
"Bagiamana keadaanmu, Helen?" Tanya Bunga Helena segala mendekati Helena, duduk di tempat Martin sebelumnya berada untuk menunggu Helena.
"Ibu sejak tadi berada di luar?" Tanya Helena yang enggan menjawab pertanyaan Ibunya. Memang terdengar biasa saja dan wajar jika seorang Ibu menanyakan kabar putrinya, tapi Helena terlalu tidak biasa jadi memilih untuk tidak membahas pertanyaan Ibunya tadi.
Ibunya Helena tersenyum lalu mengangguk. Sepertinya Helena menghindari pertanyaan itu jadi dia benar-benar tidak akan menanyakan itu lagi.
"Ibu melihat Martin juga tidur, dia benar-benar kelelahan jadi Ibu duduk di luar dan menunggu saja."
Ibunya Helena menatap wajah putrinya yang masih terlihat pucat dengan tatapan sedih. Sungguh dia ingin memeluk Helena dan menyalurkan perasaannya sebagai seorang Ibu, tapi dia benar-benar tidak memiliki keberanian sebesar itu mengingat bagaimana Helena membatasi diri dengannya.
"Helen, semua yang terjadi, kebenaran yang memalukan ini, Ibu benar-benar minta maaf padamu, Helen. Ibu tahu semua rasa sakit yang kau rasakan juga sebagian Ibu yang memberikannya. Ini pasti sangat menyakitkan untukku, tapi demi Tuhan Ibu tidak ingin kau terluka sampai sepeti ini."
Helena tersenyum kelu mendengar apa yang di katakan Ibunya.
"Tidak, aku tidak membutuhkan kata maaf karena aku tahu aku sedang tidak membutuhkan itu. Memaafkan rasanya sungguh berat untukku, tapi aku juga tidak akan menyimpan kebencian selamanya. Begitu aku bangun tadi, aku tersadar akan satu hal yaitu, aku tetap adalah seorang Helena tidak perduli darah siapa yang ada di tubuhku. Meksipun tetap saja aku merasa jijik dengan diri sendiri, tapi aku juga sadar benar bahwa ini bukan kesalahan ku, sejak awal aku tidak bersalah jadi aku akan berusaha untuk tidak membenci diriku sendiri. Tapi, untuk beberapa waktu bisakah Ibu jangan datang padaku? aku benar-benar tidak siap, aku butuh waktu untuk menenangkan diri."
__ADS_1
Ibunya Helena mengangguk setuju sembari menyeka air matanya. Sekarang hubungannya dengan Helena memang semakin berjarak, tapi untuk kali ini dia tidak akan tinggal diam dan membiarkan mereka sejauh ini. Dia akan memenuhi tugasnya sebagai seorang Ibu, mendukung segala keputusan Helena dan berusaha membuat Helena merasa nyaman selayaknya seorang anak kepada Ibunya.
"Helen, kalau memang adanya Ibu membuatmu tidak nyaman, tidak apa-apa. Ibu akan kembali ke rumah, Ibu akan menunggumu sampa kau siap untuk melihat Ibu. Tapi, maafkan Ibu yang akan tetap datang dan menunggu di luar ruangan."
Helena tak mengatakan apapun, dia benar-benar hanya diam hingga Ibunya meninggalkan ruangan itu dengan air matanya yang jatuh membahasi wajahnya. Tapi begitu Ibunya sudah keluar, Helena benar-benar tidak bisa menahan laju air matanya yang tak tertahankan. Dia menangis sejadi jadinya mengingat bagaimana kenyataan yang harus dia hadapi. Kenyataan bahwa dia adalah anak kandung dari Tuan Feto rasanya benar-benar seperti menelan cairan lahar hingga rasa sakitnya begitu menjalar ke bagian tubuh dan menggodok habis otaknya.
"Kenapa? Kenapa Tuhan senang sekali mempermainkan ku, mengejutkan ku dengan kenyataan kenyataan yang begitu menyakitkan? Apakah benar bahwa aku perlu mempercayai adanya Tuhan? Kenapa jalanku begitu sulit? Kenapa rasanya sangat sakit bahkan saat aku mengambil nafas?" Helena memegangi dadanya yang terasa berdenyut nyeri, sesak dan panas.
Jalan berita kini telah berubah, Velerie di bunuh oleh bibinya, untuk menyelamatkan sepupu sekaligus adiknya. Kakeknya menutupi dan mendukung kesalahan bibinya, membela habis-habisnya satu cucunya dan mengacuhkan satu cucunya yang lain. Ayah kandung menyiksa anaknya sendiri demi memuaskan amarahnya karena apa yang terjadi dengan satu anaknya lagi. Ayah kandung menyiksa putrinya, mendorongnya ke lembah yang di penuhi rasa sakit.
Di sisi lain.
Satu demi satu ingatan tentang apa yang dia lakukan terhadap Helena mulai berdatangan memenuhi kepalanya, berputar atau demi satu seperti rekaman video. Rasanya jelas sekali kalau sulit bagi dirinya bisa memilki atau menjalin hubungan kayanya anak dan Ayah. Tapi dia juga tidak bisa pasrah dan diam begitu saja bukan? Walaupun memang benar dia akan di benci seumur hidup oleh Helena, dia memang hanya bisa menerima dengan lapang dada.
Tuan Feto meletakkan kertas itu, lalu meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Gerry, bagaimana dengan surat kuasa yang aku perintahkan untuk kau buat?"
Sudah selesai, Tuan. Aku akan menemui Tian sore nanti.
"Baiklah, pastikan istriku tidak mengetahui akan hal ini."
Setelah mengatakan itu Tuan Feto segera memutuskan sambungan teleponnya. Tuan Feto berniat menyerahkan semua asetnya dan semua harta kekayaan yang dia miliki untuk menjadi milik Helena, sementara kalau Helena menolak maka semua itu secara otomatis akan menjadi milik anak Helena nanti jika benar Helena menikah dan melahirkan anak.
"Helena, semua ini tentu saja tidak akan bisa sedikitpun memiliki arti untukmu, tapi hanya ini yang bisa Ayah berikan padamu." Tuan Feto mengusap wajahnya.
Di sisi lain.
David kini terdiam di kuburan Velerie, menatap nisan Velerie dengan air matanya yang jatuh begitu saja. Sebelum kesana David sudah datang ke kuburan Denise. Sekarang dia benar-benar seperti orang linglung dan tidak memiliki tujuan ataupun alasan hidup. Dia sudah kehilangan kedua putrinya, kehilangan apapun, bahkan dia juga kehilangan senyumnya. Setiap hari yang dia lalui seperti pukulan menyakitkan karena begitu membuka mata, terbangun dari tidur dia akan langsung mengingat bahwa kedua putrinya sudah tidak ada lagi.
"Erie, Ayah benar-benar lelah sekali. Ayah ingin menyerah, Ayah tidak sanggup hidup lagi. Ayah pikir jika Ayah menyusul kalian Ayah pasti akan bahagia, tapi karena kau adalah anak yang super baik, kau pasti tidak akan setuju bukan? Erie, apa kau tahu kalau Ayah benar-benar sangat senang memilikimu? Melihatmu akan terus mengingatkan Ayah dengan semua kenangan bahagia saat kita hidup bertiga dulu. Andai saja tidak ada kenangan itu, mungkin Ayah akan memilih untuk terus menutup mata saja. "
__ADS_1
David menyentuh nisan putrinya, tersenyum meski matanya masih menitihkan air mata. Penyesalan sebagai seorang Ayah yang telah melewatkan masa bersama rasanya begitu di rasakan oleh David. Dia merasa begitu tidak adil karena selaku sibuk dengan Denise yang sakit, hingga sampai Erie meninggal dia tidak tahu dan tidak berada di sampingnya.
Bersambung.