
"Helena!" Ibunya Helena baru saja datang, Martin sebenarnya meminta Ibunya Helena untuk menunggu saja di bawah dan menunggu kabar. Tapi Itu membuatnya tak tenang sehingga dia menyusul ke atap rumah sakit. Melihat dua pria tergeletak di lantai saja dia sudah sangat terkejut sebenarnya, sekarang dia harus melihat Helena terikat pada sebuah tiang, penampilannya benar-benar kacau dan banyak sekali memar juga bibir Helena berdarah.
"Jika kalian berani mendekat atau melaporkan ini, makan akan ku pastikan Helena mati di tangan ku!" Ucap Ibunya Melisa.
Helena terkekeh mendengar apa yang di katakan Ibunya Melisa.
"Kalau begitu lakukan saja, aku sama sekali tidak pernah merasa takut. Aku akan berterimakasih sekali jika kau benar-benar melakukannya, aku tidak sabar bertemu putriku."
"Jangan! Aku mohon....Aku mohon jangan!" Ibunya Helena menangis, mengatupkan kedua telapak tangannya menatap dengan tatapan memohon.
"Tolong, jangan lakukan itu." Ibunya Helena menatap Tuan Feto sekarang.
"Tuan, Helena adalah putri kandungmu, dia adalah anak yang lahir dari kesalahan kita berdua malam itu, istrimu bahkan sudah mengetahuinya sejak lama. Aku bersumpah apa yang aku katakan benar, jika kau tidak mempercayai apa yang aku katakan, maka bawalah dia dan lakukan DNA tes."
Tuan Feto terdiam dengan mimik wajahnya yang terlihat begitu terkejut.
"Tidak! Bohong! Itu bohong! Anak kandungmu hanyalah Melisa seorang, tidak ada yang lain!"
__ADS_1
Ibunya Helena menangis semakin kuat, dia terus menatap Tuan Feto yang kini terdiam membeku tak mengatakan apapun karena dia benar-benar terkejut dengan apa yang di katakan Ibunya Helena.
Dulu sekali Ibunya Helena memang pernah bekerja dengannya sebagai asisten, Ibunya Helena menikah di usia yang begitu muda sehingga memiliki dua anak di saat usianya baru dua puluh empat tahun. Saat Itu Tuan Feto yang sudah kacau karena tekanan dari keluarga yang menginginkan keturunan benar-benar bingung dan stress menghadapinya. Dia memutuskan untuk keluar kota sebentar dengan alasan pekerjaan membawa Ibunya Helena, sekretaris dan juga satu orang lagi kepercayaannya.
Malam hari ketika hujan begitu deras, Ibunya Helena datang menghampiri Tuan Feto yang terlihat sangat stres dan gelisah beberapa waktu belakangan. Karena merasa nyaman pada akhirnya Tuan Feto menceritakan segala permasalahannya kepada Ibunya Helena, dan tidak menyadari begitu asiknya mereka mengobrol sampai larut malam. Entah setan dari mana mereka berdua akhirnya merasakan sesuatu yang tidak biasa muncul mempengaruhi hati dan pikiran sehingga berakhir dengan adegan panas di atas tempat tidur.
"Saat kesalahan itu terjadi, suamiku sedang tugas di luar kota, dia sudah hampir dua bulan tidak pulang, dan aku menyadari aku hamil karena tidak datang bulan. Aku sudah berusaha menyembunyikannya, tapi pada akhirnya suamiku tahu jika Helena bukan anak kandungnya, dia memiliki banyak kesamaan dengan anda. Tanda lahir, alergi kacang, bahkan kalian berdua juga tidak menyukai minuman yang terlalu panas ataupun terlalu dingin. Tolong percayalah padaku, Tuan. Bawalah Helena dan tes DNA kalian, aku mohon......."
Tuan Feto kini terlihat tidak fokus, dia benar-benar terkejut sekali dan bingung hingga dadanya berdenyut sakit dan sesak. Tidak, kenyataan macam apa ini? Bagiamana bisa Helena adalah anaknya? Tidak, tidak! Dia benar-benar tidak bisa menerima candaan semacam ini.
"Tidak mungkin, jangan membuat cerita bohong!" Tuan Feto membentak Ibunya Helena karena sungguh dia tidak pernah membayangkan jika kenyataan seperti ini akan dia dengar dan harus dia percayai.
"Kenapa Ibu terus menerus memikirkan Helena, sementara Ayah terlihat tersiksa sekali melihat Ibu yang berlebihan sekali kalau soal Helena. Ibu seharusnya lebih mengerti perasaan Ayah bukan? Helena adalah anak haram Ibu dengan pria lain, yang katanya adalah Tuan Feto. Benar-benar jijik sekali bukan? Selama ini kita harus berpura-pura tidak tahu, aku sudah muak."
Mengetahui hal itu Helena benar-benar hancur, hancur sekali. Dia pikir selama ini Ayahnya memilih diam dan mengiyakan semua keinginannya adalah karena Ayahnya mempercayai Helena dan juga menghargai Jelena dengan segala keputusannya. Tenyata kebenarannya adalah, pria yang selama ini dia anggap Ayah nyatanya adalah orang yang sebenarnya tidak pernah memperdulikan dirinya sama sekali.
Sial! betapa bodohnya Helena selama ini? Rasanya Helena benar-benar ingin mengutuk dirinya karena nyatanya darah yang mengalir di dalam tubuhnya adalah darah dari seorang pria jahat dan brengsek.
__ADS_1
"Tuan Feto, itu lah alasannya kenapa aku mengatakan padamu bahwa aku sangat membenci dirimu dan bahkan aku membenci diriku sendiri karena tubuhku ini berasal dari pria bajingan, brengsek dan menjijikan seperti mu!"
Tuan Feto benar-benar bingung dan tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Dia tidak ingin percaya, tapi kenapa setelah di pikirkan ada begitu banyak kebetulan? Tatapan Helena, sorot matanya yang tajam dan sikapnya yang berani, rasanya itu adalah sikap yang jelas adalah dirinya. Tanda lahir di bahu kiri jika memang benar ada, bukankah ini terlalu aneh? Tidak, dia tidak ingin percaya tapi bagaiman jika itu semua benar? Bagaimana jika Helena adalah putri kandungnya? Bagaimana dia akan mengahadapi kenyataan itu?
Tuan Feto terlihat semakin goyah, dan itu membuat Ibunya Melisa tak bisa menerimanya. Hanya boleh Melisa saja yang menjadi anak kandung suaminya, dia tidak menginginkan siapapun menggantikan Melisa.
Sial! Kenapa tidak aku habisi saja anak ini dulu!
Seperti itulah yang di batin Ibunya Melisa. Dulu, Ibunya Helena pernah datang membawa Helena yang masih merah dan menceritakan semuanya kepadanya. Dia tidak bisa menerima kenyataan itu, dia meminta Ibunya Helena untuk menyimpan rapat-rapat rahasia itu. Dulu dia tidak begitu berani menyakiti manusia lain apalagi dia juga memiliki bayi setelah menunggu sekitar enam tahun pernikahan.
Martin benar-benar kehabisan kata-kata mendengar fakta yang benar-benar tak pernah dia bayangkan itu. Jadi selama ini Ibunya Helena meminta kasus tentang Velerie di hentikan karena tidak ingin Helena menyerang Ayah kandungnya sendiri? Terdengar baik, tapi apa yang terjadi ini adalah situasi yang paling buruk dan paling tidak masuk akal.
Tuan Feto mengarahkan pandangannya menatap Helena yang juga menatapnya dengan tatapan menghina, jijik, memaki sebab sorot matanya yang begitu tajam mengingatkan Tuan Feto dengan mendiang Ayahnya.
"Sungguh, jangan menatapku seperti itu, aku benar-benar jadi ingin meludahi wajahmu." Ucap Helena yang kini benar-benar seperti mendapatkan kembali energi untuk memaki.
Tuan Feto memundurkan langkahnya, dia benar-benar seperti tak bisa mengelak membuat Ibunya Melisa tak bisa menerima itu sehingga tanpa pikir panjang mengangkat pisau itu tinggi-tinggi dan bersiap mengayunkan kepada Helena.
__ADS_1
Bersambung.