Why?

Why?
Keyakinan Penuh


__ADS_3

"Kau baik-baik saja?" Tanya Martin begitu membuka pintu dan melihat Helena seperti baru saja menangis. Awalnya Martin ingin menjemput sampai ke depan di mana Helena berada, tapi karena Sofia memanggilnya terus menerus, di tambah ada satu hal mendadak yang harus dia lakukan, jadilah dia terlambat datang untuk menghampiri Helena.


Helena tersenyum, memang bisa apa selain tersenyum? Sejarah hidupnya memang sudah berubah jauh seperti enam tahun sebelumnya, tapi hidup juga harus berjalan agar dia bisa mendapatkan apa yang seharusnya Velerie dapatkan. Mungkin ini terdengar tidak mungkin, tapi bagi seorang Ibu, bahkan menghancurkan dunia juga bukanlah hal yang mustahil untuk di lakukan.


"Tidak ada, hanya sedikit kejadian yang membuatku merasa lebih lega. Tapi aku jelas baik-baik saja." Helena tersenyum, membuat Martin juga hanya bisa tersenyum tak berani bertanya lebih jauh tentang apa yang terjadi, tentang hal yang di maksud oleh Helena.


Beberapa saat kemudian.


Helena dan Martin kini tengah berada di ruang tengah, ruangan yang di gunakan oleh Martin dan kawan-kawan untuk menerima klien mereka. Sebenarnya sampai detik ini Helena masih bingung dan bertanya-tanya apakah sungguh rumah itu di jadikan karir untuk mereka yang bekerja di sana?


"Kau pasti heran dengan tempat ini, tapi percayalah aku, juga teman-teman ku yang lain akan melakukan yang terbaik yang bisa kami lakukan."


Helena menatap Martin, sungguh tidak tahu harus seberapa banyak dia mengucapkan terimakasih kepada Martin, pria itu benar-benar menjadi semangat untuknya memperjuangkan semua ini. Kalau saja sakti itu Martin tidak memintanya untuk kembali memikirkan semua ini, Helena pasti juga sudah menjadi tengkorak, terkubur di dalam tanah sekarang.


"Kau mau lihat-lihat tidak?" Ajak Martin yang tentu tak mendapatkan penolakan dari Helena. Mereka mulai bangkit, lalu berjalan untuk masuk ke dalam. Pertama mereka datang ke ruang keluarga yang di jadikan tuah bekerja bersama empat rekan lainnya, mereka semua juga menyapa Helena dengan ramah. Di antara mereka semua, Martin adalah yang paling muda.

__ADS_1


Martin dan Helena Kembali melanjutkan langkah kaki mereka, menyelusuri ruang demi ruang yang di gunakan dengan sangat baik oleh mereka semua. Tiga kamar tidur di gunakan untuk satu ruang penyimpanan berkas, satu lagi ruangan untuk istirahat, dan di sanalah Sofia kini berada. Satu lagi di gunakan untuk pemilik rumah yang gak lain adalah Tuan Helian. Dia adalah pria berusia lima puluh tiga tahun yang juga adalah salah satu pengacara meski namanya memang tidak atau jauh dari terkenal. Selama ini dia, ataupun rekannya hanya menangani kasus kecil, jadi soal popularitas tidak bisa di bandingkan dengan pengacara Jhon yang adalah pengacara langganan para toko terkemuka dan terkenal.


Helena benar-benar di sambut dengan sangat baik, semua orang menyapa dengan ramah, membuat Helena merasa kehadirannya benar-benar memiliki arti yang cukup baik untuk mereka. Rasanya sungguh berbeda saat datang ke kantor polisi atau ke kantor pengacara seperti saat datang ke firma hukum milik pengacara Jhon. Helena merasa aman, juga di terima dengan baik sehingga hati Helena benar-benar semakin me ada yakin benar dengan keputusan yang telah dia ambil.


Beberapa saat kemudian.


"Kasus mu ini bukan hanya rumit, Helena. Tapi jika kita bisa menemukan titik tengahnya sekarang, maka percayalah semua akan selesai dengan hasil yang kita inginkan." Ucap Martin seraya menjauhkan beberapa tumpuk selembaran di mejanya, memindahkan ke ujung meja agar tak menganggu mereka berdua saat bicara.


Helena terdiam sebentar, dia mendengarkan apa yang di katakan Martin dengan serius, dan begitu dia memahami apa yang di katakan Martin, barulah dia mencoba untuk bicara sesuai dengan apa yang dia rasakan.


"Aku mengerti, sekarang bagaimanapun caranya, aku tidak akan mundur, pengorbanan apapun akan aku berikan, bahkan aku juga akan dengan suka rela menyerahkan nyawaku jika memang itu di butuhkan."


"Jangan berlebihan seperti itu, Helena. Hidup mu tetap saja sangat berharga tidak perduli apapun yang terjadi, kau tetap harus menghargai kehidupan yang masih bisa kau jalani."


Helena memaksakan senyumnya, menghargai kehidupan? Bahkan kehidupan pun tidak menghargai dirinya, merebut apa yang menjadi satu-satunya cahaya hidupnya. Jika saja kasus Velerie cepat selesai, maka Helena juga akan memilih cepat untuk mengakhiri hidup karena berada di dunia ini benar-benar membuatnya sesak dan menyesal karena lahir sebagai manusia di dunia ini.

__ADS_1


"Helena, sebenarnya betapa waktu lalu aku sempat berbicara dengan mantan suamimu. Dia juga sangat terlihat terpukul, dia terlihat putus asa, sepertinya dia juga tidak akan membiarkan mu berjuang untuk Velerie tanpa dirinya, bagiamana jika kau melibatkan dia?"


Helena memaksakan senyumnya, melibatkan mantan suaminya? Mungkin David memiliki keinginan untuk membantunya, karena bagaimanapun Velerie adalah anak mereka. Tapi, Helena juga tahu benar bagaimana sifat David yang sebenarnya.


"Itu tidak akan membantu apapun, sungguh. Dia hanya tahu caranya bersedih, dia juga merasakan kehilangan seperti yang aku rasakan, tapi dia sama sekali tidak pernah ingin pergi dari kesedihan yang sebenarnya. Dia, adalah makhluk yang paling menyedihkan. Dia memilih jalannya sendiri, terluka karena pilihannya sendiri, walaupun dia tahu itu menyakitkan, dia tidak pernah berniat pergi dan menolong dirinya sendiri. Orang yang seperti itu, orang yang bahkan tidak malu menolong dirinya sendiri, apakah mungkin bisa menolong orang lain?"


Martin terdiam sebentar, benar! Bahkan jika kesakitan itu begitu menyiksa, bukankah jalan untuk sembuh dengan merelakan rasa sakit bukankah pilihan yang seharusnya?


"Baiklah, aku mengatakan itu bukan berniat untuk mengorek tentang masa lalu mu, ada beberapa hal yang mengganjal jadi aku pikir kalau melibatkan dia akan sedikit lebih terang."


Ucapan Martin barusan membuat Helena menatapnya dengan serius.


"Hal apa sampai kita membutuhkan dia?"


Martin sebentar terdiam, memikirkan apakah yang akan dia katakan itu tidak masalah? Bagaimanapun kebanyakan yang namanya mantan istri dan mantan suami pasti akan memilih untuk tidak saling bertemu agar tidak perlu saling memaksakan diri untuk bertegur sapa dan berbicara, tapi Martin pikir akan lebih baik kalau mendapatkan jawaban secara langsung dari David.

__ADS_1


"Begini, dua ginjal anakmu hilang tentu saja kau bertanya kemana ginjal anak mu kan? Aku sudah mencoba melacak transaksi rumah sakit dengan pihak tertentu, tapi rumah sakit ingin menyelamatkan diri sehingga membuat kesalahan ini menjadi kesalahan pribadi yang di lakukan oleh Farah. Tapi begitu aku menelusuri aktivitas Farah, sepertinya ginjal putrimu sangat berharga sekali sehingga tidak tanggung-tanggung memberikan upah kepada Farah. Intinya, orang yang mencuri ginjal anakmu seharusnya adalah orang yang dekat dengan putrimu, dia tahu ginjal putrimu cocok untuk seseorang yang sangat berharga untuknya."


Bersambung.


__ADS_2