
Martin terdiam sebentar, benar! Bahkan jika kesakitan itu begitu menyiksa, bukankah jalan untuk sembuh dengan merelakan rasa sakit bukankah pilihan yang seharusnya?
"Baiklah, aku mengatakan itu bukan berniat untuk mengorek tentang masa lalu mu, ada beberapa hal yang mengganjal jadi aku pikir kalau melibatkan dia akan sedikit lebih terang."
Ucapan Martin barusan membuat Helena menatapnya dengan serius.
"Hal apa sampai kita membutuhkan dia?"
Martin sebentar terdiam, memikirkan apakah yang akan dia katakan itu tidak masalah? Bagaimanapun kebanyakan yang namanya mantan istri dan mantan suami pasti akan memilih untuk tidak saling bertemu agar tidak perlu saling memaksakan diri untuk bertegur sapa dan berbicara, tapi Martin pikir akan lebih baik kalau mendapatkan jawaban secara langsung dari David.
"Begini, dua ginjal anakmu hilang tentu saja kau bertanya kemana ginjal anak mu kan? Aku sudah mencoba melacak transaksi rumah sakit dengan pihak tertentu, tapi rumah sakit ingin menyelamatkan diri sehingga membuat kesalahan ini menjadi kesalahan pribadi yang di lakukan oleh Farah. Tapi begitu aku menelusuri aktivitas Farah, sepertinya ginjal putrimu sangat berharga sekali sehingga tidak tanggung-tanggung memberikan upah kepada Farah. Intinya, orang yang mencuri ginjal anakmu seharusnya adalah orang yang dekat dengan putrimu, dia tahu ginjal putrimu cocok untuk seseorang yang sangat berharga untuknya."
Helena nampak gugup, juga merasa sangat takut. Orang dekat? Siapa? Begitu Helena mendapatkan dugaan dia langsung kembali menatap Martin.
"Lalu, kenapa kau tadi mengatakan butuh bantuan David?" Tanya Helena yang pasti tatapan mata Helena benar-benar terlihat serius dan menuntut untuk mendapatkan jawaban yang paling meyakinkan untuknya.
__ADS_1
Martin membuang nafasnya perlahan, menatap kembali Helena yang kini terlihat tubuhnya mulai gemetar, dia pasti memikirkan hal yang menakutkan bukan?
"Aku mencoba mencari tahu bahwa anaknya David sakit parah sejak usianya dua tahun, sialnya informasi tentang dia sangat di lindungi. Aku juga tidak bisa mendapatkan informasi apapun dari rumah sakit yang jelas tidak akan memberitahu apapun tentang pasiennya."
Helena mengepalkan tangannya, benar! kenapa dia melupakan hal ini? Anaknya David dan Melisa memang sakit parah sejak usia balita, tapi Helena yang sama sekali tidak perduli saat itu dia tidak sekalipun menanyakan sakit apa, toh dia sama sekali tidak perduli dengan anak manga suaminya. Tapi, alangkah bodohnya karena selama ini Helena tidak memikirkannya?
"Apakah jika aku bertanya, David akan menjawab pertanyaan ini? Bagaimanapun David seperti kebanyakan para orang lain bukan? Kalau di minta untuk memilih, tentu saja dia akan lebih memilih anaknya yang tidak memiliki cacat bukan?"
Martin menghela nafasnya, benar tentu saja apa yang di katakan Helena benar, tapi apakah mungkin sedikit saja David tidak mungkin membantu? Bagaimanapun Velerie adalah anaknya bukan?
Melihat Helena yang mulai di kuasai kemarahan, kesedihan dan dendam yang begitu membara, Martin meraih tangan Helena yang mengepal sampai gemetar kuat.
"Tenangkan dirimu, aku tahu ini dimana menyakitkan bahkan walaupun ini adalah dugaan saja. Jangan membiarkan dirimu di kuasai kemarahan, itu akan membuatmu rugi, kau jelas akan bertindak salah, jadi tenangkan dirimu, percayalah pada akhirnya kita pasti akan menang."
Helena perlahan mencoba menenangkan dirinya dengan mengatur nafas perlahan-lahan.
__ADS_1
"Aku, aku hanya tidak bisa membayangkan kalau ini semua benar, aku benar-benar tidak akan memaafkan jika ini benar. Aku, tidak bisa menerima jika sosok yang paling aku cintai, satu-satunya orang yang mencintaiku, dan aku cintai, putriku yang malang itu, putriku yang paling aku cintai itu mana boleh di sakiti dengan begitu kejamnya?" Helena gak tahan lagi, dia menangis meski suaranya pelan tapi melihat dia memegangi dadanya yang sesak dan kulitnya yang terasa dingin, jelas sekali Helena menahan diri dengan begitu kuat. Walaupun Martin seorang pria dan tidak tahu rasanya hati wanita, tapi apa yang dia lihat dari acara Helena menahan diri rasanya dia seperti merasakan sakit yang sama hingga dadanya seperti sesak dan berdenyut.
"Aku tahu, kau sudah berjuang sejuah ini, maka bersabarlah sebentar lagi. Kau pasti bisa melewati ini dengan baik, Helena." Martin mengubah posisinya, kini dia dia memeluk Helena dengan posisi dia berdiri dan Helen duduk.
"Martin, aku mungkin tidak akan bisa menahan diri, tidak bisa menepati janji, jika nanti pada akhirnya aku membunuh orang, tolong maafkan aku, maafkan aku yang sepertinya akan sulit menepati janjiku padamu." Ucap Helena tapi tak mendapat jawaban dari Martin yang memilih untuk tidak menjawab ucapan Helena.
Tidak, aku akan menghentikan itu, aku tidak akan membiarkan tangan indah mu kotor, aku janji akan melindungi tanganmu dari noda darah, Helena.
Di sisi lain.
Farah benar-benar seperti gila sekarang. Dia benar-benar tidak sanggup menghadapi hidupnya yang suram sekali, hancur. Rumah sakit melimpahkan semua kesalahan padanya, dia di pecat secara tidak hormat, semua orang menyatakan dirinya, menuntut untuk mengembalikan ginjal Velerie yang sudah dia curi, bahkan para tetangga juga mengatai jika Farah adalah pencuri yang handal. Pertama mencuri dua ginjal milik anak dari sahabatnya, kemudian mencuri suami kakaknya sendiri. Jangankan Farah, keluarga Farah yang lain juga jadi tidak berani asal keluar rumah kalau tidak sangat penting sekali.
"Sialan! kenapa seperti ini? Tidak boleh, tidak boleh seperti ini! Aku harus menjadi ahli bedah dan ahli forensik, aku ingin mendapatkan apa yang aku inginkan, lalu kenapa semuanya hancur?!" Farah mengacak rambutnya tidak perduli lagi bagaimana penampilan dia sekarang. Semua barang di kamarnya kini sudah berada di lantai, berantakan kemanapun masa bodoh dia sama sekali tidak perduli.
Awalnya orang tua Farah begitu membelanya, tapi setelah semua jadi seperti ini mereka justru ikut menyalahkan Farah meski tidak secara langsung mereka lakukan. Kakaknya Airi juga sama sekali tidak di ketahui keberadaannya, suaminya sudah mencari kesana kemari juga masih belum bisa menemukan dia. Sebab itulah orang tua Farah semakin menekan Farah, dan berkata, seandainya saja kau tidak melakukan itu dengan kakak iparmu, Airi pasti akan sangat membantu mu."
__ADS_1
Bersambung.