Why?

Why?
Helena, Hobi Merepotkan Diri


__ADS_3

Setelah mendapatkan pesan dari Martin, pesan yang memberitahukan di mana alamat Martin tinggal. Helena kini bergegas menuju kesana untuk membantu merawat Sofia yang sedang sakit. Bukannya ingin berperan baik atau apapun itu, karena untuk seorang Ibu yang baru saja kehilangan seorang anak tidak lah mudah melihat anak lain dalam keadaan tidak baik. Meskipun jelas tidak akan bisa menggantikan bagaimana rindunya dia terhadap Velerie, setidaknya sebagai seorang wanita yang telah menjadi Ibu, dia tahu benar bagaimana menangani anak yah sedang sakit di banding Martin yang selama ini tidak memiliki kesempatan untuk merawat putrinya.


"Kau sungguh datang?" Tanya Martin setelah membukakan pintu dan mendapati Helena benar-benar berada di depan pintu apartemennya.


"Dimana putrimu?"


Helena bergegas masuk ke dalam apartemen, menghampiri Sofia yang berbaring di atas tempat tidur. Di dahinya sudah ada kain basah untuk menyeka agar panasnya turun, ruangan juga sudah tidak menggunakan pendingin, di tambah Sofia juga sudah memakai pakaian berbahan tipis seperti yang Helena katakan melalui pesan sebelum dia menuju ke apartemen Martin.


"Ibu...Ibu...Ibu...."


Martin mengeraskan rahangnya, sesungguhnya melihat bagaimana Sofia terus memanggil Ibunya dia benar-benar sangat sedih dan hancur. Sempat menyalahkan keadaan, apakah lebih baik jika Sofia memang tinggal bersama Ibunya saja? Tapi dia juga tidak berdaya karena Ibunya juga tidak menginginkan putrinya sendiri.


Helena terdiam menahan tangisnya, cara Sofia merintih memanggil Ibu, Ibu, Ibu, sungguh sangat mirip seperti Velerie. Hanya saja Velerie akan lebih banyak merengek, tangan kaki, dan kepalanya akan terus membuat gerakan dan sulit untuk tenang saat dia demam tinggi seperti ini.


Tak tega mendengar Sofia merengek seperti itu dalam keadaan tidur, Helena tanpa izin terlebih dulu mengambil posisinya untuk berbaring di sebelah Sofia, meraih tubuh Sofia untuk dia peluk.


"Sofia, kau pasti merindukan Ibumu ya? Tapi maaf, sekarang Ibumu sedang tidak ada, jadi biarkan Bibi saja yang menemanimu di sini ya?" Tidak mendapatkan jawaban dari Sofia, tapi gadis itu mulai tenang di dalam pelukan Helena, tertidur pulas, dan tidak lagi memanggil Ibu lagi.


Martin tersenyum, rasanya memang sulit sekali seorang Ayah untuk bisa merangkap menjadi Ibu juga, tapi seorang Ibu bisa melakukan apapun. Bisa menggantikan sosok Ayah, teman, saudara juga bisa.


"Helena, aku minta maaf karena menyulitkanmu. Tapi bisakah kau tinggal di sini saja malam ini? Maafkan aku berlebihan meminta tolong padamu, aku hanya takut anakku akan bangun dan gelisah lagi."


Helena mengangguk setuju membuat Martin benar-benar merasa bahagia dan lega.

__ADS_1


Sekarang giliran Martin yang bingung di mana dia harus tidur malam itu. Kamar satunya lagi dia gunakan untuk ruang bekerja, juga buku-buku tentang hukum. Ruang tamunya hanya ada satu sofa saja, hanya cukup untuk pinggang sampai kepala, tidak untuk kakinya. Sudahlah, dia memang harus bersabar malam ini, jadi akan akan mencoba untuk tidur meringkuk saja di sofa ruang tamu.


Besok paginya.


Martin memegangi punggungnya yang terasa sakit sembari menyiapkan sarapan untuk mereka semua. Sial! Semalaman dia benar-benar tidak bisa tidur, sofa kecil itu sungguh menyiksa untuk dirinya yang memiliki tinggi sekitar seratus delapan puluhan lebih.


Sementara Helena di dalam di dalam kamar merasa lega sekali karena panas tubuh Sofia sudah tidak lagi terasa.


Di sisi lain.


"Pastikan wanita itu tidak mencurigai apapun, segalanya sudah harus berakhir seperti yang aku inginkan. Tidak masalah berapa banyak uang yang harus di keluarkan, asalkan semua tetap aman tentu saja aku juga akan dengan senang hati menggelontorkan uangnya." Pria paruh baya itu tersenyum jahat setelah selesai bicara kepada seseorang di seberang teleponnya. Dia kini tengah menatap dinding ruangan yang terbuat dari kaca sehingga dia bisa melihat bagaimana suasana di luar gedung yang terlihat sekecil semut karena tingginya lantai gedung di mana dia berada.


Tenang saja, semua saksi dan bukti sudah di singkirkan. Sekarang hanya tinggal mengawasi pengacara Martin, karena semalam orang kita melihat wanita datang ke apartemennya.


"Kalau saja mereka berdua memiliki rencana tersendiri, maka yang akan menanggung segalanya adalah kau. Jangan lupa kalau aku memegang semua kartu as mu, kebusukan mu akan sangat menghancurkan dirimu, seluruh keluarga mu, dan juga generasimu yang selanjutnya. Maka itu jangan kecewakan aku, dan bekerjalah dengan cermat."


Bagaimana kalau kita habisi saja mereka berdua, Tuan?


Pria itu membuang nafas kasarnya. Membunuh? Kalau saja waktunya tidak sedang berpihak kepada mereka, media yang sedang menyoroti Helena dan Martin, mana mungkin dia akan membiarkan dua orang itu bersantai membuat ulah setiap harinya?


"Kalau salah satu mereka mati, maka kecurigaan masyarakat akan semakin menjadi, dan kalau mereka mati di waktu dekat ini, maka kalian semua yang akan menanggung resiko besarnya. Membunuh salah satu, atau mereka bersamaan bukan hal yang benar saat ini, tetap saja seperti semula, jalankan rencana itu. Ingat, wanita itu harus di pastikan tidak membuat ulah setelah kasus selesai, nanti kalau keadaan sudah reda, kau bisa habisi dia."


Baiklah, saya paham, Tuan. Saya akan melakukan yang terbaik dan sesuai dengan rencana kita.

__ADS_1


Pria itu menjauhkan ponselnya, terdiam sebentar untuk sedikit mengurangi banyaknya hak yang dia pikirkan belakangan ini.


"Kau masih saja memantau perempuan sampah itu? Dia hanyalah gadis bodoh, dan pengacara bodoh, untuk apa begitu memikirkannya?" Seorang wanita datang dari belakang, memeluk pria paruh baya itu yang kini tengah duduk di kursi kerjanya setelah selesai berbicara dengan teleponnya.


Pria paruh baya itu menyenderkan tubuhnya di senderan kursi, terdiam sebentar sebelum menjawab ucapan wanita yang tak lain adalah istrinya.


"Kita tidak boleh tenang-tenang saja hanya karena sudah melenyapkan bukti, dan saksi. Wanita sialan itu seperti tidak tahu diri, dan terlihat gigih memperjuangkan hak anaknya."


Wanita itu membuang nafasnya, berdecih sebal membatin betapa bencinya dia terhadap Helena.


"Hanya anak idiot, tidak berguna, cacat seperti itu untuk apa di perjuangkan sih? Padahal seharusnya dia kan bersyukur kalau anaknya mati jadi dia bisa menghabiskan masa mudanya dengan bahagia. Memang apa yang akan dia dapatkan dari semua ini? Toh anaknya juga tidak mungkin akan hidup lagi."


"Seharusnya dia memang memiliki otak sepertimu, tapi sayang sekali dia tipe wanita yang hobi merepotkan diri sendiri."


Wanita itu mengubah posisinya, duduk berseberangan meja dengan suaminya dan saling menatap dengan serius.


"Tidak tahu kenapa, cara bicaramu barusan seperti kau sedang menyesali sesuatu. Kau, memiliki keinginan tersendiri kepada wanita sialan itu?"


Pria itu menatap dingin istrinya dan berkata,


"Seratus wanita seperti Helena aku bahkan mampu mendapatkannya jika aku mau."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2