" Aku akhiri semuanya sampai disini, kau sudah terbebas dari Velerie, dan kau juga bisa fokus dengan putrimu. Selamat tinggal. "
Helena menjalankan kakinya cepat setelah mengatakan itu, meninggalkan David yang terdiam menahan hatinya yang terasa begitu sakit. Helena, wanita cantik yang dia sakiti sekaligus dia cintai kini dapat mengucapkan kata perpisahan dengan tenang, itu artinya dia sama sekali tak merasakan emosi apapun, sudah tidak ada sedikit saja perasaan yah tertinggal di sana. Velerie pergi, semuanya juga menghilang pergi.
Helena menyeka air matanya, pergi membawa hatinya yang terluka karena mengingat luka lama seperti tersiram air garam. Kali ini dia harus menghilangkan rasa trauma, kebencian, kemarahan , kekecewaan, Helena harus bisa melepaskan itu semua untuk bisa mengarahkan hidupnya untuk satu tujuan saja.
Aku, akan berjuang sampai titik penghabisan.
Bersambung.
__ADS_1