Why?

Why?
Kenapa Harus Putriku?


__ADS_3

"Katakan padaku, bagaimana hasilnya?" Tanya Helena yang sudah tidak ingin membuang waktu lagi, membuat hatinya bimbang dan bingung hingga dadanya terasa begitu sesak dan sakit. Walaupun memang nanti tidak ada yang berubah, tetap saja Helena begitu yakin akan ada titik terang yang terlihat.


Martin terdiam sebentar, mengeraskan rahangnya, dia merasa bingung bagaimana dia akan menyampaikan itu kepada Helena. Tapi Helena adalah orang yang paling berhak tahu tentang ini, jadi Martin benar-benar harus segera memberitahu Helena.


"Sebab kematian putrimu sama persis seperti yang di jelaskan oleh temanmu itu."


Helena tertawa kecil seolah dia sedang mencemooh dirinya sendiri yang terbuai karena mengikuti saran dari Martin untuk membingkai makam putrinya tapi tidak ada hasil apapun.


"Hanya saja,"


Deg!


Helena menatap Martin dengan tatapan serius dan juga terkejut.


"Hanya saja apa?!"


Martin membuang nafasnya sebentar.


"Kedua ginjal putrimu, tidak ada."


Helena terdiam, matanya membulat terkejut luar biasa hingga dia bahkan lupa untuk bernafas. Tidak, tidak, tidak! Bagiamana bisa kedua ginjal Velerie menghilang? Tidak, ini pasti bohong kan?


"Helena?" Panggil Martin yang akhirnya membuat Helena tersadar dan kembali bernafas.


Helena menggelengkan kepalanya, dia menatap Martin dengan tatapan tak percaya, dia terus mengatakan tidak, dan jangan bercanda soal Velerie. Tapi Martin terlihat tak berdaya, dia terdiam tak tahu bagaimana harus meyakinkan Helena karena meyakinkan Helena sama saja dengan sangat menyakiti hatinya bukan?

__ADS_1


"Beraninya kau bercanda seperti itu, beraninya kau mengatakan itu?!" Protes Helena, dia benar-benar tidak ingin mempercayainya sehingga dia membentak Martin dan mengancamnya karena jika meyakini apa yang di katakan Martin, jelas saja hatinya akan merasa sakit. Dunia terasa kiamat setelah Velerie meninggal, lalu bagiamana dia akan menghadapi hatinya yang mengetahui jika putrinya kehilangan dua ginjal setelah kematiannya.


"Aku, aku, aku tidak bisa mempercayai ini, jadi lebih baik kau katakan yang sebenarnya saja!" Helena menyeka air matanya, mencoba untuk terus menolak dan menuntut agar Martin tidak mengatakan itu lagi, tidak mengatakan hal yang menyakiti sekali untuk dia terima.


Martin terdiam sebentar, rasanya dia ingin mempercayai jika itu memang bohong, tapi mau bagiamana lagi kalau memang itu kebenarannya?


"Helena, maafkan aku, tapi hasil uji forensik ini sudah di pastikan benar."


Helena menutup kedua telinganya, menangis dan lama kelamaan suara tangisnya begitu kuat. Untunglah mereka berada di dalam ruang VVIP yang memiliki sistem kedap suara sehingga suara Helena tidak akan terdengar keluar sekeras apapun dia menangis.


"Kenapa? Sebenarnya kenapa dengan putriku? Apakah mati dengan mengenaskan saja tidak cukup untuknya? kenapa harus mengambil dua ginjalnya?! Salah apa putriku? Kenapa tega sekali?!" Helena kembali menangis sejadinya membuat Martin juga ingin menangis. Segera Martin mendekati Helena, memeluknya erat dan membiarkan Helena tetap berada di dalam pelukannya untuk menangis dan melepaskan sebentar saja kesedihannya.


"Menangis lah, dunia memang kejam bukan? Dunia ini sangat kejam kepadamu, tentu saja tidak masalah kau marah, dan sedih. Menangis lah, kau bisa menangis sebanyak yang kau mau. Tidak masalah, itu tidak akan menodai keteguhan dan kesabaranmu. Aku memang bukan kau sehingga sedalam apa sakitnya aku tak bisa merasakan dengan jelas, tapi percayalah padaku semua akan membaik, aku disini, aku menemanimu, mari kita berjalan bersama menemukan apa yang kita cari."


Helena tanah mulai tenang kini tengah terdiam membayangkan semua rentetan kejadian yang begitu klop jika di gabungkan.


"Kenapa tidak datang saja padaku? Kalau saja dia mengambil ginjal anakku dengan mengatakan bagaimana kondisi orang yang membutuhkan donor ginjal, bukankah aku akan mempertimbangkan ini dengan baik? Toh Velerie ku adalah gadis yang baik, dia pasti akan merasa senang juga dapat membantu orang lain bukan?" Ucap Helena dengan nada suara yang begitu lemah, Isak tangisnya juga masih terdengar beberapa kali saat dia bicara tadi.


"Kemungkinan terbesarnya adalah, Velerie sengaja di bunuh untuk di ambil ginjalnya. Maafkan aku mengatakan ini dengan kejam, tapi kau seharusnya bisa lebih jelas mengingat bagaimana Velerie setelah meninggal bukan?"


Helena tentu saja ingat, ingat sekali bahkan. Pantas saja mayat putrinya sudah di bungkus rapih tidak menunggu pendapat darinya. Jadi ini adalah alasannya? Mereka tidak ingin Helena tahu dan curiga saat melihat perut Velerie yang pasti ada jejak setelah dua ginjalnya di angkat kan?


"Orang itu membunuh putriku untuk menyelematkan orang lain? Betapa kejamnya, apakah dia pikir hanya orang yang dia sayang saja yang lantas hidup? Hanya karena putriku memiliki down syndrom dia melakukan ini? Apakah dia tidak memikirkan sama sekali bagaimana perasaan Ibu dari anak yang dia bunuh?" Helena mengepalkan tangannya, matanya yang terlihat begitu marah cukup jelas menunjukkan betapa hancur dan sakitnya perasaannya saya ini.


"Helena, ada banyak sekali orang yang memandang rendah dan sebelah mata mengenai hidup dan nyawa orang lain. Mereka lupa bahwa yang tidak penting bagi mereka adalah hal yang paling di cintai oleh orang lain. Mereka yang arogan seperti itu, memang ada untuk menguji orang yang baik."

__ADS_1


Helena tersenyum dengan mimik mencemooh.


"Aku tidak bisa mengerti, aku juga tidak ingin mengerti apa maksudnya. Velerie adalah duniaku, dia bagian yang paling penting di dalam hidupku, dan orang itu telah merampas itu semua dariku." Helena kini menatap Martin dengan tatapan serius, tapi dia juga terlihat memohon. Helena meraih tangan Martin, menggenggam dengan erat.


"Martin, tolong jangan melarang ku, biarkan aku melakukanya sendiri, aku akan menghukum mereka semua dengan tanganku sendiri. Anggap saja kau tidak tahu menahu, anggap saja kau tidak ada urusannya dengan ini."


Martin menggelengkan kepalanya, tentu saja tidak bisa seperti itu. Dia tidak bisa membiarkan Helena dalam bahaya, terutama masalah hukum karena Martin yakin sekali pengacara Jhon akan membuat Helena tak bisa lepas sedikit saja kesalahan yang dia buat, pengacara Jhon akan memanfaatkan peluang itu dengan sangat baik.


"Kau tahu itu berbahaya untukmu, kau tidak lupa kalau pengacara Jhon sedang mengincar mu bukan?"


"Kalau begitu, bantu aku dengan caramu, tapi jangan halangi aku, jangan menghentikan ku, aku akan melakukannya dengan tanganku sendiri."


Martin menggenggam tangan Helena dengan kuat.


"Jangan lakukan itu, aku tidak bisa membantumu jika kau membunuh orang."


Helena terdiam sebentar.


"Kenapa aku harus membunuh kalau aku bisa membuat hidup mereka seperti sekarat? Kematian adalah hal yang indah, jadi untuk apa aku memberikan kematian untuk mereka?"


Martin menghela nafas lega. Iya, asalkan Helena tidak membunuh orang, bagaimana pun caranya Martin akan mencoba untuk tetap melindungi Helena.


"Baiklah, aku ada di belakangmu."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2