Why?

Why?
Helena Yang Tidak bIasa


__ADS_3

Helena tersenyum miring menatap kedua orang tua Melisa yang kini juga menatapnya dengan tatapan marah namun juga terlihat terkejut. Bagaimana bisa Helena berada di tempat itu? Begitu sampai di rumah setelah perjalanan kembali dari pemakaman guru Vethie Jolie, Helena mendapatkan kabar dari David bahwa Denise sedang mendapatkan perawatan karena beberapa masalah yang terjadi setelah transplantasi ginjal yang di lakukan beberapa bulan lalu. Tentu saja Helena tak ingin membuang waktu, dia bergegas mengganti pakaian dan langsung menuju rumah sakit karena dia yakin sekali di sana pasti semua keluarga Denise sedang menjaganya.


"Wanita sialan, untuk apa kau datang?" Tanya Ibunya Melisa, matanya yang terlihat penuh kebencian sebenarnya agak mengherankan karena sejak awal dia seperti begitu membenci Helena. Iya, tidak usah tanya lagi kenapa dia, juga yang lain membenci Helena. Semua itu karena mendiang kakaknya Melisa pernah menyukai Helena, bahkan menyimpan rasa itu sejak Helena duduk di bangku sekolah menengah pertama. Karena Helena sudah lebih dulu menjalin hubungan dengan David maka itu Helena menolak ungkapan cinta dari kakaknya Melisa, membuat kakaknya Melisa yang tidak sanggup menerima kenyataan, dan melihat Helena bahagia bersama David, dia memutuskan untuk pergi ke luar negeri.


Entah apa sebenarnya penyebab dia meninggal dunia setelah dua tahun tinggal di sana. Ada rumor yang mengatakan jika dia meninggal karena penyakit menular dari seringnya bergonta-ganti pasangan, ada yang bilang meninggal karena overdosis obat terlarang, ada yang bilang dia bunuh diri karena tidak sanggup dengan pendidikan sarjana dua yang sedang dia jalani, ada yang menduga jika dia sebenarnya bunuh diri karena masih tidak bisa melupakan Helena.


"Nyonya, aku hanya ingin melihat keadaan adiknya Velerie apa itu tidak boleh?" Helena kembali tersenyum menyembunyikan apa yang sebenernya sedang dia pikirkan sekarang.


Ibunya Melisa terlihat benar-benar sangat kesal, dia benar-benar tidak terima cucunya di sebut adiknya Velerie meski memang kenyataannya mereka lahir dari satu Ayah yang sama.


"Putrimu yang cacat itu mana pantas di sebut kakaknya Denise? Jangan asal bicara kau, entahlah!"


Helena menghela nafasnya, tidak heran kalau memang akan di perlakukan seperti ini karena Helena juga cukup tahu bagaimana mereka selama ini. Tapi mana mungkin Helena akan menuruti ucapannya? Dunia ini boleh di kuasai oleh orang kaya, tapi Helena akan melakukan segala cara untuk menginjak kepala, harga diri, martabat, juga kesombongan yang begitu di tonjolkan sampai lupa bahwa seharusnya mereka mengutamakan otak lebih dulu.


Hussss!!

__ADS_1


Helena meletakkan satu jari telunjuknya di depan bibirnya agar membuat Ibunya Melisa sedikit tenang, begitu juga dengan Tuan Feto yang terlihat seperti ingin mencekik Helena hingga mati.


"Aku tahu anda menyewa satu lantai ini agar anda bebas, tapi jangan lupa untuk tetap menjaga mulut karena kalau tidak, mereka akan mendengar apa yang seharusnya tidak mereka dengar." Helena kembali tersenyum, tapi anehnya ucapan Helena bagusan membuat Ibunya Melisa terdiam seolah dia menjadi takut akan salah bicara dan membuat apa yang harus di simpan rapih jadi terendus dan terbongkar.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" Pertanyaan itu keluar dari bibir Tuan Feto dengan tatapan matanya yang begitu dingin, arogan, menekan, mendesak seolah akan melakukan sesuatu andai saja Helena tak segera pergi.


Melihat wajah mereka berdua Helena benar-benar tidak tahan, dia terkekeh meski hatinya merasa sangat marah, benci, dia ingin menangis karena keinginan untuk membunuh mereka berdua benar-benar sangat besar dan harus dia tahan sekuat tenaga.


"Dasar gila, apa yang sedang kau tertawakan?!" Kesal Tuan Feto tapi masih saja tak bisa menghentikan Helena yang terus saja terkekeh hingga matanya berair.


"Minta security untuk datang, usir wanita gila ini, dia benar-benar kerusakan setan bodoh!" Ucap Ibunya Melisa yang sebenarnya sangat takut melihat Helena bertingkah aneh, dia terlihat tak merasakan takut sama sekali. Entah iya atau tidak, sepertinya jika ada malaikat pencabut nyawa di hadapannya dia juga tidak akan terlihat takut sama sekali.


"Kalian mengatakan jika Erie ku adalah cacat, lalu kalian memaki ku sesuka hati kalian. Sebenarnya kalian ingin menganggap aku sebodoh apa? Kalian pikir kalian bisa melakukan apa? Security? Mengusir keluar?" Helena kembali tersenyum, menjalankan kakinya untuk lebih dekat dengan kedua orang itu dan menunjukan dengan jelas wajahnya yang begitu berani dan tak akan takut dengan apapun yang mereka lakukan.


"Putriku yang cacat memang apa bedanya dengan cucu kalian? Lahir dengan organ yang cacat, memaki juga jangan lupa melihat cermin, bukankah begitu yang benar, Tuan dan Nyonya?" Helena tersenyum miring menatap kedua orang itu bergantian.

__ADS_1


Ibunya Melisa menghindari tatapan mata Helena yang begitu menekan hingga dadanya terasa sesak. Sementara Tuan Feto benar-benar mulai menyadari jika Helena pasti mengetahui banyak hal yang sudah terjadi. Tapi jika tidak ada bukti lalu untuk apa merasa takut?


"Aku tahu apa yang sedang anda pikirkan, Tuan Feto." Tatapan mata Helena kini benar-benar tertuju lekat kepada sepasang mata berwarna coklat, kulit area mata yang sudah memiliki cukup banyak kerutan, tapi tak mengurangi bagaimana menyeramkannya sorot mata itu.


"Tidak apa-apa merasa selamat detik ini, cobalah untuk keluar dari rumah sakit dan lihatlah media sosial sekarang. Lihat bagaimana semua orang tengah menggosipkan tindakan mu yang murahan dan arogan itu, lihatlah mata masyarakat yang mulai detik ini akan menghakimi mu."


Ucapan Helena membuat mata Tuan Feto menjadi begitu terkejut, begitu juga dengan istrinya. Mereka pasti benar-benar mengkhawatirkan cucu mereka dan sedang ingin fokus dengan cucu mereka sampai tidak melihat betapa hebohnya media sosial sekarang.


"Ayo kita keluar dulu sebentar!" Ajak Tuan Feto seraya meraih lengan istrinya dan menariknya agar mengikuti langkah kakinya.


"Tidak! Bagiamana dengan Denise? Melisa dan David sedang menemui Dokter, kita tidak bisa meninggalkan Denise sementara wanita ini ada di sini!" Ucap Ibunya Melisa.


"Takut apa? Rekaman kamera pengawas ada di mana-mana, dia tidak akan melakukan apapun karena dia tahu apa konsekuensinya."


Ibunya Melisa tak lagi ingin berkata-kata karena dia juga mulai yakin Helena tidak akan melakukan apapun, toh tak jauh dari ruangan itu akan ada perawat dan Dokter yang menjaga. Alarm akan berbunyi saat detak jantung Denise mengalami masalah, selang infus atau lainnya.

__ADS_1


Begitu kedua orang tua Melisa pergi, Helena terdiam sebentar dengan tatapan dingin, lalu melangkahkan kaki menuju Denise berada.


Bersambung.


__ADS_2