Why?

Why?
Aku Tidak Apa-Apa, Sungguh!


__ADS_3

Martin menatap penuh keyakinan setelah dia benar-benar memutuskan untuk mulai menindak lanjuti tentang Pengacara Jhon. Pria itu sekarang sedang benar-benar sibuk membela dirinya di depan para wartawan, mencari alasan ini dan itu bahkan sampai membuat Martin tak berhenti menggeleng keheranan.


Ini sudah dia Minggu Martin memberikan kesempatan kepada Pengacara Jhon untuk lebih lama bisa menghirup udara bebas, dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai bertindak. Satu persatu bukti telah di siapkan, hanya saja untuk saat ini pengacara Jhon akan di laporkan atas tindakannya yang telah banyak merugikan banyak pihak terutama pengacara Jhon memang sering memberikan bukti palsu dan sebaginya untuk membela kliennya selama ini. Sekarang Pengacara Jhon pasti sedang sanga bimbang dan bingung bagaimana menghadapi semua ini di balik wajahnya yang terlihat tenang saat sedang menjawab beberapa pertanyaan dari para reporter berita.


Martin bergegas bangkit untuk mendatangi kantor polisi, lalu mengurus segala yang di butuhkan untuk memenjarakan pengacara Jhon.


"Tuan pengacara, apa anda serius dengan ini?" Tanya polisi saat tahu jika yang akan di laporkan lelah Martin adalah pengacara Jhon. Pengacara yang begitu di segani itu mungkin akan masih sama di mata beberapa orang, tapi Martin tentu saja tidak akan mundur satu senti meter pun.


"Bukti sudah sejelas itu, mana mungkin aku main-main? Aku hanya menjadi perantara bagi piha yang sudah di rugikan oleh pengacara tersebut, kenapa aku harus merasa tidak yakin?"


Polisi itu terdiam sebentar, lalu mengangguk paham meski mimiknya terlihat tidak nyaman. Tentu saja dia tidak asing dengan wajah Martin yang akhir-akhir menjadi perbincangan media sosial, juga masyarakat bahwa dia tahu dulu di anggap pengacara rendahan kini berhasil memecahkan satu peristiwa yang bahkan pengacara Jhon tidak mampu melakukannya. Sikap Martin juga telah membuka mata publik bahwa pengacara Jhon adalah pengacara yang hanya bekerja karena keutamaannya adalah uang saja.


"Pastikan untuk memprosesnya dengan lebih cepat, kau tahu kan kalau belum lama ini ada anggota polisi yang di jebloskan ke penjara, di copot jabatannya karena melakukan hal yang di larang? Negara ini memang sudah bobrok, tapi masih ada waktu untuk memperbaikinya." Ujar Martin membuat polisi itu tak banyak bicara. Bagaimanapun mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah, toh selama apa yang dia lakukan adalah benar maka semua akan aman-aman saja kan?


Setelah semua selesai, Martin keluar dari kantor polisi dan bergegas menuju mobilnya berada dan melesat menuju tempat dia bekerja.


Setelah pergi dari kantor polisi, Martin menuju ke satu tempat yaitu, tepat di mana Jun tinggal bersama keluarga nya saat ini. Sedikit mengingatkan, Jun adalah pria yang di jadikan tersangka oleh Pengacara Jhon sehingga dia memilih untuk pasrah dan diam karena suguhan uang dan juga ancaman secara sekaligus.


Sebenarnya setelah Jul di bebaskan karena terbukti tidak ada hubungannya dengan kecelakaan Velerie, Martin segera menawarkan bantuan kepada Jun berupa tempat tinggal baru yang jelas akan aman dari pengacara Jhon atau siapapun yang mungkin akan membuatnya celaka. Bantuan itu di terima dengan begitu banyak ucapan terimakasih dari Jun dan juga keluarganya karena pada akhirnya mereka tidak tinggal di tempat yang kumuh dan sedang dalam tidak kesulitan uang berkat Martin.


Beberapa sat kemudian.

__ADS_1


"Kau sudah siap untuk apa yang aku inginkan?" Tanya Martin yang langsung mendapatkan anggukan dari Jun.


Jun tentu saja hanya perlu tenang dan mengatakan sejujurnya bagaimana bisa dia menjadi tersangka palsu yang di ciptakan oleh pengacara Jhon, dan dia juga akan menjelaskan sejelas mungkin bagiamana bisa pengacara Jhon membujuknya hingga Jun memilih jalan yang begitu sulit itu.


Melawan pengacara Jhon terkuat sulit memang, tapi jika dia memegang semua bukti yang valid tentu saja Martin tidak akan merasa takut sama sekali.


Setelah menemui Jun, Martin segera menjalankan mobilnya dan untuk kali ini dia akan segera menuju ke tempat Helena bekerja, tapi menyadari ada sebuah mobil yang sepertinya terus mengikutinya, Martin mencoba untuk memastikan benar dengan mengambil jalan belok, dan tenyata mobil itu masih mengikuti. Martin mencoba lagi, dan sekarang Martin benar-benar yakin seratus persen bahwa dugaannya memang benar-benar seperti itu.


Segera Martin mengenai mobilnya lebih cepat, mencoba untuk mengecoh tapi Sepertinya orang yang mengemudikan mobil itu benar-benar sangat ahli. Beberapa saat setelah itu, mobil itu mencoba untuk mendekati mobil Martin dan meggesekkan badan mobil membuat mobil keduanya melaju dengan sedikit benturan. Masih tidak ingin menyerah, mobil itu mencoba lagi, dan Martin juga mencoba untuk menghindarinya. Tapi sial Martin tidak memperhatikan badan jalan membuatnya tak bisa menghindari badan jalan. Untungnya Martin sempat mengurangi kecepatan, mengerem sehingga benturan tidak begitu kuat dan jelas tidak membuat mobilnya mental dan berguling.


"Ah....!" Martin memegangi sisi kepalanya yang terasa sakit, darah segar juga mengalir membasahi sisi wajahnya. Tapi saat dia tersadar mobil yang tadi mengikutinya tengah mengarahkan mobil hendak menabrak mobilnya, segera Martin keluar dari sana,


Brak!


"Tuan, ayo cepat ikut aku!" Ucap seorang pria paruh baya yang menarik lengan Martin dan menjauhkan dari sana. Sementara mobil hitam itu melesat cepat dan meninggalkan lokasi.


"Orang itu benar-benar gila, dia terang-terangan ingin membunuh anda!" Ucap pria paruh baya itu.


Martin tersenyum, meski sebenarnya dia benar-benar tidak ingin tersenyum karena kepalanya sakit sekali, belum lagi kakinya gemetar. Yah, bagaimanapun Martin manusia biasa jadi wajar kalau dia gemetaran bukan?


"Tuan, biar saya antara ke rumah sakit." Ucap lagi pria itu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku akan ke rumah sakit nanti, tapi bisakah pinjamkan aku ponsel? Aku harus menghubungi polisi dan piha asuransi, aku juga harus mengunjungi seseorang."


Pria itu menyerahkan ponselnya, dan orang yang pertama kali Martin hubungi adalah Helena.


Beberapa saat kemudian.


"Martin!" Helena menyentuh wajah Martin begitu dia sampai di sana, tangannya gemetar hebat karena melihat Martin yang sekarang pasti mengingatkan masa saat Velerie dulu.


"Jangan khawatir, ambulans sudah datang kok."


Helena terlihat benar-benar khawatir sekali.


"Jadi, kenapa kau duduk di sini dan tida bergegas?!"


"Aku menunggumu datang."


Helena terdiam, padahal di saat begini, di saat dia sedang sangat panik karena melihat kecelakaan mobil, darah, semua itu membuatnya harus mengingat saat Velerie di tabrak mobil hingga meninggal.


"Jangan khawatir, aku tidak apa-apa, hanya sedikit robekan dan aku sudah memastikan tidak akan mempengaruhi wajah ku."


Helena membuang nafas kasarnya, lalu memukul pundak Martin pelan. Martin tersenyum melihatnya, setidaknya Helena tidak terlihat sangat ketakutan, seperti itu dia benar-benar manis sekali.

__ADS_1


"Dasar pria bodoh! Jadi sejak tadi yang kau khawatirkan justru wajahku yang menyebalkan itu?"


Bersambung.


__ADS_2