
"Aku hanya sedang mengajak putrimu untuk berjalan-jalan sebentar, melihat pemandangan dari atap rumah sakit pasti akan menyenangkan bukan?"
Melisa gemetar hebat mendengar apa yang di katakan Helena barusan. Atap rumah sakit? Tanpa banyak berpikir segera Melisa menjalankan kakinya, berlari sekuat tenaga agar bisa dengan cepat menuju atap rumah sakit. Dia tidak sempat meminta siapapun untuk ikut, dia terlalu panik dan takut sehingga tak memikirkan apapun dan mengingat siapapun selain anaknya yang pasti sedang dalam bahaya sekarang.
Dengan nafas terengah-engah Melisa akhirnya sampai di atap rumah sakit, dan dia juga bisa melihat putrinya yang duduk di kursi roda menghadap ke bagian lain seperti sedang menatap apa yang bisa dia lihat dari sana. Melisa hanya bisa melihat punggung anaknya, tapi baju yang di gunakan anak itu, sendal, juga potongan rambut benar-benar sama, jadi sudah tidak perlu memastikan lagi anak kecil itu adalah anaknya.
"Denise, sayang....." Dengan suara gemetar Melisa mencoba melakukan langkanya. Denise nampak menyenderkan kepala, jadi mungkin Denise juga masih belum sadarkan diri bukan?
Langkah kaki Melisa terhenti begitu cepat saat tiba-tiba saja Helena berdiri di hadapannya membuat Melisa tak bisa mendekati putrinya.
"Tidak semudah itu, Melisa."
Helena tersenyum, mendorong kursi roda untuk semakin menjauh dari Melisa yang kini benar-benar kesulitan berjalan karena kakinya yang gemetar hebat dan lelah.
"Tidak, kau jangan macam-macam! Jika terjadi sesuatu dengan anakku, aku tidak akan pernah memaafkan mu!" Ucap Melisa lalu mencoba untuk melangkahkan kakinya, dia berniat untuk meraih kursi roda anaknya dan menyelamatkan anaknya.
"Kau, tidak akan bisa melakukan apapun padaku." Helena mengeluarkan sebuah pisau lipat yang kini berada di leher belakang Denise. Tentu saja hal itu membuat Melisa ketakutan setengah mati, dia menangis tanpa suara karena takut kalau suara tangisnya akan membuat Denise ketakutan.
Melisa mengatupkan kedua telapak tangannya, menjatuhkan dirinya bersimpuh memohon agar Helena tidak melakukan apapun kepada anaknya yang tengah sakit itu. Tapi apa yang di lakukan Melisa justru hanya mendapatkan senyum sinis dari Helena, kenapa? Itu karena Helena merasa Melisa cukup baik menjadi seorang ibu, sungguh sangat baik hingga rela melenyapkan siapapun demi putrinya sendiri.
__ADS_1
"Sungguh, jangan memperlihatkan wajahmu yang memelas itu, jangan menunjukkan padaku bahwa kau begitu menyayangi putrimu, tapi kau tidak segan-segan menyakiti putriku. Kau pikir aku tersentuh melihatnya? Tidak. Aku sama sekali tidak tersentuh, dan aku tidak perduli denganmu, atau dengan putrimu."
Melisa terdiam membeku tak bisa lagi berkata-kata, ucapan Helena barusan apakah dia mengetahui sesuatu?
"Kau tahu bagiamana perasaanmu saat melihat putrimu? Aku benar-benar ingin melakukan apa yang kau lakukan kepada putriku, jadi aku pikir akan lebih baik membuat matanya segar sebelum aku-"
"Jangan!" Melisa menangis, dia tidak tahan lagi dan tidak sanggup lagi berpura-pura kuat. Kalau saja bukan Denise yang menjadi ancaman sungguh dia tidak akan perduli apapun. Tapi, Denise adalah anak yang dia lahirkan dengan susah payah, melalui banyak rintangan dan cobaan yang begitu panjang. Bahkan setelah lahir pun Denise harus menghadapi rasa sakit yang luar biasa bukan?
"Apa, apa yang kau inginkan, Helena? Kau marah aku merebut David? Aku akan kembalikan David padamu. Katakan, katakan saja apa yang kau inginkan?" Melisa berucap sembari menatap Helena dengan tatapan memohon, mengabaikan banyaknya air mata yang jatuh membasahi pipinya.
Helena memicingkan matanya, tersenyum miring dengan tatapan mencemooh apa yang di katakan Melisa barusan. Mengembalikan David? Sungguh Melisa benar-benar meremehkan seorang Helena rupanya.
"David hanyalah sampah bagiku, kau adalah tempat sampah dan kau adalah tempat yang paling cocok untuk David."
"Kalau kau mau memenuhinya, maka aku ingin kau mengembalikan putriku, kembalikan dia padaku, dan keluarkan ginjal anakku yang sekarang di gunakan oleh putrimu."
Melisa diam membeku tak tahu harus mengatakan apa ketika mendengar Helena mengatakan itu. Tubuhnya semakin gemetar, seperti mengambang dan tak dapat merasakan apapun. Dingin, kulit yang membungkus tubuhnya benar-benar terasa begitu dingin, dia juga sampai lupa bernafas untuk beberapa detik.
"Bukti untuk menguatkan memang tidak begitu banyak, tapi setiap kali dan setiap waktu aku memikirkan semuanya, menilai bagiamana caramu menatap, caramu berbicara, dan bagaimana keluargamu akan beraksi melindungi mu. Kau adalah anak tunggal satu-satunya setelah kakak mu meninggal, jadi bukan tidak mungkin keluargamu akan ekstra melindungi anak dan cucu satu-satunya bukan? Cih! Menghina putriku cacat, tapi kalian tidak sadar sama sekali jika kalian juga cacat."
__ADS_1
Helena menatap Melisa yang hanya diam tak bicara, jadi Helena semakin terbawa emosi.
"Baiklah, karena kau tidak mengatakan bisa untuk melakukannya, bagaimana kalau biarkan aku melakukan satu saja hal, biarkan aku yang mengeluarkan satu ginjal putriku dari perut putrimu?"
"Jangan! Tidak! Jangan lakukan itu!" Melisa kembali menangis tersedu-sedu saat Helena mulai menggerakkan pisau yang ada di tangannya.
"Kenapa? Kau bahkan bisa seenaknya saja membunuh putriku, lalu mengambil ginjalnya sesuka hatimu seolah putriku hanyalah binatang tidak berharga. Kenapa kau tidak mengizinkan aku melakukan apa yang ingin aku lakukan?"
Melisa tak kuasa menahan tangisnya yang semakin menjadi. Tentu saja tidak mungkin, tidak akan bisa bukan?
"Maaf, maafkan aku, Helena. Aku minta maaf....." Ucap Melisa yang merasa sudah tak memiliki pilihan lain lagi.
"Maaf? Kenapa harus minta maaf? Maaf tidak bisa melakukan permintaanku, atau maaf karena yang lainnya?"
Melisa menyeka air matanya yang jatuh, lalu menatap Helena dengan tatapan yang seolah menjelaskan dia begitu pasrah dan tidak berdaya.
"Maaf, maaf karena menabrak putrimu. Hari itu, aku benar-benar tidak tahan melihat putriku menangis kesakitan, aku tidak tahan melihat putriku terus kejang, dan juga kehilangan kesadaran karena kesehatannya yang semakin memburuk. Aku datang ke sekolah anakmu berniat menemuimu dan meminta ginjal anakmu secara baik-baik. Tapi saat aku tahu kalau Velerie juga memiliki masalah dengan paru-paru nya, kau pasti tidak akan membiarkan putrimu mendonorkan satu ginjalnya untuk Denise kan? Makanya, makanya aku aku menabrak Velerie padahal aku benar-benar sangat takut sekali. Aku tidak punya pilihan lain saat itu, Helena." Melisa mengakhiri ucapannya dengan suara tangis yang kembali pecah mengingat bagaimana sulitnya hidup belakangan ini.
Helena mengepalkan tangannya, gila! Dia benar-benar tidak menyangka kalau dugaannya benar-benar adalah kenyataan.
__ADS_1
"Kau membunuh putriku, mencuri ginjalnya, bahkan entah kau atau keluargamu membunuh guru Vethie Jolie yang tidak bersalah. Katakan, katakan bagaimana aku bisa menerima permintaan maaf dari iblis sepertimu?"
Bersambung.