
"A Ayah, sakit.....Sakit, A Ayah.....Sakit......Ayah...."
David menangis sesegukan karena begitu terbangun dari masa kritisnya Denise langsung meminta Ayahnya untuk datang dan mengulurkan tangannya meminta David ungu menggenggam tangannya erat-erat.
Ini sudah dua hari sejak Denise kritis, dan sudah beberapa kali dia kejang lalu kembali kritis. Tuan Feto lagi-lagi mengamuk begitu heboh memaksa untuk segera melakukan operasi dan mengganti kembali ginjalnya. Namun Dokter justru mengatakan kalimat yang mungkin sudah dia tahan selama ini.
"Sejak awal saya sudah menyarankan untuk mendapatkan donor ginjal dari orang yang bisa hidup, atau meninggal karena kerusakan otak atau mati otak. Tapi putri anda benar-benar keras kepala dan membawakan dua ginjal sekaligus dari anak yang mengalami kecelakaan parah, bahkan pemilik ginjal juga memiliki riwayat sesak nafas. Kenapa anda terus menekan dan seolah ingin membuat saya menjadi pembunuh? Pasien bisa melakukan operasi lagi, tapi minimal harus menunggu kondisinya membaik. Jika memang meragukan saya, silahkan carilah Dokter yang lebih baik, saya sungguh juga berharap cucu anda selamat dan hidup lebih lama."
Sekarang Tuan Feto seperti menyerah, dia tidak bisa melakukan apapun begitu melihat Denise tersadar dan terlihat begitu kesakitan. Sejujurnya dia masih tidak akan menerima jika sampai terjadi sesuatu dengan Denise, dia masih akan melakukan segala cara, bahkan orang-orang yang dia perintahkan juga sedang mencari Dokter terbaik di kota bahkan di seluruh dunia jika mampu untuk menyelamatkan cucunya.
"Sayang, tolong bertahanlah. Ayah mohon, bertahanlah dan bertarung lah, semua akan baik-baik saja, semua rasa sakit ini akan menghilang, jadi lebih semangat lagi ya?" Pinta David kepada Denise, tangannya semakin menggenggam erat, memohon sampai tak memperdulikan bagaimana air matanya jatuh begitu banyak dengan segala harapan dan memohon di dalam hati untuk jangan mengambil lagi satu anaknya. Dia sudah sangat terluka sekali setelah kehilangan Velerie, dia tidak ingin merasakan lagi, tidak sanggup merasakan sakitnya.
Denise menangis tanpa suara, dadanya kembang kempis, matanya sayu benar-benar sayu seperti dia sedang kesulitan untuk bertahan membuka matanya. Tubuhnya yang kurus itu membuat tulang-tulang yang ada di tubuhnya begitu terlihat.
Jika bisa mengatakan dengan lancar mungkin dia akan mengatakan betapa lelahnya dia berjuang menahan semua rasa sakit selama dia tahun terakhir. Sakit saat mendapatkan pemeriksaan, sakit untuk cuci darah dan pengobatan, sakit saat tubuhnya kejang, sakit saat pisau bedah beberapa kali menyobek kulit dan daging di tubuhnya. Sungguh dia kesakitan tapi dia juga begitu tertahan oleh ucapan semua orang yang memintanya untuk bertahan.
"Sakit, Ayah......"
David semakin menangis, sungguh dia tidak sanggup lagi melihat putrinya merintih kesakitan. Hatinya tidak bisa menerima jika dia harus kehilangan Denise, tapi dia juga tidak sanggup menyaksikan penderitaan yang di rasakan putrinya. Harus bagaimana? Kenapa itu begitu menyakitkan? Apakah begini juga rasanya Helena saat melepaskan kepergian Velerie?
__ADS_1
"Sa sayang, jika kau begitu kesakitan maka tidak usah melihat Ayah, mau bisa dengan tenang per-"
"Jangan asal membuka mulut mu!" Tuan Feto mendorong tubuh David dengan satu kakinya hingga David terjatuh ke lantai dalam posisi duduk dan masih terus menangisi putrinya. Dia tidak merasakan apapun selain sakit untuk kepedihan putryunya, dia tidak sedang memikirkan apa yang di lakukan Tuan Feto padanya.
"Denise, cucu tersayang kakek. Sebentar lagi kita akan pindah rumah sakit, di sana akan ada Dokter yang lebih baik untuk menyembuhkan mu, jadi kau harus bersabar dan kuat." Ucap Tuan Feto kepada Denise yah terlihat begitu tak berdaya.
Tak lama dari itu Denise akan segera di pindah ke rumah sakit lain, ambulans juga sudah menunggunya dan di saat itu pula Helena dayang dan berpapasan dengan Denise yang sedang menuju ke ambulan.
Kedua bola mata Denise tak sengaja bertemu dengan mata Helena dan mereka saling menatap untuk beberapa detik sebelum Denise menitihkan air mata dan masuk ke dalam ambulans.
Helena terdiam, tubuhnya gemetar melihat bagaimana mata Denise yang seperti menanyakan jika dia sungguh kesakitan dan berharap semua berakhir sesegera mungkin. Mata itu mirip sekali dengan sorot mata Velerie yang meminta Helena untuk melepaskan dirinya kembali kepada Tuhan.
"Kau pasti merasa tersiksa, kau seperti sudah tidak sanggup tapi kau di desak untuk bertahan. Sungguh, mereka tidak mencintai mu, mereka mencintai diri mereka sendiri, mereka tidak ingin merasakan kesedihan makanya mereka menginginkan mu tetap bertahan tidak perduli betapa tubuh dan jiwa mu yang begitu lelah. Semoga kau beruntung, Denise." Gumam Helena yang tak lagi memiliki alasan untuk tetap berada di sana. Dia sengaja datang untuk melihat keadaan Denise karena mengetahui jika keadaan Denise semakin memburuk bahkan kritis selama dia hari terakhir ini.
"Ibu.......!"
Langkah kaki Helena terhenti saat sosok kecil yang lucu berlari ke arahnya.
"Sofia?"
__ADS_1
Sofia meregangkan tangannya, dia tersenyum bahagia menuju ke arah Helena membuat Helena teringat bagaimana Velerie berekspresi seperti itu, meregangkan tangan tak sabaran ingin berpelukan dengan Helena namun pada akhirnya yang di peluk oleh Velerie adalah kematiannya.
"Tidak, Sofia!" Helena menjalankan kakinya, berlari sekuat tenaga untuk meraih tubuh Sofia sebelum ada kendaraan yang akan menuju ke arah Sofia dan membuatnya mendapatkan kematian.
Greb!
Helena memeluk erat tubuh Sofia yang kini berada di pelukannya. Helena benar-benar sangat takut, takut seolah yang sedang berlari ke arahnya tadi adalah Velerie.
"Syukurlah.... Syukurlah...." Ucap Helena lalu menangis sedih karena dia tersadar jika sosok yang ada di pelukannya ternyata bukan putrinya. Dia tersadar jika putrinya sudah tidak ada lagi, putrinya sudah berada di sisi Tuhan di mana dia tidak akan bisa melihat Velerie lagi di dunia ini.
Martin yang baru saja mendekati mereka benar-benar bingung melihat bagaimana Helena memeluk erat Sofia sembari menangis pilu. Karena memang tidak memahami apa yang terjadi Martin memutuskan untuk tak mengatakan apapun dan membiarkan Helena hingga tengah. Sofia juga tidak keberatan, dia begitu nyaman berada di pelukan Helena.
"Bu, Ibu.... Aku beli mango cake untuk kita berdua!" Ucap Sofia tapi dengan cara bicaranya yang masih cadel dan sulit karena usianya yang baru tiga tahun.
Helena segera mengendurkan pelukannya, menyeka air matanya lalu tersenyum.
"Benarkah? Kalau begitu biarkan mango cake itu masuk ke dalam sini!" Helena mengusap perutnya ingin dia tunjukan kepada Sofia.
Bersambung.
__ADS_1