Why?

Why?
Usaha Yang Sia-Sia


__ADS_3

Di tempat lain.


"Sayang, semuanya sudah selesai bukan?" Tanya Ibunya Melisa begitu membuka pintu dan mendapati suaminya alias Tian Feto tengah duduk dengan santai di ruang kerjanya.


"Tentu saja, setelah ini dia tentu saja akan kesulitan seorang diri."


Ibunya Melisa benar-benar terlihat begitu senang dan bahagia.


"Jadi, bagiamana kalau segera kita akhiri saja semua ini?"


Tuan Feto menghela nafas, menatap istrinya dengan tatapan datar. Sebenarnya dia masih malas membicarakan soal Helena dan Martin, tapi kalau tidak di bahasa istrinya pasti akan mengoceh tidak jelas dan dia pula lah yang akan sakit kepala.


"Apa yang ingin kau aku lakukan kepada dua orang itu?"


"Tentu saja me-"


Suara dering ponsel menghentikan ucapan Ibunya Melisa karena Tian Feto segera menerima panggilan suara yang masuk ke ponselnya.


"Ada apa?" Mata Tuan Feto membulat terkejut, segara doa menjatuhkan begitu saja ponselnya dan bergegas untuk pergi.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Ibunya Melisa.


"Denise, dia kritis sekarang!"


Segera kedua orang itu bergegas menuju ke rumah sakit untuk melihat keadaan Denise. Sesampainya di sana, segera mereka masuk ke dalam ruangan di mana Denise sedang mendapatkan perawatan. Rupanya sejak tadi Tuan Feto di hubungi sampai sekarang Denise terus kejang entah sudah beberapa kali.


"Kenapa cucuku seperti ini?! Kenapa kalian tidak segera membuat kejangnya berhenti?!" Protes Tuan Feto yang bahkan menerobos masuk meski sudah di ingatkan untuk membuatkan Dokter bekerja di dalam dengan tenang. Tapi dia mengabaikan peringatan itu dan masuk ke dalam, membuat suasana menjadi ricuh. Dokter yang sedang berusaha juga jadi sulit konsentrasi, jadi David yang sejak tadi menunggu di luar ikut masuk kedalam dan membawa mertua laki-lakinya itu keluar dari sana dengan paksa.


"Hentikan! hentikan semua ini, hentikan sikap rendahan anda Tua Feto!" Ucap David yang sudah tidak bisa menahan kesal lagi, bahkan dia sampai mendorong tubuh mertuanya dengan paksa.


Tatapan Tuan Feto benar-benar begitu tajam terarah kepada David. Iya, tentu saja dia merasa kalau David benar-benar sangat kurang ajar dan begitu lancang dengan segala sikap tidak sopan nya.


David memaksakan senyumnya, menatap kedua bola mata mertuanya yang selalu saja terlihat dingin dan arogan. Sungguh dia benar-benar muak dengan sikap seperti itu, selalu di rendahkan dan di anggap hanya bisa menuruti apa yang di katakan Tuan Feto.


"Baiklah, lakukan saja apa yang anda inginkan. Sejak dulu hingga sekarang anda benar-benar tidak pernah mengaggap bahwa aku adalah manusia. Memintaku meninggalkan Helena, memaksaku dengan segala cara, mengancam dengan begitu tidak manusiawi, lalu setelah berhasil menikahkan kami untuk memenuhi apa yang di inginkan putrimu, kau membuatku seperti budak dalam rumah tangga. Tidak pernah membiarkan ku mengangkat wajah, dan bahkan terus saja terang-terangan menginjak harga diriku tak perduli apakah aku kesakitan dan tersiksa atau tidak. Kalau saja bukan karena Denise, aku bahkan akan membunuh Melisa di hadapan anda, aku bahkan sampai sempat merasa benci kepada Denise karena aku pikir karena dia aku harus kehilangan satu putriku. Sekarang lakukan saja apa yang anda bisa lakukan. Aku benar-benar hanya akan melihat bagaimana anda menunjukkan kepada dunia bahwa seperti itulah wajah asli anda, seperti itulah kegilaan seorang Ayah dalam memanjakan anaknya hingga nyawa manusia lain seperti tak ada harganya." David terlihat begitu berani dan tidak main-main dengan ucapannya bahkan untuk pertama kali Tian Feto melihat kemarahan yang begitu membara di balik sorot mata David yang begitu tajam hingga memerah.


"Kau pikir aku-"


"Sayang, hentikan! Ini di rumah sakit, tolong hentikan! Buatkan Dokter bekerja dengan tenang, biarkan dia konsentrasi dengan cucu kita, aku mohon....." Pinta Ibunya Melisa seraya menahan lengan Tuan Feto agar tak lagi bicara.

__ADS_1


David mengabaikan adanya kedua mertuanya, dia kembali fokus menunggu Dokter yang sedang menangani Denise. Sial! Padahal dia benar-benar tidak ingin menghubungi mertuanya karena tahu bena kalau hal seperti ini akan terjadi, tapi pria di depan pintu rumah sakit yang tidak lain penjaga yang di bayar mertuanya itu terus berjaga dan melaporkan apa saja yang terjadi dengan Denise.


Beberapa saat kemudian.


"Pasien kehilangan kesadaran penuh, masih kritis, dan kita hanya bisa menunggu bagaimana reaksinya beberapa jam kemudian. Tidak ada yang salah dengan operasi ginjal yang kita lakukan beberapa bula lalu, hanya saja tubuh Pasien seperti menolak, dan beberapa komplikasi muncul bersamaan membuat kondisinya memburuk dengan cepat."


David jatuh dengan posisi duduk di kursi tunggu mendengar apa yang Dokter katakan kepadanya dan juga mertuanya. Kenapa semua menjadi seperti ini? Apakah ini hukuman dari Tuhan atas apa yang dia lakukan? Tapi, jika boleh mengeluh dia juga tidak ingin berpisah dengan Helena dan Velerie saat itu, dia terlalu mencintai mereka berdua, tapi ancaman Tuan Feto membuatnya tak berdaya di tambah tekanan orang tua. Dia juga sudah tersiksa beberapa tahun ini, dia menderita karena tak bisa bersama Velerie dan menemaninya tumbuh. Sebagai seorang Ayah seharusnya dia bahagia ketika mengetahui istrinya tengah hamil, tapi saat itu dia tidak benar-benar bahagia seperti saat. Bersama Helena. Jadi, apakah karena itu? Apakah karena dia tidak begitu merasa bahagia sehingga Tuhan berniat mengambil Denise setelah Velerie?


"Lakukan saja apa yang harus di lakukan, operasi atau cuci darah, atau apapun! Lakukan saja apa yang seharusnya asalkan cucuku selamat!" Pinta Tuan Feto yang hanya mendapati wajah pasrah dari Dokter yang selama ini menemani Denise dalam melakukan pengobatan.


"Tuan, cucu anda baru berusia empat tahun. Kondisi kritis seperti ini jika kita memutuskan untuk mengoperasi maka resikonya benar sangat fatal. Di tambah kemarin pasien baru saja menjalani operasi untuk kandung kemih."


Tuan Feto rasanya benar-benar ingin memukul Dokter yang begitu terlihat pasrah, padahal Denise adalah cucu satu-satunya yang harus selamat karena hanya Denise yang akan menjadi pewaris satu-satunya.


"Kau benar-benar tidak sehebat itu, bagaimana bisa rumah sakit mengerjakan Dokter sepertimu?"


Ucapan Taun Feto benar-benar membuat kesabaran Dokter itu seakan semakin tipis. Sudah sejak apa yang di lakukan Tian Feto padanya ramai di media sosial dia benar-benar di buat malu. Bahkan keluarganya menuntut untuk jangan menjadi Dokter untuk cucu Tuan Feto lagi. Tapi dia benar-benar tidak menolak pimpinan rumah sakit yang terus memohon agar tetap pada tugasnya karena Dokter itu adalah Dokter yang terkenal dan memiliki kemapuan terbaik dalam penyakit ginjal.


"Tuan, aku hanyalah manusia biasa, bukan Tuhan. Tanganku bisa melakukan segala cara, berusaha menyelamatkan nyawa, tapi kehidupan manusia bukan di tanganku sepenuhnya."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2