Why?

Why?
Tidak Semudah Itu!


__ADS_3

"Tidak apa-apa merasa selamat detik ini, cobalah untuk keluar dari rumah sakit dan lihatlah media sosial sekarang. Lihat bagaimana semua orang tengah menggosipkan tindakan mu yang murahan dan arogan itu, lihatlah mata masyarakat yang mulai detik ini akan menghakimi mu."


Ucapan Helena membuat mata Tuan Feto menjadi begitu terkejut, begitu juga dengan istrinya. Mereka pasti benar-benar mengkhawatirkan cucu mereka dan sedang ingin fokus dengan cucu mereka sampai tidak melihat betapa hebohnya media sosial sekarang.


"Ayo kita keluar dulu sebentar!" Ajak Tuan Feto seraya meraih lengan istrinya dan menariknya agar mengikuti langkah kakinya.


"Tidak! Bagiamana dengan Denise? Melisa dan David sedang menemui Dokter, kita tidak bisa meninggalkan Denise sementara wanita ini ada di sini!" Ucap Ibunya Melisa.


"Takut apa? Rekaman kamera pengawas ada di mana-mana, dia tidak akan melakukan apapun karena dia tahu apa konsekuensinya."


Ibunya Melisa tak lagi ingin berkata-kata karena dia juga mulai yakin Helena tidak akan melakukan apapun, toh tak jauh dari ruangan itu akan ada perawat dan Dokter yang menjaga. Alarm akan berbunyi saat detak jantung Denise mengalami masalah, selang infus atau lainnya.


Begitu kedua orang tua Melisa pergi, Helena terdiam sebentar dengan tatapan dingin, lalu melangkahkan kaki menuju Denise berada.


Helena terdiam tak berekspresi begitu kedua bola matanya menatap Denise yang berbaring dengan matanya yang terpejam. Kenapa? Kenapa dia sama sekali tak merasa kasihan padahal Denise terlihat menderita? Melihat banyaknya peralatan yang menempel di tubuhnya jelas itu sangat menyakitkan bukan? Wajah Denise benar-benar pucat, tubuhnya kurus, bahkan tulang rahangnya benar-benar menonjol.


Ini adalah sisi buruk seorang Helena, entah bisa sejahat apa dia saat berhubungan dengan Velerie, tapi Helena juga tidak bisa berbuat apa-apa karena dia yakin benar di dalam perut Denise pasti ada ginjal anaknya yang di curi bukan?


"Rasanya aku ingin menusuk perutmu, mengeluarkan dengan paksa ginjal anakku, dan mengembalikannya kepada anakku. Tapi,"


Di sisi lain.

__ADS_1


"Sial!" Maki Tuan Feto saat dia mengetahui apa yang sedang terjadi di media sosial. Rekaman tentang dia mendorong dokter, memaki dan meminta Dokter untuk mengganti lagi ginjal cucunya membuat image baiknya selama ini benar-benar hancur. Tak hanya itu saja, pengguna internet menghubungkan kejadian itu dengan kasus Velerie yang kehilangan ginjalnya, dan hingga kini belum terpecahkan misterinya. Lagi, kematian guru Vethie Jolie juga menjadi tanda tanya besar karena menurut keterangan pengacara Martin, guru Vethie Jolie sudah menghubungi malam sebelum dia di temukan meninggal bahwa dia bersedia memberikan keterangan dan kesaksian di pengadilan nanti.


Jelas ini akan sulit untuk di hadapi, karena yang di hadapi adalah pengguna internet yang suka sekali menyimpulkan semuanya seorang diri sesuka hati. Tuan Feto mencoba untuk menghubungi seseorang demi membantunya menghentikan berita itu, meminta videonya yang beredar segera di hapus.


"Hubungi Melisa, pastikan dia sudah sampai untuk menemani Denise. Aku harus pergi karena ada banyak hal yang harus di selesaikan, kau tahu berita ini sangat mempengaruhi reputasiku bukan?" Ucap Tuan Feto kepada istrinya yang langsung di angguki setuju.


Di sisi lain.


Melisa yang tengah berjalan menuju kamar Denise sebentar mengehentikan langkah kakinya saat menyadari ada panggilan masuk ke ponselnya. Segera Melisa menerima panggilan Video, dan betapa terkejutnya dia mendengar penuturan Ibunya tentang Helena jadi dengan segera dia menjalankan kakinya lebih cepat, setengah berlari agar lebih cepat sampai ke tempat Denise berada.


Bruk!


"Tidak, Denise! Denise!" Panggil Melisa dengan wajahnya yang frustasi, tubuhnya terasa begitu dingin, berjalan terasa mengambang, bahan juga gemetar. Tapi karena anaknya menghilang setelah Ibunya memberitahu jika Helena datang untuk menemui Denise, tentu saja Melisa merasa sangat takut sekali bukan?


Melisa memanggil Dokter dan perawat yang bertugas untuk memeriksa keadaan Denise, tapi mereka justru juga bingung karena Denise juga tidak terlihat keluar dari ruangan apalagi Denise sedang dalam keadaan sakit bukan?


"Denise!" Melisa berteriak histeris karena masih tak menemukan putrinya, di tambah lagi David sedang ada rapat dan ponselnya tidak bisa di hubungi. Orang tuanya juga tidak mengangkat telepon darinya membuat Melisa semakin tidak karuan.


Melisa berniat berlari ke luar rumah sakit, sementara beberapa security dan perawat mencoba untuk mencari di beberapa sisi rumah sakit. Tapi belum lama Melisa melangkahkan kakinya, suara dering ponsel membuatnya terhenti, dan ternyata ada satu penghilang telepon dari nomor asing. Melisa memutuskan untuk menerima panggilan telepon itu karena siapa tahu orang yang menghubunginya mengetahui keberadaan Denise.


Begitu Melisa menerima panggilan masuk, ternyata orang tersebut mengubah mode panggilan suara menjadi panggilan video. Agak aneh dan bingung, tapi pada akhirnya Melisa tetap menerima panggilan video itu.

__ADS_1


Surprise!


Melisa terdiam dengan jantung yang berdebar begitu cepat, dia benar-benar terlihat takut dan khawatir saat tahu yang menghubunginya adalah Helena. Tidak sampai di situ saja, ternyata Helena menunjukan posisinya sekarang yang sepertinya berada di tempat ketinggian.


"Apa yang kau lakukan?! Katakan, di mana anakku?! Kau bawa kemana dia?!" Tanya Melisa tentu saja dengan perasaan marah yang begitu menguasai hatinya.


Helena terkekeh, dia menghela nafas dan mendekatkan layar ponsel ke wajahnya lalu berkata,


"Aku hanya sedang mengajak putrimu untuk berjalan-jalan sebentar, melihat pemandangan dari atap rumah sakit pasti akan menyenangkan bukan?"


Melisa gemetar hebat mendengar apa yang di katakan Helena barusan. Atap rumah sakit? Tanpa banyak berpikir segera Melisa menjalankan kakinya, berlari sekuat tenaga agar bisa dengan cepat menuju atap rumah sakit. Dia tidak sempat meminta siapapun untuk ikut, dia terlalu panik dan takut sehingga tak memikirkan apapun dan mengingat siapapun selain anaknya yang pasti sedang dalam bahaya sekarang.


Dengan nafas terengah-engah Melisa akhirnya sampai di atap rumah sakit, dan dia juga bisa melihat putrinya yang duduk di kursi roda menghadap ke bagian lain seperti sedang menatap apa yang bisa dia lihat dari sana. Melisa hanya bisa melihat punggung anaknya, tapi baju yang di gunakan anak itu, sendal, juga potongan rambut benar-benar sama, jadi sudah tidak perlu memastikan lagi anak kecil itu adalah anaknya.


"Denise, sayang....." Dengan suara gemetar Melisa mencoba melakukan langkanya. Denise nampak menyenderkan kepala, jadi mungkin Denise juga masih belum sadarkan diri bukan?


Langkah kaki Melisa terhenti begitu cepat saat tiba-tiba saja Helena berdiri di hadapannya membuat Melisa tak bisa mendekati putrinya.


"Tidak semudah itu, Melisa."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2