Why?

Why?
Menggunakan Media Sosial


__ADS_3

Seharian ini Helena juga Martin benar-benar menghabiskan waktu untuk mencari bukti mengenai apa yang terjadi saat Velerie menjadi korban tabrak lari. Pertama mereka mendatangi SLB di mana Velerie bersekolah, awalnya Helena yakin benar akan mendapatkan petunjuk sehingga dia bisa mengumpulkan lebih banyak bukti, saksi dan membuat polisi mau tak mau melanjutkan kasus ini. Sayang sekali, keyakinan Helena benar-benar pupus begitu saja karena guru yang melihat peristiwa itu justru sudah mengundurkan diri dua hari setelah Velerie di makamkan. Sekolah juga menolak memberikan salinan rekaman kamera pengawas dengan alasan yang bermacam-macam. Mulai dari kamera pengawas sedang mengalami gangguan, rusak, lalu terakhir dengan posisi menyita rekaman kamera pengawas. Aneh, padahal polisi mengatakan jika kasusnya sedang di dalami.


Helena yang mendengar alasan terakhir itu tentu saja merasa sangat janggal dan kesal, dia memprotes tindakan kepala sekolah yang seperti sedang mempermainkan dirinya, tapi bisa apa karena kepala sekolah justru melimpahkan segalanya kepada polisi, juga situasi yang berjalan tidak sesuai dengan keinginannya.


Martin yang berada di sana tentu saja tidak bisa berbicara dengan emosi seperti yang di lakukan Helena, Martin tahu benar bagaimana pun pihak sekolah juga seharusnya ikut bekerja sama untuk membantu Helena karena kecelakaan yang sampai menghilangkan nyawa terjadi di depan gerbang sekolah, bahkan di saksikan oleh salah satu guru SLB di sana. Mungkin Martin bisa menggunakan kalimat yang membuat kepala sekolah merasa tertekan dan terancam, tapi kalau dia melakukan hal itu, bisa jadi dia tidak bisa menangkap ikan besar yang sesungguhnya, sosok yang membuat semua ini menjadi begitu rumit.


" Demi Tuhan, aku ingin sekali membunuh semua orang yang terlihat tidak perduli. " Kesal Helena begitu mereka keluar dari SLB. Sebentar Helena berhenti dan menatap ke langit sembari menahan tangis.


Martin menghela nafas, semuanya benar-benar rumit sekali dan ini membuat Martin tersadar benar bahwa dia sengaja di minta untuk mendampingi Helena agar kasus ini tidak memiliki masa depan yang cerah. Betapa kejamnya, karena itu berarti firma hukum di tempatnya bekerja juga menerima suap.


" Sepertinya ini jauh lebih rumit dari apa yang kita bayangkan, Helena. Jika benar kasus ini terungkap, maka pihak yang akan terlibat di dalamnya sangat banyak. Sepertinya memang akan sulit, tapi aku harap kau selalu bertindak sesuai akal sehat sesulit apapun kondisinya. Sekarang tidak masalah kita tidak mendapatkan bukti atau saksinya, kita hanya butuh membuat sedikit kecurigaan, melemparkan kail dan mari kita buat semua ikan-ikan mendekati. "


Helena menatap Martin dengan tatapan. terkejut, sungguh dia tidak menyangka kalau Martin benar-benar akan siap membantunya meski tahu ini akan sangat sulit sekali.


" Jadi apa yang harus kita lakukan? " Tanya Helena.

__ADS_1


Martin terdiam sebentar, lalu menatap Helena dengan tatapan serius.


" Menggunakan media sosial, seperti kebanyakan orang melakukannya beberapa waktu terakhir ini. Tapi, pastikan benar tidak menyinggung pihak manapun, dan biarkan simpati semua orang tertuju padamu. "


Helena terdiam sembari memikirkan ucapan Martin. Memang benar kebanyakan orang jaman sekarang akan menggunakan media sosial untuk mencurahkan isi hati, berbagi pengalaman suka dukanya. Memang ada beberapa masalah serius yang tidak di perdulikan oleh pihak berwajib, tapi begitu cerita itu naik dan di ketahui banyak orang, para masyarakat akan mempertanyakan kemana abdi negara yang bertugas untuk membantu masyarakat bawah? Kegaduhan akan terjadi, dan mau tidak mau pihak berwajib akan mulai bergerak meski lambat, dan ini juga akan membuat pihak-pihak yang menerima suap mulai gelisah dan tidak tenang, lalu pelaku juga akan mendapatkan tekanan yang jelas akan membuatnya terganggu.


" Kalau begitu, apa aku perlu membuat sekarang? " Tanya Helena.


Martin menggelengkan kepala.


Helena paham, dia mengangguk setuju dengan saran yang di berikan oleh Martin. sebenarnya selama ini Helena sama sekali tidak pernah aktif di media sosial karena dia terlalu sibuk dengan dunianya. Bekerja, merawat Velerie, sisa sedikit waktu untuk merawat diri, dan juga untuk istirahat. Meskipun memang tidak tahu benar bagaimana menulis kalimat untuk mengundang simpati, tapi entah mengapa Helena merasa akan dapat melakukannya selama ada Martin yang membantunya.


Ternyata tidak buruk juga ada Martin di sisinya.


Setelah pulang dari sana, Helena benar-benar fokus membuat kalimat yang akan dia unggah di media sosial miliknya. Beberapa kalimat sudah dia buat, dan sebelum dia unggah tentu saja dia perlu memberitahu tulisan itu dulu kepada Martin.

__ADS_1


Di tempat lain.


Martin terdiam menatap photo putrinya yang tepat hari ini usianya tiga tahun. Dia tahu sudah wanita yang dia cintai dan putrinya meninggalkan dirinya seorang diri dengan keadaan yang sangat kacau saat itu.


Rasanya benar-benar berat menjalani hari demi hari tanpa mereka berdua, tapi semenjak dia sibuk dengan kasus Velerie dia semakin bisa perlahan merelakan apa yang terjadi ini. Toh dia masih bisa melihat anaknya meski hanya dari kejauhan, karena kalau di bandingkan dengan Helena yang hanya bisa menatap nisan putrinya, tentu saja Martin jauh lebih beruntung bukan?


Mendengar adanya pesan masuk ke ponselnya, Martin dengan segera membuka pesan itu, membacanya dengan seksama, lalu tersenyum sendiri dengan kalimat yang di tuliskan Helena.


Aku yang menangis di waktu pagi, siang, sore, malam, subuh, sepanjang waktu aku bersedih. Hari itu aku melihat putriku kesakitan dengan berlumuran darah, dan tak lama dia memilih kembali kepada Tuhan setelah lelah berjuang melawan rasa sakit. Aku bingung bagaimana menangani hatiku yang hancur dan sedih, aku berpikir apakah akan lebih baik jika aku mati saja? Tapi seseorang menyadarkan ku bahwa yang harus aku lakukan sekarang ini adalah mendapatkan keadilan untuk putriku. Tapi sungguh sayang sekali tak ada yang mendukung ku, semua seolah tuli dan buta, berpura-pura seolah tak tahu apa yang terjadi denganku. Entah harus kemana lagi aku harus mengemis keadilan, aku bingung dan hampir putus asa karena kejadian menyakitkan membuatku tak pernah bisa tidur dengan nyenyak.


" Bahasanya seperti sebuah puisi, tapi ini juga cukup baik. " Martin kembali tersenyum setelah membalas dengan satu kaya saja yaitu, oke!


" Sofia, Ayah memang memalukan sekarang, hingga Ibumu memilih untuk pergi dan bercerai, bahkan menikah lagi dengan buru-buru. Tapi Ayah janji kau akan merasa bangga kepada Ayah, Ayah janji tidak akan membuatmu merasa malu. " Martin mengusap photo putrinya lalu tersenyum dengan begitu yakin.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2