
Helena terdiam tak tahu harus mengatakan apa saat dia melihat berita pagi ini, Tuan Feto mendatangi kantor polisi untuk menyerahkan diri. Entah harus senang atau puas, intinya Helena tak merasakan apapun sekarang.
Kesalahan yang terjadi, akan aku ambil yang mana bagian ku, dan menerima hukuman.
Seperti itulah yang di katakan Tuan Feto kepada wartawan yang menunggunya memberikan keterangan atas apa yang terjadi, dan tujuan Tuan Feto mendatangi kantor polisi.
"Pada akhirnya ini semua terjadi? Pria yang dulu terlihat sangat dingin, memiliki kekokohan yang begitu jelas, sekarang berdiri dengan tegap mengakui semua kesalahannya? Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah semua kejahatan kalian terbongkar. Aku menantikan hari yang lebih baik, aku akan benar-benar menjalani hidupku seperti yang di inginkan putriku." Gumam Helena.
"Ibu, ini untuk ibu!" Sofia berjalan dengan hati-hati membawa nampan yang berisi dua sandwich. Di belakang gadis kecil itu ada David yang bersiap, berjaga-jaga kalau saja sandwich itu akan terjatuh nanti.
Helena tersenyum, Ibu? Sejak Velerie meninggal, dia pikir tidak akan pernah mendengar namanya di panggil dengan sebutan Ibu, tapi mendengar panggilan itu dari bibir Sofia yang imut, rasanya Helena benar-benar bahagia. Sofia memang bukan putrinya, tapi Helena benar-benar bersyukur sekali Sofia ada di hidupnya dan tidak terlihat terbebani memanggilnya Ibu seolah dia sendiri begitu nyaman menganggap Helena sebagai Ibunya.
Helena menerima sandwich yang dibawakan Sofia, dia tersenyum seraya mengusap kepala Sofia dengan lembut menggunakan satu tangannya.
"Terimakasih banyak, sayang." Ucap Helena lalu bersiap untuk megambil posisi dan memakan sandwich yang ada di hadapannya. David juga duduk dan menyerahkan sandwich kepada Sofia.
__ADS_1
"Selamat makan!" Ucap mereka bertiga lalu segera menikmati sandwich.
Martin tersenyum melihat bagaimana Helena terlihat lebih baik, dia juga banyak tersenyum apalagi saat bersama Sofia. Entah ini berlebihan atau tidak, tapi Martin benar-benar merasa bahagia karena saat itu mereka benar-benar seperti keluarga kecil yang tengah menikmati sarapan dengan bahagia.
Di sisi lain.
"Melisa, kau harus membujuk Ayah mu, oke? Dia benar-benar sudah gila, dia ingin mencelakai Ibu, dia ingin menyeret Ibu ke dalam penjara. Saat ini Ayahmu belum di tahan sampai dia benar-benar terbukti bersalah, dia pasti akan menemui mu nanti untuk membicarakan ini, kau harus membantu Ibu ya? Jangan biarkan Ibu masuk ke dalam penjara." Pinta Ibunya Melisa, menatap putrinya dengan tatapan memohon, mengabaikan Melisa yang sejak tadi sama sekali tidak bicara. Sejak kematian Denise Melisa benar-benar seperti raga tanpa nyawa, dia boleh bangun dan bergerak, tapi dia tidak bis merasakan apapun sekarang, dia bahkan sudah tidak tahu bagaimana menggunakan inderanya dengan baik.
Melihat Melisa yang hanya diam seperti itu tentu saja dia menjadi kesal, hanya saja dia tidak bisa melakukan kekerasan karena tahu benar Melisa adalah anak yang paling tidak bisa mendapatkan perlakukan kasar.
Melisa masih tak bicara, bukannya tidak bisa mendengar apa yang di katakan Ibunya, hanya saja dia terlalu malas untuk mengeluarkan suara padahal di dalam hati dia benar-benar terus bertanya kepada dirinya sendiri, kenapa Ibunya begitu ingin melindungi dirinya sendiri? Padahal dia sudah menerima segalanya dengan mendapatkan hukuman yang jelas bukan dia yang melakukannya. Tadinya Melisa ingin mengatakan yang sebenarnya bahwa semua kesalahan itu bukan sepenuhnya dia yang melakukannya, tapi mengingat bahwa dia adalah seorang pembunuh yang melakukan pembunuhan secara terencana, jelas satu perbuatan jahatnya saja hukumannya sudah seumur hidup jadi dia memutuskan untuk tetap diam dan membiarkan kedua orang tuanya hidup dengan baik. Tapi apa sekarang? Ibunya seperti orang lain, dia memperlihatkan benar sisi egois dan arogan yang untuk pertama kalinya Melisa lihat.
"Melisa, kau tahu benar bagaimana Ayahmu kan? dia pasti akan luluh hatinya jika kau membujuknya dengan merengek seperti biasanya. Melihatmu yang mengalami banyak kesedihan dia tidak akan menolak permintaan mu, jadi tolong bantu Ibu ya? Oh iya, minta juga Ayah mu untuk mengembalikan semua hartanya, kau tau kan kalau Ayahmu sangat tidak bisa menolak permintaan mu?"
Melisa kini mulai menatap Ibunya yang masih saja menatapnya dengan tatapan memohon. Senyumnya yang terbit itu justru Melisa bisa melihat bagaimana sebenarnya tentang Ibunya. Wanita yang telah melahirkannya sekarang ini tak lagi mengutamakan apa yang dia inginkan, sekarang dia seperti ingin menyelamatkan diri, hidup dengan baik tanpa kekurangan satu apapun terlebih tentang harta.
__ADS_1
"Ibu, apakah harta itu amanat penting untuk Ibu?"
Ibunya Melisa menjawab dengan cepat,
"Tentu saja! Bagiamana pun harta Ayah mu adalah milik kita, mana boleh kita membiarkan harta kita di mabuk oleh orang lain?"
Melisa tersenyum kelu.
"Kita? Ibu, aku akan berada di dalam sini sumur hidupku. Aku tidak akan bisa menikmati harta itu Ibu tahu kan? Jika Ibu tidak mendapatkan hukuman penjara, tentu Ibu yang bisa mengurus dan menikmati harta itu kan? Berhentilah, Ibu." Melisa menatap Ibunya dengan tatapan yang jelas memperlihatkan bahwa dia sudah kehilangan daya. Dia menginginkan Ibunya berhenti dan tidak melakukan sesuatu yang akan membuat Ibunya semakin banyak masalah di masa depan.
"Bu, aku kehilangan Denise juga kehilangan kemampuan untuk memiliki keturunan lagi. Aku sudah tidak bisa melakukan apapun selain diam di sini, menunggu saja kapan aku akan mati. Aku tidak lagi memikirkan soal harta, aku juga tidak bisa menghentikan Ayah. Jika di bilang aku masih memebnci Helena, maka aku akan jujur kalau aku masih membenci dia. Tapi setelah aku pikirkan lagi, kebencian yang aku rasakan ini adalah hal yang sia-sia dan bodoh saja. Aku mulai berpikir kalau Ibu pasti sengaja membuatku terus membenci Helena dan menginginkan kehancuran Helena, tapi aku juga berharap ini adalah pikiran ku saja."
Ibunya Melisa menatap Melisa dengan kesal, sungguh percuma saja dia menemui Melisa kalau pada akhirnya dia tetap tidak bisa mendapat apa yang dia inginkan bukan?
"Lalu apa salah Ibu, Melisa? Hati wanita mana yang tidak sakit mengetahui bahwa ada wanita lain yang melahirkan anak dari suaminya di saat dia hamil besar dan tengah menunggu waktu untuk melahirkan? Ibunya Helena dengan percaya diri datang, mengatakan bahwa anak yang di gendongnya adalah anak Ayahmu, saat itu aku menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu karena hanya menunggu jam saja aku akan di bawa kerumah sakit dan melakukan bedah sesar."
__ADS_1
Bersambung.