
Cepatnya, satu minggu telah berlalu sejak Ren pindah ke SMA Nusa Biru. Tidak bisa dipungkiri, sosok Ren sebagai satu-satunya murid pindahan dari luar negeri sangat menarik perhatian. Belum lagi karena penampilan dan kemampuannya yang di atas rata-rata, tanpa sadar Ren telah menjadi salah satu murid yang paling terkenal di sekolah ini.
“Ren! Semangat!”
Baru saja Eva tiba di sekolah, sorak-sorai sekelompok murid perempuan terdengar hingga ke depan pintu. Penasaran, ia pun beranjak ke tempat asal suara yang ternyata adalah lapangan. Terlihat Ren dengan beberapa murid pria sekelas sedang main basket.
“Ayo, Ren!”
“Ren! Jangan kalah!”
“I love you, Ren!”
Selama permainan berjalan, sorakan yang serupa pun terus berlanjut. Sebenarnya Eva ingin menonton, tapi menjadi satu-satunya perempuan yang tidak berteriak membuatnya risih. Lantas ia memutuskan untuk pergi ke kelas saja.
“Gak nonton yayangmu main basket?” tanya Gita begitu Eva tiba di sampingnya.
“Mau sih, tapi aku malu bersorak,” jawabnya. “Dan dia bukan yayangku, Git.”
Gita menyeringai. “Sorakin aja, jangan mau kalah dengan yang lain. Mana tahu setelah mendengar suaramu dia akan menang?”
“Tanpa sorakanku pun kurasa dia pasti akan menang.” Eva masih ingat bagaimana mulusnya Ren memasukkan semua bola three point saat ujian praktek Pendidikan Jasmani minggu lalu. Ujian itu pun yang menjadi ajang untuk menunjukkan kehebatan Ren di bidang olahraga kepada semua orang.
Gita menghela napas panjang. “Baik, ramah, tampan, pintar, juga jago olahraga. Kok bisa, sih, ada manusia sesempurna itu di dunia ini? Jadi pengen putusin pacarku yang bodoh itu.”
“Kok mendadak? Ada apa dengan Kak Raihan? Bukannya kalian baik-baik saja?” Eva mulai penasaran.
“Emang baik-baik saja, sih,” celetuk Gita datar. “Aku malas aja lihat dia. Lama-lama wajahnya kayak jadi jelek, deh, gantengan Ren. Dia pun kalah dari Ren by one basket tadi. Apa aku coba ngejar Ren aja, ya?”
Eva tersenyum sinis. “Silakan saja, aku dukung, kok.” Pasalnya, hampir semua pria tampan di sekolah ini sudah pernah Gita pacari, tapi tidak ada yang pernah bertahan lebih dari tiga bulan. Tidak heran jika ia tertarik juga dengan Ren karena wajahnya dan keterampilannya. Mungkin saja kali ini hubungan percintaan Gita akan berhasil? Bisa jadi.
“Lho? Langsung setuju, nih? Tidak cemburu?” Gita meneliti wajah Eva sesaat lalu menyeringai lebar. “Kamu pasti pura-pura, kan? Kamu cemburu, kan? Ayo, ayo, jangan boong.”
Gita mencubit pipi Eva, tapi segera ditepis. “Ikh, apaan sih? Sudah, ah, aku mau keluar. Sebentar lagi bel berbunyi,” ujar Eva kemudian berjalan keluar kelas, segera disusul oleh Gita.
Pelajaran pertama kelas XI IPA-A hari ini adalah Pendidikan Jasmani. Karena ujian praktek minggu lalu baru berlangsung setengah, hari ini sudah dipastikan akan turun lagi ke lapangan. Jadi, di situlah pemberhentian Eva dan Gita. Seperti yang diduga, permainan basket beserta sorakan fans masih berlanjut meskipun tinggal lima menit sebelum bunyi bel.
“Masih main mereka, gak capek apa?” gerutu Gita langsung begitu melihat sekelompok pria di lapangan basket masih sibuk merebut bola, mengabaikan keringat yang sudah memberatkan baju olahraga mereka.
Sambil berjaga jarak dari kerumunan siswi yang histeris, Eva dan Gita menduduki salah satu bangku batu di sudut lapangan outdoor ini. “Namanya juga laki-laki, suka beraktivitas,” komentar Eva kemudian.
“Tapi apa mereka gak jerah basah-basahan begitu? Bau lagi. Aku paling gak tahan dekat-dekat dengan cowok keringetan, iuy!”
Eva terkikik pelan. Terkadang Gita itu lucu meskipun kata-katanya kasar atau jutek. Eva tidak pernah bosan bersamanya.
__ADS_1
“Kya! Ren!!”
Tiba-tiba grup siswi bertambah heboh teriakannya. Ternyata di detik-detik terakhir Ren berhasil memasukkan bola three point dari tengah lapangan dan mengakhiri pertandingan dengan kemenangan telak 65:30. Para siswi yang tahu diri pun bubar masuk ke kelas masing-masing, menyisakan siswi dari XI IPA-A yang masih terpesona membayangkan permainan barusan.
Sebelum guru mapel Jasmani tiba, para pemain menyempatkan diri untuk istirahat sejenak. Satria si ketua kelas yang juga merupakan kapten tim basket membelikan minuman kepada masing-masing teman bermainnya.
“Terima kasih banyak,” ucap Ren sopan seraya menerima sodoran botol air dingin.
“You’re welcome, bro,” balas Satria. “Permainanmu bagus, Ren. Apa kamu benar-benar tidak ingin bergabung dengan tim basket sekolah?”
Ren menggeleng sambil tersenyum ramah. “Saya sedang tidak tertarik untuk bergabung dan melakukan aktivitas klub,” jawabnya.
“Sayang sekali. Kalau suatu saat nanti kamu berubah pikiran, ingat kasih tahu aku, ya. Kamu pasti tidak akan menyesal bergabung dengan kami.”
Ren hanya tersenyum simpul. Belum sempat ia mengucapkan sesuatu, guru mata pelajaran telah tiba dan semua mulai berkumpul. Sambil mengekori Satria, Ren nyusul bergabung dengan yang lain.
***
Setelah siap berdoa sebelum pelajaran dimulai, dengan cepatnya kelas telah terbagi menjadi dua grup: yang sudah selesai ujian praktek dan yang belum. Karena nama dipanggil secara acak, Eva dan Gita bergabung dalam grup yang belum ujian—mengabaikan nama absen yang berada di depan.
"Waktu pemanasan 15 menit. Bagi yang belum ujian boleh silakan latihan dulu. Sisanya jam bebas, tapi tetap berada di lapangan."
Mengikuti instruksi guru, murid-murid yang tidak ahli olahraga atau sekadar takut nilai rendah pun mulai latihan mati-matian. Bola basket terlihat menggelinding ke mana-mana setelah dilempar. Untunglah ada yang berbaik hati memungutnya.
Eva kebingungan. Pasalnya, ia tidak membenci orang, jadi siapa yang harus ia bayangkan? Karena tidak ingin dimarah, Eva pun meniru gaya sahabatnya lalu melempar bola basket. Sesuai dugaan, tidak masuk dan terpelanting jauh.
"Argh! Bodoh amat sih, kamu? Bisa gila aku lama-lama ajarin kamu!" Gita yang tidak sabaran mulai kesal.
Eva hanya bisa menunduk. "Maaf."
"Kalau begini terus kamu ditakdirkan untuk remedial, Say. Bagaimana? Pasrah saja?"
Eva buru-buru menggeleng. Apapun itu kecuali nilai merah. Ia tidak bisa bayangkan bagaimana reaksi kedua orang tuanya.
"Bagaimana kalau minta Ren ajar? Pangeran kuda putihmu pasti akan membantumu." Gita menoleh dan berteriak, "Ren! Eva-chan butuh bantuanmu!"
"Eh, jangan! Dia pasti lagi—"
"Ada masalah apa, Eva-chan? Bisa saya bantu?"
Tidak sempat dicegah, Ren yang tadinya berada di ujung lapangan tiba-tiba sudah berdiri di samping Eva. Jika ia punya, dapat terbayang ekornya tengah mengibas dengan semangat.
Gita melempar bola kepada Ren—yang ditangkap dengan sempurna. "Tuan putrimu tidak pandai main bola dan dia khawatir dapat nilai merah. Apa kamu bersedia membimbingnya?"
__ADS_1
"Mochirondesu!*" jawab Ren.
"Ok, semangat, ya, Eva." Gita memberikan sebuah kedipan lalu menyingkir.
"Eh, Gita, tung—"
"Sudah siap, Eva-chan?" potong Ren lagi-lagi yang merebut perhatiannya.
Sebelum menjawabnya, Eva melirik ke keadaannya sekitar. Selain Gita yang berada di bawah ring menonton mereka berdua, teman-teman sekelasnya yang lain juga pada curi pandang di tengah latihan mereka. Jantung Eva semakin berpacu begitu menyadarinya. Tapi di atas semua itu, nilai lebih penting. Tiada pilihan, Eva pun mengangguk.
"Mohon bimbingannya, Ren," ucap Eva.
"Baik. Langsung saja, ini caranya." Setelah memberikan bola kepada Eva, Ren seketika berdiri di belakang Eva dan mengambil alih kedua tangannya.
Melihat keintiman mereka, suara aneh sudah terdengar dari sekitar. Eva sedikit terusik, tapi ternyata tidak berpengaruh pada Ren yang tengah serius.
"Posisi tanganmu harus seperti ini. Fokus matamu ke ring lalu arahkan bola ke sana. Pakai tenaga dari lengan kananmu lalu dorong bolanya dengan kuat."
Gaya yang diajar Ren tidak jauh berbeda dari Gita. Namun begitu terlepas dari jemari Eva, bola tersebut mendarat dengan sempurna di ring hanya dalam sekali coba. Kedua mata Eva membelalak.
"Bolanya masuk!" Takut ini hanya kebetulan, Eva meraih bola lainnya lalu melemparkannya lagi. Sekali lagi, bola itu masuk ke ring.
"Bolanya masuk, Ren! Bolanya masuk!" Tidak mampu menahan dari luapan kebahagiaan, tanpa sadar Eva menggenggam erat kedua tangan Ren lalu berloncat ria.
"Kamu berhasil, Eva-chan! Kamu hebat!" Bukannya menghentikan, Ren justru ikut serta heboh bagai anak kecil.
Untunglah Eva telah sadar diri dengan cepatnya. Ia segera melepaskan genggamannya. Tepat pada saat itu, terdengar peluit berbunyi nyaring.
"Waktu pemanasan telah habis. Berikutnya bagi yang namanya dipanggil harap ke garis three point dan melempar lima bola. Yang lainnya menunggu di samping."
Sesuai perintah, murid-murid segera beranjak ke tepi lapangan.
"Semangat, ya, Eva-chan. Jangan gugup nanti," ucap Ren sambil tersenyum penuh.
Eva mengangguk dengan mantap. Meski belum yakin yang tadi itu murni kemampuannya atau sekadar kebetulan, setidaknya ia lebih yakin untuk tidak remedial.
***
Catatan:
*8: Tentu saja dalam bahasa Jepang
Bersambung ...
__ADS_1