Why?

Why?
Masalah Karena Diri Sendiri


__ADS_3

"Jangan menunjukkan ekspresi seperti itu, meskipun anda berhasil merebut ponsel ini, tentu saja sudah sangat percuma karena aku sudah mengirimnya ke email ku, juga mengirimkan kepada pengacaraku. Percayalah padaku jika aku tidak kembali dalam keadaan utuh, pengacaraku akan datang, dan anda tahu apa selanjutnya bukan?"


Kepala sekolah membuah nafas kasarnya, dia benar-benar tidak berdaya dan putus asa. Padahal untuk menjadi seorang kepala sekolah di SLB elit seperti sekarang tidaklah mudah, dia butuh dua puluh satu tahun barulah sampai ke titik ini. Padahal hanya melakukan sedikit saja kesalahan, tapi karir nya sudah hancur seperti ini.


Helena tersenyum tipis melihat kepala sekolah yang tidak berdaya.


"Anda tahu benar sekarang kan? Tindakan yang salah pada akhirnya akan membuat semua pengorbanan dan kerja keras anda hancur. Jujur aku tidak kasihani melihat anda, tapi aku tulus mendoakan agar anda tidak mengalami apa yang aku alami." Setelah mengatakan itu, Helena meraih tasnya, bangkit dari duduknya, sebentar menatap kepala sekolah lalu beranjak meninggalkan ruangan kepala sekolah. Untuk atau tujuan penting, Helena belum bisa mengunggah pengakuan kepala sekolah, jadi dia akan menahan semua bukti dan bergerak ke arah yang lain.


Kepala sekolah membuah nafasnya, mengusap wajahnya karena sepertinya dia benar-benar tidak memiliki pilihan lain sekarang. Benar dia salah, benar dia mencoba untuk mencari kebenaran padahal apa yang dia lakukan salah.


Setelah keluar dari SLB, Helena memutuskan untuk segera kembali ke apartemen lebih dulu, dia benar-benar sangat lelah dan butuh sebentar untuk bisa mengistirahatkan diri.


Sesampainya di apartemen, segera Helena menuju ke kamarnya untuk melihat laptopnya. Segera Helena melihat unggahan tentang rekaman suara dan juga video Farah yang kini sudah banyak tersebar. Semua benar-benar berjalan seperti yang dia inginkan, hanya saja akun dari pengunggah itu ternyata telah di sembunyikan. Helena tersenyum tipis, itu pasti Martin bukan?


Bahkan tanpa di minta tolong pun Martin begitu sigap membantunya, jadi bagaimana bisa Helena tidak mempercayainya?


Beberapa hari kemudian.

__ADS_1


Farah mengunci dirinya di kamar seharian karena merasa tidak sanggup menghadapi pertanyaan kedua orang tuanya, di tambah kakaknya sudah datang untuk menanyakan apakah benar apa yang tersebar di internet? Walaupun kakaknya mengatakan seperti itu, tetap saja Farah tahu kakaknya pasti akan melampiaskannya emosinya bukan?


Bagaimanapun kakaknya juga cukup berjasa dalam hidupnya, tapi mau bagiamana lagi? Perasaan tertarik kepada suami kakaknya itu muncul perlahan dan sulit untuk di cegah. Bertahun-tahun dia menyembunyikan hubungannya dengan suami kakaknya, dia juga sadar jika tidak ada harapan dengan hubungan yang mereka jalani, makanya Farah sedang mencoba untuk perlahan berhenti. Tapi, Helena justru dengan jahatnya melakukan ini semua, menghancurkan segalanya, bahkan pihak rumah sakit meminta Farah untuk tetap di rumah sampai mereka memutuskan bagaimana akan memberikan keputusan untuk Farah nanti.


Nama baik hancur, hubungan dengan keluarga hancur, Karier hancur, padahal untuk menjadi seorang Dokter di usia muda sangatlah sulit, bahkan yang satu angkatan dengannya hingga saat ini masih menjadi dokter pendamping saja.


Dug dug


Suara pintu di pukul berkali-kali, dan itu pasti adalah kakaknya Farah.


Hati kakak mana yang tidak sakit saat suaminya justru memiliki hubungan dengan adiknya, bahkan di rekaman itu Farah begitu lihai berperan sebagai lawan suaminya. Sakit sudah jelas dia rasakan, marah juga jelas dia rasakan.


Padahal kalau saja dia tahu suaminya memiliki hubungan dengan adiknya, atau seandainya saja mereka mengaku sebelum video itu beredar, mungkin dia akan dengan cepat meminta cerai dan tidak harus berada dalam kondisi hamil sekarang.


"Keluarlah, Farah! Kau ingin aku memohon hanya untuk bicara denganmu?!"


Farah menutup kedua telinganya menggunakan telapak tangan, dia masih terus menangis di ujung ruangan tak berniat ingin membukakan pintu. Tahu, pada akhirnya semua orang akan menyalahkan dirinya, menyalahkan apa yang sudah dia lakukan dan tidak akan menerima apapun alasan yang dia katakan.

__ADS_1


"Airi, hentikan! Adikmu sudah cukup stress dengan berita di internet, dia sudah menderita jadi jangan terlalu keras padanya!" Ucap Ibunya Farah yang langsung mendapatkan sorot mata tajam dari Airi yang adalah kakaknya Farah.


Airi tersenyum kelu, sudah bukan hal baru Farah akan mendapatkan pembelaan dari kedua orang tuanya tidak perduli apakah Farah ada di posisi yang salah apalagi saat Farah di rasa benar. Ini sudah empat tahun dia menikah, dia sadar benar setelah menikah dia sama sekali tak bisa menghasilkan uang sendiri, sehingga dia tak bisa memberikan uang sebanyak yang Farah berikan.


"Ibu, aku tahu sekali dia sedang mendapatkan masalah, tapi bukankah semua masalah ini dia yang ciptakan? Berselingkuh dengan suamiku, menerima uang suap dan mencuri ginjal milik anak sahabatnya, bagaimana? Bagaimana dia bisa?" Airi menyeka air matanya yang luruh tak bisa dia tahan lagi. Dia ingat benar bagaimana wajah Velerie, dia memang tidak seperti kebanyakan anak normal di luaran sana, Velerie adalah gadis kecil yang baik, dia selalu mengucapkan kata-kata yang sopan dan menyenangkan, bagiamana bisa adiknya Setega itu? Airi adalah seorang Ibu, dia tahu bagaimana sakitnya menjadi Helena, dan di tambah dia harus menghadapi kenyataan bahwa suaminya memiliki hubungan dengan adik kandungnya sendiri, sialnya dia sedang hamil besar sekarang.


"Adikmu juga pasti terpaksa melakukan itu, kau tahu posisinya di rumah sakit tidaklah tinggi kan? Lagi pula selama ini dia selalu mengutamakan keluarga, kau tidak juga lupa bagaimana dia membantumu selama ini bukan?" Ucap Ibunya Farah yang membuat Airi terdiam menahan sakit yang semakin dalam dia rasakan.


"Farah sedang membutuhkan dukungan kita semua, kita harus datang menemui Helena, dan minta dia untuk menjelaskan ini supaya Farah tidak di pecat dari pekerjaannya."


Airi menggelengkan kepala karena dia benar-benar merasa keheranan dengan cara berpikir Ibunya yang begitu mengutamakan Farah di banding siapapun.


"Bagiamana aku bisa melakukan itu, Ibu? Membicarakan tentang Farah begitu membuatku terus mengingat bagaimana Farah dan suamiku melakukan aktivitas ranjang mereka, tidakkah jangan hanya perasaan Farah saja yang Ibu pentingkan? Aku juga putrinya Ibu, aku menikah dengan pria pilihan Ibu, aku menjalani sulitnya berumah tangga demi memenuhi keinginan Ibu, tidak bisakah Ibu perduli padaku saat ini?"


Ibunya Farah hanya bisa terdiam, tentu saja dia tahu kalau Airi juga adalah putrinya, tapi bagaimanapun Airi adalah anak yang kuat, dibandingkan dengan Farah yang mudah sekali tertekan dan sedih, jadi Ibu mereka pikir saat ini menyelamatkan Farah adalah pilihan yang terbaik.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2