
Para ahli forensik kini tengah menyelesaikan pekerjaannya, dan mereka bertiga juga hanya bisa menunggu hingga selesai. Setelah itu semua rampung, dokter forensik sudah mengatakan jika butuh waktu untuk mendapatkan hasil observasi dari lab. Bisa dia atau tiga hari, bahkan Minggu. Jadi baik Helena ataupun Martin hanya bisa menunggu dengan sabar sekarang.
"Sudah selesai, jadi kau bisa mencoba untuk tenang. Walaupun hari ini adalah salah satu hari yang tidak ingin kau ingat, tapi percayalah tidak ada usaha yang akan percuma jika tujuannya adalah untuk kebaikan." Ucap Martin kepada Helena yang membuat David merasa tidak nyaman.
Perhatian yang di berikan Martin seperti mengingat akan dirinya dahulu selama menikah dengan Helena. David sejatinya adalah pria yang penyayang dan perhatian, dia tidak pernah mempermasalahkan gender untuk melakukan hal baik, dan memberikan perhatian kepada semua orang yang berada di dekatnya. Tapi sialnya David lupa satu hal bahwa terlalu memperhatikan tanpa memandang Gender kadang kala akan membuat orang menyalah pahami maksud perhatian yang dia anggap biasa saja. Karena sikap seperti itulah akhirnya David harus bercerai dari Helena dan menikahi Melisa.
"Martin, aku benar-benar sangat lelah, aku ingin kembali dan mengambil waktu untuk istirahat secepat mungkin." Ucap Helena yang tak tahan lagi berada di sana, dia ingin segera kembali ke apartemen, masuk ke dalam kamar Velerie, dan menangis dengan tenang di sana.
"Baiklah, biar aku antar kau pulang." Ucap Martin. Mereka datang kesana berdua, jadi tentu saja mereka harus pulang berdua juga bukan?
"Biarkan aku saja, kami satu arah.'' Ucap David yang langsung mendapatkan tatapan tak suka dari Martin. Bukan cemburu, hanya saja Martin kesal karena David memang sulit untuk paham bahwasanya saat ini Helena pasti sedang tidak ingin bersama dengan David dan mendengar David yang nanti akan banyak bertanya kepada Helena.
Helena membuang nafasnya, pergi bersama David sudah jelas itu artinya dia mencari masalah dengan Melisa. Dulu mereka berdua adalah teman dekat, dan dulu sekali Melisa juga adalah gadis yang cantik dan manis. Tapi sejak Helena menikah dengan David, dia terus menunjukkan bagaimana dirinya yang sebenarnya sedikit demi sedikit. Begitu lahir Velerie, dan saat dia tahu Velerie memiliki kelainan, Helena merasa Melisa terlihat senang. Duku Helena pikir itu adalah perasaannya saja, tapi tapi akhirnya kecurigaannya terjawab sudah dan Helena sangat paham bagiamana seorang Melisa yang sebenarnya.
Martin, pria itu benar-benar sudah sibuk sejak pagi tadi. Dia melihat bagaimana Martin benar-benar serius dalam hal ini, dia pasti lelah sekali bukan?
__ADS_1
"Aku ingin pulang sendiri." Ucap Helena.
"Tapi, keadaan mu sedang tidak baik." Ujar David dan juga Martin bersamaan.
"Aku pulang dengan taksi, jadi kau tidak usah khawatir, lagi pula aku benar-benar ingin sendiri dulu."
Martin mengangguk paham. Iya, Helena adalah wanita yang keras kepala, jadi apapun yang dia katakan tentu tidak akan di dengarkan bukan?
Setelah kepergian Helena, David langsung menatap Martin guna menanyakan apa yang sebenarnya terjadi hingga makam putrinya harus di bongkar.
Martin memaksakan senyumnya.
"Lalu, bagaimana jika sebenarnya Velerie tidak tenang di alam sana? Kemungkinan akan selalu ada, aku hanya mengandalkan insting dan keberuntungan saja."
David menggeleng keheranan, dia benar-benar kecewa karena tidak ada perasaan dan mimik bersalah sama sekali di wajah Martin setelah membongkar makam putrinya. Iya tentu dia paham gunanya makam di bongkar dan di autopsi untuk apa, hanya saja David masih agak bingung dan tidak mengerti kenapa harus sampai sejauh ini dalam bertindak?
__ADS_1
"Lalu bagaimana jika pada akhirnya tindakan ini tidak memberikan apa yang kau inginkan? Hem? Katakan padaku bagaimana kau akan bertanggung jawab? Ini bukan hanya soal membongkar makam putriku saja, tapi ini juga mengangkut perasaan Helena juga. Kau tahu betapa dia sangat menyayangi anaknya kan? Dia akan tersiksa karena apa yang terjadi hari itu akan kembali dia ingat dengan jelas, dan membuat ingatan akan harus menyakitkan itu pilih segar, kau seperti menambahkan garam di atas luka yang masih menganga segar."
Martin menghela nafasnya, haruskah dia menjelaskan secara rinci tentang tujuan dan apa rencana mereka selanjutnya kepada pria yang katanya adalah Ayah dari Velerie? Sejauh ini Martin hanya melihat usaha Helena dan bagaimana dia seperti putus ada setiap waktu. Matanya Helena yang memancarkan kebencian akan situasi yang membuatnya kehilangan Velerie, dan bagiamana gigihnya Helena mendapatkan keadilan untuk putrinya, kenapa Martin tidak melihat sosok di hadapannya itu membantu Helena dan putri mereka? Bahkan saat sidang kemarin saja dia sama sekali tidak terlihat.
"Tuan, kemarin adalah sidang pertama untuk kasus tabrak lari yang menewaskan putrimu. Sejauh ini Helena terlihat begitu mati-matian mencari keadilan untuk anaknya, tapi kemana kau selama ini? Aku sama sekali tidak melihatmu hingga aku mengira kalau sebenarnya Ayah kandung Velerie sudah mati." Martin tersenyum polos setelah selesai mengatakan itu. Tentu saja dia tahu ucapannya akan membangkitkan emosi dan perasaan tidak nyaman, tapi apa yang di katakan Martin jelas adalah kenyataan bukan?
"Aku tahu, tentu saja aku tahu benar. Aku juga terus memantau bagaimana pengguna internet menyerbu media sosial Helena. Aku salah, jelas aku salah karena tidak menemani Helena dalam mencari keadilan untuk putri kami. Tapi aku juga dalam kondisi yang tidak berdaya, aku terkekang oleh keadaan, aku tidak bisa melakukan apapun sebanyak yang Helena lakukan." David terlihat sedih, tapi dia juga terlihat begitu membenci dirinya sendiri karena pada akhirnya dia masih tak bisa mendapatkan haknya sebagai seorang manusia pada umumnya.
Martin terdiam sebentar, dia pikir David akan kesal mendengar ucapannya tadi, ternyata David adalah orang yang kesadaran dirinya cukup tinggi. Dia tenang, dan juga mudah menerima masukan dan kritikan, hanya saja Martin merasakan dan menyimpulkan dari apa yang di katakan David barusan bahwa sebenarnya David adalah orang yang tidak memiliki prinsip hidup yang tinggi. Yah, tentu saja kalau masalah prinsip Martin juga memang lemah.
"Cobalah untuk lebih mendukung Helena, sejak awal dia mencoba untuk mendapat keadilan bagi putrinya, dia seorang diri, tidak ada yang mendukung apalagi membuatnya kuat. Helena terlihat begitu mandiri, dia bergantung kepada dirinya sendiri hingga tidak tahu kalau diri sendiri tidak akan selalu bisa menyelamatkannya."
David mengangguk paham dan setuju.
"Aku akan mencoba untuk itu."
__ADS_1
Bersambung.