Why?

Why?
Hadiah Kecil Dari Guru Vethie Jolie


__ADS_3

Helena meletakan setangkai bunga di makam Guru Vethie Jolie yang sudah selesai di kuburkan. Matanya terlihat datar, tapi hatinya benar-benar seperti menyesali semua yang terjadi. Andai saja tidak ada orang jahat, pasti Velerie, guru Vethie Jolie pasti masih hidup bukan? Helena menoleh, menatap seorang anak laki-laki yang usianya sekitar dua belas tahunan. Dia menangis sesegukan memeluk nisan Ibunya, merintih dengan hatinya yang sakit.


Di dunia ini kenapa ada rasa sakit yang begitu menyakitkan? Kenapa pada akhirnya manusia hanya akan saling meninggalkan dan memberikan luka juga kerinduan yang tidak akan bisa terobati? Kenapa selalu saja berakhir dengan menyedihkan? Kebahagiaan yang bertahan bertahun-tahun serasa hanya hitungan detik saja, tapi sakit yang bahkan yang terjadi seperti satu abad terasa skaitnya. Dunia macam apa sebenarnya yang dia tinggali?


"Kau ingin langsung kembali ke hotel?" Tanya Martin yang sejak tadi terus memperhatikan Helena. Memang Helena seperti tak menunjukkan ekspresi apapun, tapi untuk seorang wanita, ekspresi seperti itu tentu adalah ekspresi yang mampu dia tunjukan untuk menahan rasa sedih, juga untuk menghargai dirinya yang tidak bisa atau tidak sanggup lagi untuk berpura-pura bahagia.


"Aku ingin bicara sebentar dengan Ibunya Guru Vethie Jolie, juga anaknya." Jawab Jelena membuat Martin dengan segera mengangguk dan siap menunggu Helena hingga selesai.


"Sofia, ikut Ayah dulu ya?" Ajak Martin karena sejak tadi Sofia berdiri sembari memegangi tangan Helena seolah tak ingin lepas dari Helena. Sofia mendongak menatap Helena yang kini menatanya juga, tersenyum dan mengangguk agar Sofia mau ikut bersama dengan Ayahnya jadi dia bisa leluasa untuk bicara nanti.


Setelah Sofia sudah bersama dengan Martin, kini Helena menjalankan kakinya, mendekati Ibunya Guru Vethie Jolie dan anaknya.


"Maafkan aku menganggu, Nyonya. Aku Helena, aku datang karena ada beberapa hal yang akan kami bicarakan, tapi aku sungguh tidak tahu kalau semua akan berakhir seperti ini." Helena menundukkan kepalanya. Iya, sepertinya dia memang harus meminta maaf karena kemungkinan besar guru Vethie Jolie meninggal karena menyatakan kesiapannya untuk menjadi saksi di persidangan nanti. Tapi karena di ketahui oleh pihak bersangkutan makanya guru Vethie Jolie dihabisi untuk menghilangkan kecurigaan yang timbul dari kesaksiannya.


Ibunya Guru Vethie Jolie terdiam sebentar, dia menyeka air matanya dan kembai menatap Helena yang berdiri d hadapannya, masih menunduk kelu dan terlihat begitu bersalah padahal jelas rekaman kamera pengawas sudah menjelaskan bahwa dia tidak bersalah sama sekali.


"Jangan menunduk seperti itu, kau tidak pantas untuk melakukannya, aku yang seharusnya menunduk di hadapan mu." Ucap Ibunya Itu Vethie Jolie yang membuat Helena menegakkan kepalanya, menatap wanita itu dengan tatapan bingung.

__ADS_1


Ibunya guru Vethie Jolie menoleh ke kanan dan kiri, melangkahkan kakinya untuk bisa lebih dekat dengan Helena.


"Terima ini, putriku sepertinya sudah menyadari jauh-jauh hari bahwa semua ini akan terjadi, jadi dia menitipkan ini padaku, dan meminta ku menyerahkannya kepada wanita yang bernama Helena." Ibunya guru Vethie Jolie diam-diam memberikan sebuah benda kecil yang sepertinya itu adalah USB.


"Nak, tolong jangan membenci putriku, aku yakin dia juga tidak berdaya. Dia hanya menceritakan beberapa saja padaku, tapi setelah kejadian itu hidupnya tidak pernah tenang, dia sering menangis dan menyendiri. Dia pasti tertekan dan tidak ada pilihan, jadi tolong jangan benci putriku." Ibunya Guru Vethie Jolie kembali menangis membuat Helena tak tahan melihat mata mengeluarkan air mata kesedihan, kepedihan karena di tinggalkan selamanya oleh orag yang tersayang.


Helena memeluk Ibunya guru Vethie Jolie, menepuk punggungnya dengan lembut meski dia sendiri juga merasa sangat terguncang dengan apa yang terjadi.


"Nyonya, aku memang sempat membenci putrimu, aku juga pernah mengutuk putrinya, menyalahkan putrimu, tapi melihat kau hari ini membuatku sadar bahwa, putrimu pasi memiliki hati sebaik hatimu. Aku tahu bagaimana rasanya di tinggal pergi untuk selama-lamanya. Aku tahu bagiamana jahatnya dunia dan Tuhan kepadaku, tapi percayalah padaku, Nyonya. Semua akan baik-baik saja."


Beberapa saat kemudian.


"Dia pasti kesulitan menjalani hidupnya setelah hari itu." Ujar Helena yang membuat Martin terdiam tak berani berkata lagi tentang USB. Dia bisa melihat dengan jelas bagaimana Helena merasa bersalah padahal tidak seharusnya dia melakukan itu bukan?


Martin menyimpan baik-baik USB itu karena dia yakin sekali isinya cukup penting untuk mereka. Setelah itu dia kembali fokus kepada Helena memintanya agar tak terlalu memikirkan apa yang sudah terjadi ini.


"Helena, percayalah semua ini bukan salahmu, bukan salah Velerie. Kau, guru Vethie Jolie, Velerie, kalian adalah korban dari keegoisan seseorang. Berhentilah untuk menyalahkan diri sendiri, kesedihanmu adalah kebahagiaan untuk mereka."

__ADS_1


Helena menatap Martin yang sejak tadi terus menatap dirinya. Entah kenapa Martin selalu saja bisa membuat hatinya luluh, telinganya seperti begitu patuh mendengarkan apa yang di katakan oleh Martin.


"Martin, tolong jangan mengatakan kalimat yang membuatku luluh, aku benar-benar merasa malu dengan diriku sendiri yang mulai nyaman. Aku tidak ingin memiliki keinginan gila padahal aku sedang sangat kacau. Kau, seharusnya tidak boleh membuat ku merasa berdebar padahal aku seharusnya fokus dengan Velerie dan tidak memiliki fokus yang lain."


Martin terdiam sebentar, padahal yang merasa seperti itu juga bukan Helena saja bukan? Dia juga berdebar dan merasakan perasaan aneh, tapi dia juga tidak memiliki keberanian untuk menghadapi perasaannya dan hanya merasa cukup berandai-andai saja entah akan sampai kapan.


"Helena, setelah kasus ini selesai, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Martin mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mereka.


Helena menghela nafasnya, menatap kosong sesuai dengan apa yang dia pikirkan tentang masa depan setelah keadilan untuk Velerie berhasil di dapatkan.


"Tidak ada, aku tidak ada tujuan atau apapun. Aku bertahan di dunia ini hanya karena aku menginginkan keadilan untuk putriku, jadi kalau nanti semua ini berakhir, aku berharap bisa segera menemui putriku, kembali bersama seperti sebelumnya." Ucap Helena yang langsung membuat Martin menatap kecewa. Ternyata setelah mengatakan jika dia merasa berdebar bahkan Helena masih enggan memikirkan hal lain selain keadilan putrinya?


"Aku yakin sekali, kalau kau menemui putrimu, dia akan menolak bersama denganmu, dia juga akan membencimu."


Helena menatap Martin dengan tatapan tak suka dengan apa yang di katakan Martin.


" Percayalah, dia pasti ingin kau tetap menjalani hidup mu, bahagia dengan kebahagiaan lain tanpa melupakan dirinya yang akan selalu menjadi bagian dari dirimu, entah itu memori atau sosoknya."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2