Why?

Why?
Kembalikan Ginjalku!


__ADS_3

Martin menggelengkan kepalanya, tentu saja tidak bisa seperti itu. Dia tidak bisa membiarkan Helena dalam bahaya, terutama masalah hukum karena Martin yakin sekali pengacara Jhon akan membuat Helena tak bisa lepas sedikit saja kesalahan yang dia buat, pengacara Jhon akan memanfaatkan peluang itu dengan sangat baik.


"Kau tahu itu berbahaya untukmu, kau tidak lupa kalau pengacara Jhon sedang mengincar mu bukan?"


"Kalau begitu, bantu aku dengan caramu, tapi jangan halangi aku, jangan menghentikan ku, aku akan melakukannya dengan tanganku sendiri."


Martin menggenggam tangan Helena dengan kuat.


"Jangan lakukan itu, aku tidak bisa membantumu jika kau membunuh orang."


Helena terdiam sebentar.


"Kenapa aku harus membunuh kalau aku bisa membuat hidup mereka seperti sekarat? Kematian adalah hal yang indah, jadi untuk apa aku memberikan kematian untuk mereka?"


Martin menghela nafas lega. Iya, asalkan Helena tidak membunuh orang, bagaimana pun caranya Martin akan mencoba untuk tetap melindungi Helena.


"Baiklah, aku ada di belakangmu."


Ucapan Martin barusan benar-benar membuat Helena merasa tenang. Meski sedikit mengingatkan dia kepada David yang dulu begitu pengertian, namun begitu dia tersadar bahwa mereka adalah sosok yang berbeda, Helena harap Martin tidak akan seperti David yang selaku goyah dan tidak berdaya setiap waktu. Helena harap suatu hari nanti jika Martin menemukan pasangan yang akan menjadi istri dan juga Ibunya Sofia, Martin akan tetap bertahan dan kukuh untuk bersama agar ria seperti David tahu bagaimana rendahnya perbuatannya itu.


Martin tersenyum begitu melihat Helena yang terlihat cukup tenang. Sebenarnya entah mengapa juga dia begitu menjaga Helena dan mementingkan perasaannya, tapi sebagai seorang pengacara, manusia biasa, dan orang yang memiliki seorang putri, Martin harap Helena akan membaik, sakit yang begitu dalam dan menyakitkan di hatinya perlahan untuk bisa memudar dan Helena bisa melanjutkan hidup dengan baik.


Beberapa hari kemudian.

__ADS_1


Pengacara Jhon mengeraskan rahangnya, dia tahu tindakan Martin dan juga Helena yang secara diam-diam sangat merugikan dirinya. Hari ini Helena mengirimkan pesan kepada Pengacara Jhon, memintanya untuk berhenti menjadi pengacara yang akan membatunya dalam kasus ini, dan sialnya Helena tidak menyebutkan siapa yang akan menggantikannya.


Martin, pria itu tidak ada kabar sama sekali selain terus berada di rumah tua yang katanya juga adalah kantor firma hukum. Jelas ini tidak biasa, walaupun kantor pengacara itu adalah kumpulan pengacara lawas yang tidak terkenal dan jarang mendapatkan tawaran untuk menjadi kuasa hukum.


"Berani sekali meremehkan ku hanya karena aku menggunakan cara biasa beberapa waktu kemarin." ujar pengacara Jhon sembari menatap kesal dinding ruangannya.


"Aku harus bertindak dengan cepat dan tepat, karena kalau tidak semuanya akan berakhir dengan buruk." Gumam pengacara Jhon, lalu bangkit dari duduknya. Sial! Beberapa waktu ini ada banyak sekali artis yang meminta dia untuk secara langsung menjadi kuasa hukumnya, bahkan ada tiga pejabat yang meminta bantuannya untuk mendampingi kasus hukum yang sedang menjerat mereka. Ada yang terjerat kasus pelecehan, korupsi, kekerasan dalam rumah tangga, dan itu semua membuat pengacara Jhon seperti tak ada waktu dan konsentrasinya jadi harus terbagi-bagi.


Kenapa bisa?


Itu karena Martin selama ini bekerja keras untuk membuat pengacara Jhon semakin di kenal, di sengaja menyarankan pengacara Jhon dengan menyebarkan kabar bahwa pengacara Jhon adalah Pengacara terbaik di negeri ini, buktinya dia bisa membantu menemukan pelaku penabrak Velerie hanya dalam waktu satu Minggu.


Bukankah Pengacara Jhon juga pantas di sebut sebagai detektif yang hebat?


Sekarang dia benar-benar terkenal, dan konsentrasinya terhadap Helena tak seperti beberapa waktu lalu.


Helena tersenyum miring menatap Farah yang kini terdiam menatap ke arahnya. Ya, dia terlihat terkejut dan juga tertekan begitu Helena masuk ke ruangannya. Farah bukan hanya seorang Dokter ahli tulang, dia juga seorang ahli forensik. Untuk bisa sampai di sana Helena benar-benar melakukan hal cukup ekstrim yaitu, membuat satu jari kakinya keseleo.


"Kau tidak datang dengan tujuan lain bukan?" Tanya Farah yang masih mencoba untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dia pikirkan. Yah, tidak apa-apa toh Helena juga tidak akan perduli apa yang di pikirkan Farah. Sekarang hanya perasaan Helena saja, rasa sakit dan rasa marah Helena yang harus dia kedepankan. Maka, jangan salahkan wanita yang telah kehilangan anaknya dengan cara yang begitu sadis.


Helena tersenyum, berjalan mendekati Farah, duduk di kursi yang berseberangan dengannya.


"Dokter Farah, bisakah kau periksa satu hari kakiku yang aku paksakan untuk patah tapi malah tidak patah?" Farah mengeryitkan dahi, gila! Apa yang di katakan Helena, apa dia sedang mengatakan omong kosong hanya untuk membuat Farah tertekan?

__ADS_1


Beberapa sat kemudian, setelah Farah memeriksa dan melakukan scan pada kaki Helena.


"Tidak ada yang serius, sementara biarkan dulu dan jangan mengusik hati kakiku yang sakit. Obat dan juga salepnya kau bisa ambil nanti."


Pft......!


Helena menahan tawanya, menatap Farah dengan tatapan menghina, merendahkan bahkan mencemooh dengan kasar meski bibirnya tak mengatakan apapun.


"Apa yang coba kau tertawakan?" Farah menatap Helena, dia terlihat sedikit kesal, dan hal itu membuat Helena jadi ingin semakin tertawa.


Jubah Dokter, nametag yang berada di sana, ucapan Farah barusan, semuanya benar-benar nampak lucu dan menggelikan sekali. Dulu Farah adalah orang yang paling dekat dengannya, sudah tidak terhitung lagi betapa banyak uang yang di pinjam Farah namun hingga kini belum mendapatkan gantinya. Melihat bagaimana kedua orang tua Farah yang sakit, harus menghidupi mereka dan mengisi diri sendiri, di tambah adiknya yang sedang kuliah dengan jurusan hukum, bukankah Helena akan merasa malu jika menagih uangnya sendiri? Tapi, jangankan uang, senyum yang terbit di bibir Farah juga seperti sebuah hutang yang harus di tagih dan di dapatkan kembali oleh Helena.


Helena mendekatkan dirinya untuk berbisik kepada Farah.


"Apa itu menyenangkan? Apa kau tidak bermimpi buruk setiap malam?"


Helena tersenyum seraya menjauhkan dirinya dan menatap Farah yang terlihat sangat terkejut hingga tak bisa mengatakan apapun.


"Bibi Farah, kembalikan ginjalku, kembalikan, jangan curi ginjalku, kembalikan, kembalikan.....Kau pernah bermimpi seperti itu? Apakah Velerieku lebih menakutkan di dalam mimpimu?"


Farah terdiam dengan tubuhnya yang mulai gemetar hebat, padahal awalnya dia ingin bersikap biasa saja dan akan lebih tegas kepada Helen agar Helena tidak mencurigai apapun padanya.


"Farah, aku memiliki banyak bukti betapa hinanya dirimu. Kau tidak lupa seberapa dekatnya kita dulu bukan? Aku bahkan memiliki rekaman kamera pengawas di mana kau dan kakak iparmu melakukan hal gila di apartemenku. Aku juga memiliki bukti bahwa kau mencuri kedua ginjal putriku. Tenang saja, aku tidak akan melaporkanmu ke polisi, tapi cobalah lihat unggahan di internet, lihatlah betapa banyaknya pengguna internet menikmati dan memuji aksimu."

__ADS_1


Farah dengan segera mengeluarkan ponselnya meski tubuhnya gemetar hebat.


Bersambung.


__ADS_2