Why?

Why?
Mengalahkan Keraguan


__ADS_3

Di ruang yang sunyi, hanya ada suara deru nafas yang memburu, bibir yang bergerak lembut namun dengan ritme cepat. Jantung berdegup cepat seperti irama lagu yang penuh dengan cinta, kehangatan kini menyebar membuat suasana menjadi begitu panas. Sentuhan tangan yang lembut, dua pasang mata terpejam menikmati indahnya gerakkan bibir yang saling menyatu dengan hangat. Begitulah yang sedang terjadi dengan Helena dan juga Martin saat ini.


Entah sejak kapan obrolan mereka menjadi begitu mendalam, intens dan memacu hingga pada akhirnya mereka kini berciuman dengan mesra.


Helena, dia sendiri benar-benar tidak mengerti kenapa Martin selalu saja bisa mencuri kesempatan dan menariknya untuk masuk ke dalam permainan perasaan yang begitu memabukkan.


"Martin!" Helena mendorong tubuh Martin sehingga bibir mereka bisa terlepas dan dia bisa menghentikan kegiatan itu sebentar.


"Aku merasa ini sudah berlebihan, mari kita hentikan ini, Martin."


Martin menatap Helena dengan begitu lekat. Sorot mata Helena, hembusan nafasnya yang begitu hangat seolah membuat Martin begitu gila dan kesulitan menahan diri.


"Apa yang layak di sebut berlebihan dalam sebuah hubungan jika perasaan untuk tetap bertahan dan memperjuangkan itu ada?"


Helena menatap Martin dengan tatapan bingung karena memang dia merasa bingung, perasaan mempertahankan dan berjuang? Apakah Martin sedang membicarakan apa yanga dua rasakan terhadap Helena? Jika iya apakah sungguh Martin tidak akan memberikan luka yang sama seperti yang dia dapatkan sebelumnya dari pasangan?


"Helena, berhentilah banyak berpikir dan terbelenggu oleh ketakutan yang timbul karena masa lalu mu. Aku, juga orang yang memberikan luka itu adalah sosok yang berbeda. Aku tidak bisa mengatakan kalau orang itu buruk, nyatanya manusia memiliki dua sifat itu yaitu buruk dan baik kan? Aku tidak pernah takut melewati batasan apapun karena aku percaya pada diriku sendiri dan siap bertanggung jawab atas keputusan ku."

__ADS_1


Helena terdiam, matanya masih terus menatap Martin yang begitu meyakinkan atas apa yang dia katakan. Sorot mata Martin benar-benar menjelaskan betapa dia sangat tulus dengan ucapannya, selama ini juga Martin cukup menjelaskan bahwa dia adalah pria yang pantas untuk di percaya.


"Aku, aku hanya-" Helena tak bisa lagi melanjutkan ucapannya yang begitu ragu dan terbata-bata, dan segera Martin kembali menyatukan bibir mereka, meraih tangan Helena untuk dia letakkan di dadanya. Dia ingin Helena merasakan bagiamana jantungnya yang berdebar sangat cepat, bagaimana dia begitu tidak bisa mengontrol perasaan dan debaran jantung saat bersama Helena. Memang benar Helena bukan wanita pertama yang dia cintai, tapi Martin benar-benar yakin bahwa Helena akan menjadi wanita terakhir yang akan dia cinta.


Helena tak bisa lagi berbuat banyak, sejauh ini dia sudah memberikan sikap yang tidak jelas semacam tarik ulur, kadang dia menolak kadang juga dia seperti memberikan harapan. Sekarang dia sadar benar bahwa tidak akan bisa mundur lagi dari Martin, sekarang Helena hanya perlu meyakinkan diri, membuka hati dan meyakini bahwa Tuhan tidak akan menyuguhkan kesedihan terus menerus, jadi kali ini Helena akan melakukannya, hidup sesuai dengan alur dan bagaimana baginya memilih jalan hidup.


Bruk!


Martin mendorong tubuh Helena perlahan ke sofa, masih tak melepaskan ciumannya dan dia terus membelai lembut Sakha Helena.


Tapi, sofa itu benar-benar tidak nyaman sehingga Martin bangkit dari posisinya, membawa tubuh Helena untuk menuju satu ruangan yang akan menjadi sangat aman bagi mereka berdua. Aman dari Sofia kalau saja Sofia bangun, dan berjalan keluar nanti.


Martin kembali menggerakkan satu tangannya, mengusap wajah Helena perlahan.


"Helena, kita hidup di jaman modern kenapa masih kaku seperti itu?"


"Tapi......"

__ADS_1


Martin tersenyum, sebentar mengecup kening Helena.


"Aku juga merasa kalau belum waktunya melakukan ini tapi, jika aku mundur maka kau akan kembali merasa ragu. Aku tahu benar bagaimana perasaan mu, Helena. Kau kadang merasa keputusan untuk bersama dengan ku benar, tapi kadang kau juga seperti pengecut yang ragu-ragu dan ingin lari. Saat kau di culik oleh Tuan Feto, aku sudah bersumpah kepada diriku sendiri kalau aku tidak akan melepaskan mu, aku akan menahan mu di sisiku entah bagaimanapun caranya. Sekarang aku memang tidak memiliki banyak uang, tapi percayalah aku akan memberikan yang tebaik, mengutamakan mu dan aku yakin aku bisa membawamu hidup dengan layak."


Helena tak lagi ingin mengelak semua itu, Martin.....Pria yang sekarang hidup di apartemen biasa saja, tidak ada barang mewah, mobilnya juga biasa saja, tapi Martin memiliki keyakinan dan perasaan mendalam, jadi kenapa Helena harus ragu? Di tambah ada Sofia yang cantik dan lucu, sepertinya ini akan jadi menyenangkan bukan?


Helena tersenyum, mengangkat kedua lengannya, memeluk tengkuk Martin membuat Martin terdiam sebentar karena terkejut.


"Aku tidak tahu kalau kau mahir sekali memaksa orang lain." Ujar Helena lalu tersenyum membuat Martin semakin tak bisa menahan diri.


Martin kembali menyatukan bibir mereka, benar-benar terasa begitu indah karena Helena sudah tak lagi terlihat ragu-ragu, bahkan ciuman darinya juga mendoakan balasan dari Helena. Tidak perduli bagaimana orang lain akan menilai mereka, masa bodoh toh hidup adalah hidup mereka. Martin mulai menjalankan tangannya perlahan menyentuh tengkuk Helena memeluknya tanpa melepaskan ciuman. Berjalan pelan terus tangga hingga sampai ke punggung Helena dan perlahan Martin menurunkan resleting dress yang di gunakan Helena. Tangannya bergerak di sana setelah kulit punggung Helena dapat dia rasakan benar. Martin mengusap lembut punggung Helena, mengubah posisi dengan saling memeluk menyamping agar dia bisa lebih leluasa membuka dress yang di gunakan Helena.


Martin sebentar melepaskan ciumannya, tujuannya adalah untuk mengambil posisi dan bisa dengan mudah mengatakan dress yang di gunakan Helena. Tentu saja Helena terlibat sangat malu dan tidak rela, tapi mau bagiamana lagi? Sepertinya Martin sudah tidak bisa di hentikan lagi, dia benar-benar seperti dahaga sekali yang membutuhkan air untuk melegakan dan menyegarkan tenggorokannya.


Kini Helena benar-benar hanya bisa menahan dirinya yang merasa begitu malu karena keadaannya benar-benar sangat memalukan sekali. Martin juga seperti tidak merasa. bersalah sama sekali, dia justru sudah dengan cepatnya melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya.


"Helena, sekarang kau benar-benar hanya milikku, kau di larang melihat melihat pria lain meskipun dia lebih tampan atau bahkan pria itu adalah aktor favorit mu."

__ADS_1


Tak menunggu jawaban dari Helena, Martin kembali melanjutkan aksinya.


Bersambung.


__ADS_2