Why?

Why?
Membongkar Makam


__ADS_3

"Aku hanya melakukan apa yang dia katakan. Aku tidak bisa membantumu karena aku juga harus melindungi keluargaku. Bukti dan saksi sudah tidak ada lagi, jadi kau tidak akan bisa melakukan apapun, dan aku juga tidak bisa membantu apapun."


Helena terkekeh sembari menahan tangisnya, melindungi keluarga? Hah! Kenapa serumit ini masalahnya?


"Katakan saja intinya, katakan bagaimana mobil yang menabrak putriku pergi karena saat itu aku tidak memperhatikanya, kau pasti melihat rekaman kamera pengawas sebelum menghapusnya bukan? Katakan saja, aku hanya ingin tahu itu, dan kau juga bisa selamat dari ini." Helena menunjukkan layar ponselnya, membuat kepala sekolah tak memiliki pilihan lain.


"Mobil itu, dia langsung memutar arah dan meninggalkan kejadian dengan cepat."


Helena terdiam, mengepalkan tangannya menahan kemarahan yang begitu besar. Dia tersenyum meksi niatnya adalah menangis, dia tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi, dia sungguh tidak sanggup mengatakan apapun.


Kepala sekolah, guru sekolah, polisi, kantor pengacara, semua orang, bahkan keluarganya juga seolah memiliki andil atas meninggalnya Velerie.


"Aku bersumpah, aku bersumpah dengan tangan kosong ini aku akan membawa kalian semua yang terseret, membantu untuk menutupi kejahatan ini mendapatkan hukuman yang menyakitkan."


Setelah mengatakan itu Helena langsung meninggalkan ruangan kepala sekolah menuju apartemennya. Sudah, ini tidak bisa dia lanjutkan hari ini, dia harus menyusun rencana yang matang untuk bisa mendapatkan dan menghukum semua pelaku yang berkonspirasi. Tidak perlu mendatangi alamat yang di katakan Martin, tidak juga ingin melibatkan Martin karena gara-gara dirinya Sofia kini akan mendapatkan ancaman serius.


Helena turun dari taksi, masuk kedalam gedung apartemen dan berjalan dengan mimik wajahnya yang terlihat begitu suram. Sudahlah, ternyata menggunakan jalur hukum memang tidak ada gunanya, jadi bukankah akan lebih baik menekan mereka, membuat mereka gak ada pilihan lain selain mengatakan apa yang ingin dia ketahui.


Sudah akan sampai di pintu apartemennya, namun langkah kaki Helena terhenti begitu melihat Martin berdiri, menyandar di dinding sebelah pintu apartemen, dan kini tengah menatapnya. Helena tak mengatakan apapun, begitu juga dengan Martin. Mereka seolah bisa membaca apa yang mereka pikirkan satu sama lain.

__ADS_1


"Kau pasti lelah, jadi istirahat lah, tenangkan dirimu, aku datang hanya untuk memastikan kau benar-benar sampai apartemenmu dengan selamat."


Helena masih tak ingin bicara, dia diam seribu bahasa karena apa yang terjadi hari ini benar-benar membuatnya sangat lelah. Lelah menerka, lelah bersedih, lelah merasakan kecewa. Dia ingin menangis tapi juga merasa akan sia-sia saja air matanya. Apakah dengan menangis bisa menyelesaikan semua masalah yang ia rasakan? Tidak, tentu saja tidak bukan?


"Kau tidak perlu memikirkan apa yang terjadi hari ini, aku tahu kau lelah dan marah sekali, tapi jangan lupakan bahwa, melakukan tindakan saat marah adalah hal yang akan kau sesali nantinya."


Helena mencengkram tali tas yang sejak tadi dia pegang hingga tangannya gemetar.


"Aku, aku, aku hanya tidak mengerti, apa salah anakku? Apa kesalahan yang di lakukan seorang gadis kecil yang bahkan tidak tahu cara menatap marah kepada orang lain? Apa salah anakku? Aku tidak mengerti, kenapa mereka melakukan ini kepada anakku? Kenapa harus anakku? kenapa?" Herlan tak lagi bisa menahan air matanya, membuat tubuhnya gemetar hebat membayangkan kembali bagaimana anaknya meregang nyawa di dalam pelukannya.


Greb!


"Tidak apa-apa, kau sudah berjuang, kau sudah kuat dan tetap hidup demi putrimu, kau sudah melakukan sebaik ini, jadi jangan merasa kalah dan tidak berdaya."


Martin masih terus menepuk punggung Helena yang semakin terisak di pelukannya. Sebenarnya, melihat Helena seperti sekarang seperti melihat dirinya sendiri beberapa tahun lalu. Dia kehilangan Ibunya, kehilangan Ibu kandung untuk selamanya, di benci kakaknya, kehilangan istri dan anak yang lebih memilih untuk hidup dengan sosok baru yang dia anggap jauh lebih baik dibanding dirinya. Ketidak berdayaan seperti yang di rasakan Helena tentu saja adalah hal yang wajar, jadi tidak masalah dia akan menangis sebanyak apapun. Menangis adalah ekspresi kesedihan bukan menjelaskan bahwa menangis itu berarti lemah.


Beberapa saat kemudian.


Helena dan Martin kini sudah berada di dalam apartemen. Tentu saja untuk membicarakan hal serius tentang tujuan mereka, jadi akan lebih baik kalau berada di dalam kan?

__ADS_1


"Jadi kau akan benar-benar mengundurkan diri? Bagaimana dengan ancaman orang itu? Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Sofia?"


Martin menghela nafasnya, sebenarnya dia memang sengaja membuat dua surat pengunduran diri, karena cepat atau lambat dia harus melawan mereka semua, melawan pengacara Jhon dan membawa keadilan untuk Velerie juga demi menepati janji untuk memperbaiki satu kesalahan yang pernah dia lakukan di masa lalu.


"Surat pengunduran yang pertama aku gunakan untuk membuat perhatian Pengacara Jhon teralihkan. Tapi semenjak dia memiliki niat untuk mencelakai Sofia untuk mengancamku, aku tidak bisa tinggal diam dan mengikuti keinginannya. Dia ingin terus membelenggu ku, menekan ku, jadi aku tidak bisa menerimanya. Lagi pula, kita sudah berjanji untuk berjuang bersama bukan?" Martin menatap Helena, tersenyum dengan tulus membuat Helena merasa yakin dengan apa yang di ucapkan Martin memang tulus.


"Baiklah, aku janji tidak akan membuat kesalahan dengan bertindak saat suasana hatiku sedang kacau. Aku akan mencoba untuk mulai menekan emosiku, dan mendengar saran mu dengan baik."


"Tidak, kau juga pantas dan berhak memiliki pendapat sendiri dalam bertindak. Aku tidak bisa mengatakan bahwa semua ucapanku akan baik untukmu, jadi itulah kenapa kita harus terus bekerja sama, dan jangan ragu untuk menyampaikan pendapat satu sama lain."


Helena mengangguk paham. Apa yang di katakan Martin memang benar, lagi pula kalau dia tidak di lindungi dan di bantu oleh Martin mana mungkin dia bisa memiliki bukti Transaksi akun bank milik kepala sekolah?


"Ngomong-ngomong Helena, aku ingin mengatakan seja lama, aku juga sudah mencoba untuk terus memikirkan semua ini, jadi maafkan jika apa yang aku katakan ini menyakiti hatimu."


Helena terdiam, dia tak menanggapi karena dia sedang menunggu apa yang ingin di katakan Martin, atau menunggu Martin selesai mengatakan apa yang ingin dia katakan.


"Helena, bagaimana kalau kita bongkar lagi makam putrimu untuk autopsi? Aku merasa sangat janggal setelah memikirkan segala kemungkinan yang terjadi."


Helena terdiam, dia terlihat sedih sembari menatap Martin.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2