
Sebenarnya begitu Velerie lahir, bak David dan juga Helena sangat terkejut melihat keadaan anak mereka, tapi mau bagaimana lagi?Velerie adalah buah cintanya bersama Helena, Velerie adalah anak yah lahir dari benihnya, dia tidak bisa tidak menyayangi Velerie. Helena dan David pada awalnya kukuh untuk membesarkan Velerie sendiri, tidak akan meminta bantuan dari pihak keluarga manapun karena mereka tidak ingin mendengar kalimat yang tidak mengenakan. Tapi, baru saja sebelas bulan mereka hidup bertiga, masalah demi masalah muncul dan David yang terpojok dan tak berdaya memilih jalan yang paling menyakitkan dan yang paling dia sesali hingga detik ini. Dia melepaskan Helena, melepaskan putrinya, melepaskan cinta dan harapannya demi kedua orang tuanya.
Andai saja dia memiliki keegoisan dan keteguhan yang kuat, andai saja dia tidak meninggalkan Helena dan Velerie, sudah pasti Velerie masih hidup dengan sehat bukan?
"Ah......! Dasar bodoh! Pria brengsek! Bajingan! Kenapa tidak kau saja yang mati?! Bodoh!" David memukuli setir kemudinya, menangis sejadi-jadinya menyesali keputusan besar yang pernah dia lakukan hanya karena Ibunya terus mengancam untuk nih diri. Padahal Ibunya jelas tidak akan mungkin melakukan itu, tapi kenapa David begitu tidak berdaya saat itu?
Beberapa saat kemudian.
Helena terdiam dengan tatapan terkejut melihat David yang berdiri di depan pintu apartemennya. Dia nampak sangat tidak baik, keadaannya benar-benar kacau dan berantakan, matanya merah dan bengkak seperti banyak menangis belum lama ini.
"Kenapa kau datang kesini? Kau, jangan membuatku dalam masalah, aku tidak ingin memiliki urusan dengan istrimu yang sangat gila dan begitu cemburu buta." Ucap Helena yang memang seperti itulah isi kepalanya. Sial! Andai saja David datang setengah jam yang lalu, tentu saja dia tidak perlu merasa takut seperti sekarang ini karena Martin masih berada di sana.
David terdiam sebentar, tapi lama kelamaan dia juga tidak tahan lagi. David menjatuhkan dirinya hingga berada di posisi bersimpuh di hadapan Helena.
"Maaf, maafka ku, maaf, maaf aku benar-benar minta maaf. Maaf karena semua menjadi seperti ini, maaf karena aku memilih meninggalkan kalian dan membuat kalian menderita, membuat semua berakhir seperti ini." David gemetar hebat, dia terlibat benar-benar menyesali apa yang terjadi, bahkan dia juga kembali menangis membuat Helena tak bisa berkata-kata.
__ADS_1
Memang benar dia pernah menyalahkan semua yang terjadi atas kesalahan David, tapi saat dia juga menyadari semua hal yang terjadi adalah juga karena kesalahannya, Helena memilih untuk tetap diam dan menjalani saja apa yang perlu dia jalani. Dulu Velerie adalah alasannya hidup, sekarang alasannya adalah untuk mendapatkan keadilan bagi Velerie. Dia sudah tidak ingin memikirkan yang lain, dia tidak ingin terus berurusan dengan masa lalu apalagi dia tahu dan paham benar bagaimana sifat Melisa yang begitu mudah menyimpulkan sesuatu dengan sisi negatif.
"Bangkitlah, David. Kau bersalah, itu tentu saja, tapi aku juga salah. Kita sama-sama salah, jadi berhenti berlutut seperti itu, aku benar-benar tidak ingin kau seperti ini. Pulanglah, kau tahu bagiamana Melisa kan?"
David terdiam sebentar, lalu tak lama dia bangkit dari posisinya dan menatap Helena dengan ekspresi yang sulit untuk di artikan. Dia ingat benar bagaimana Helena begitu baik dan sabar dengan segala cobaan rumah tangga, dan hal itu benar-benar berbanding terbalik dengan Melisa. Tahu, sejak awal dia menikahi Melisa dia sudah sangat yakin tidak akan pernah mungkin bisa menemukan kedamaian seperti yang dia rasakan saat bersama dengan Helena.
"Kembalilah, David. Kau tahu bagiamana sulitnya menghadapi Melisa bukan? Aku bukanya tidak tahu kalau hidup mu juga sulit, aku hanya mencoba untuk tidak perduli dan fokus dengan hidupmu. Bagaimanapun Melisa, dia adalah istrimu sekarang, kau juga sudah memiliki anak jadi kau juga hanya bisa melanjutkan itu. Kita sudah tidak terikat apapun, Velerie sudah tidak ada lagi, jadi kita hanya bisa seperti dua orang asing saja."
"Orang asing? Kau, sungguh begitu? Jadi itu alasannya kau tidak memberitahu kalau Velerie di curi ginjalnya? Kau tidak mengatakan itu padaku karena menganggap aku orang asing?"
Helena terdiam, sungguh dia tidak tahu kalau akan secepat ini David tahu. Pada awalnya memang Helena tidak mengingat David sama sekali, tapi hubungan antara ayah dan anak mana bisa di putus begitu saja?
David sudah tidak bisa mengatakan apapun lagi, Helena sudah banyak berjuang untuk Velerie, dia mengorbankan segalanya, menolak menikah lagi hanya demi bisa mengurus Velerie, dia juga berniat hanya hidup berdua saja selamanya dengan Velerie. Lantas, dia yang bahkan tidak pernah memberikan apapun selain luka mana pantas menuntut Helena?
David memilih untuk beranjak pergi dengan langkah kakinya yang terasa begitu berat. Dia benar-benar seperti tak memiliki keinginan apapun dalam hidup.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian.
David kembali ke rumah, rumah di mana Melisa, Denise, dan Ibunya tinggal. Rasanya masih belum siap untuk kembali sekarang, tapi semua akan menjadi sangat rumit kalau David tidak segera kembali. Ini sudah pukul dua belas malam, David benar-benar berharap Melisa sudah tidur jadi dia tidak perlu bertengkar dulu dengannya.
"Kau benar-benar semakin hebat sekarang, David." Ujar Melisa seraya berjalan mendekati David yang sedang menyimpan kunci mobilnya.
David membuang nafasnya, sepertinya dia memang tidak akan pernah mendapatkan ketenangan di rumah itu. Sebentar David mencoba untuk mengabdikan saja Melisa. Ini sudah sangat malam, jadi akan malu kalau bertengkar di tengah malam seperti itu bukan?
"Katakan padaku, apa yang kau lakukan setelah membentak Denise, lalu pulang sampai semalam ini? Mau di pikirkan bagaimanapun, sebenarnya kau adalah seorang pengecut, David."
David tersenyum tipis seolah ucapan Melisa itu memang seperti kenyataannya. Dia benar-benar sedang tidak memiliki minat untuk bertengkar, apa yang dia tahu tentang Velerie sudah cukup mengguncang jiwanya, Jadi dia tidak ingin memikirkan yang lain sekarang ini.
"David, aku sedang bicara!" Melisa membentak, matanya membulat marah menatap David yang mencoba untuk menghindari dirinya. Melihat itu Melisa jadi berpikir bahwa David pasti melakukan kesalahan hingga tidak berani menatap matanya dan bicara padanya.
David membuang nafas kasarnya, menatap Melisa sebentar saya dia bicara.
__ADS_1
"Aku tidak tahu harus menjawab apa, Melisa. Kalau aku mengatakan sesuatu, kau hanya akan tahu marah, berteriak tidak perduli waktu bukan? Ini sudah tengah malam, aku hanya tidak ingin pertengkaran kita menggangu yang sedang tidur."
Bersambung.