Why?

Why?
Menunggu Jemputan


__ADS_3

Helena membuang nafasnya, apa yang di katakan Ibunya tentang meminta Helena untuk menjalani hidup baru, dengan kebahagiaan baru tentu saja tidak salah, yang sangat salah adalah waktu yang di gunakan oleh Ibunya sangat tidak tepat.


"Begitulah? Aku lelah? Aku memang lelah, aku merasa hancur dan sakur setiap satu mengingat aku gak lain memiliki sosok yang selama ini menjadi semangat hidupku. Aku merasa kesepian, merasa sendirian, tapi Ibu, Ayah, kakak ku, adikku, kalian semua tidak ada yang datang dan mengatakan bahwa kalian akan bersama denganku. Kalian semua, selalu merasa bahagia dengan diri kalian tanpa aku, jadi tolong jangan mengatakan dan bersikap seolah aku adalah anak yang Ibu sayangi."


"Helen, Ibu memang benar-benar menyayangimu."


Helena menatap Ibunya dengan tatapan kesal.


"Jangan coba untuk membohongiku, Ibu. Coba ingat kembali seberapa banyak Ibu mengorbankan aku untuk Kakak dan adikku? Mulai dari menu sarapan, uang jajan sekolah, pembayaran uang sekolah, bahkan Ibu tidak lupa bukan di antara anak Ibu yang lain, aku adalah satu-satunya anak yang lulus sekolah tapi tidak bisa mendapatkan ijazah karena bahkan separuh lebih belum di bayar. Coba ingat lagi, berapa kali aku harus menggunakan baju bekas, lalu bagaimana dengan yang lainnya? Ibu, aku diam selama ini tapi aku benar-benar menangis di dalam hati, aku selalu mengatakan aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja, tapi apa Ibu pernah sekali saja memikirkan bagaimana perasaan ku?"

__ADS_1


Ibunya Helena terdiam menahan tangisnya, tidak, sungguh bukan karena dia sengaja, bukan karena dia tega. Tapi mau bagaimana lagi? Dia juga salah karena selama ini menganggap remeh Helena yang begitu banyak diam. Dia pikir Helena mengerti kondisi dan situasinya, tidak pernah menuntut apalagi mengeluh. Helena hanya diam, tak mengatakan apapun dan melangkah pergi saat dia melihat apa yang hal yang tidak dia sukai. Selama ini dia terlalu menganggap remeh perasaan Helena, menganggap enteng Helena yang begitu banyak diam, parahnya dia tidak pernah bertanya apa yang di rasakan Helena, dan apa yang sedang dia pikirkan.


"Ibu, sejak aku lulus sekolah menengah atas memilih untuk bekerja tidak perduli pekerjaan apapun asalkan aku tidak perlu menodai harga diriku aku lakukan, tujuanku hanyalah satu yaitu, menjauh dari kalian semua, menjauh dari keluarga yang bahkan tidak terasa seperti keluarga untukku. Tentu saja aku harus tetap berterimakasih karena berkat Ibu aku lahir, memiliki kesempatan untuk hidup di dunia ini. Tapi sungguh, jangan mengatakan apapun, jangan menyarankan apapun karena apa yah Ibu inginkan, apa yang Ibu katakan sama sekali tidak sejalan dengan apa yang aku inginkan."


Ibunya Helena menghela nafas dalam mimik kelu seperti tak bisa bicara lagi. Dia pikir setelah Velerie meninggal Helena akan memiliki waktu untuk diri sendiri, dia akan datang dan bergabung bersama keluarga saat dia merasa kesepian, tapi ternyata itu sama sekali tak terjadi. Hari demi hari dia habiskan untuk menunggu Helena datang, meminta saran dan memeluknya untuk di tenangkan, tapi dia sudah benar-benar salah paham dalam mengenali Helena. Helena tidak akan melakukan sesuatu yang dia harapkan itu.


"Sekarang Ibu bisa pergi, biarkan aku tinggal disini. Hanya tempat ini yang seperti rumah bagiku, dan aku minta maaf karena untuk waktu yang lama aku mungkin tidak akan datang ke rumah Ibu, aku tidak yakin juga akan datang entah apapun alasannya."


"Baiklah, Ibu akan segera pulang. Tolong jaga dirimu baik-baik, jangan tinggalkan waktu untuk makan, datanglah kepada Ibu saat kau butuh, Ibu janji akan ada dan mendukungmu apapun keputusan yang akan kau ambil untuk hidupmu." Setelah mengatakan itu, Ibunya Helena meraih tasnya, bangkit dan berjalan keluar dari apartemen dengan perasaan sedih.

__ADS_1


Di sisi lain.


Melisa menangis di sudut ruangan di mana kamarnya berada, sejak kemarin dia benar-benar seperti tak memiliki kemapuan untuk melihat dunia seperti sebelumnya. Awalnya dia berpikir bahwa yang penting Denise dalam keadaan baik, maka dia akan baik-baik saja. Tapi dia benar-benar salah, semua benar-benar tidak seperti yang dia harapkan, bahkan Ayahnya sendiri juga melimpahkan segala kesalahan terhadapnya.


Sejak kemarin dia kebingungan mencari Denise, rupanya Denise berada di kamar sebelah sedang menjalani perawatan untuk memastikan benar bagiamana kerja organnya. Entah bagaimana kebetulan itu terjadi, yang jelas sudah pasti ada unsur campur tangan dari Helena dan juga Martin.


Sekarang dia benar-benar tidak bisa berbuat apapun, Ayahnya memintanya untuk menurut saja dan mengatakan apa yang sudah terjadi adalah karena dirinya agar nama keluarga tidak ikut kotor, dan masa depan Denise juga akan terjamin. Sudah tidak ada lagi yang bisa di harapkan lagi, David jelas menolak untuk membantunya, bahkan setiap kali melihat Melisa, David seperti ingin membunuh Melisa sehingga Melisa memilih untuk mengurung diri di kamar, sedangkan Denise di jaga oleh David dan Ibu mertuanya.


Melisa kini hanya tinggal menunggu saja kapan dia akan di jemput oleh pihak kepolisian karena dia sudah di beritahukan oleh Ayahnya bahwa polisi akan langsung datang dan membawa Melisa tanpa adanya surat atau panggilan apapun.

__ADS_1


"Helena, ini semua pasti karena Helena. Kalau saja dia tidak ada, semua pasti akan baik-baik saja kan? Padahal aku sudah menerima banyak ketidak adilan, tapi tetap saja pada akhirnya aku yang kalah. Aku tidak akan bisa menerima ini, aku akan membuat perhitungan denganmu setelah aku keluar nanti." Gumam Melisa meski dia terus terisak meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan. Sekarang dia akan kesulitan menemui Denise, tidak bisa lagi menemani dan menguatkan Denise saat dia kesakitan seperti biasanya. Tentu hal ini adalah hal yang paling menyakitkan sebagai seorang Ibu, tapi tetap saja Melisa tidak pernah memikirkan bagiamana perasaan Helena saat dia membunuh putrinya Helena, dan dia juga mengabaikan kalau untuk menuju kematian pasti Velerie merasakan kesakitan yang teramat. Dia lupa untuk memikirkan orang lain karena terlalu sibuk memikirkan diri sendiri, sibuk memenuhi perasaan yang menginginkan kebahagiaan hingga sampai akhir dia masih tidak mengerti dan memahami bahwa dia telah menghancurkan dunia orang lain demi dunia indah yang sebenarnya semu.


Bersambung.


__ADS_2