
Sial! Kenapa tidak aku habisi saja anak ini dulu!
Seperti itulah yang di batin Ibunya Melisa. Dulu, Ibunya Helena pernah datang membawa Helena yang masih merah dan menceritakan semuanya kepadanya. Dia tidak bisa menerima kenyataan itu, dia meminta Ibunya Helena untuk menyimpan rapat-rapat rahasia itu. Dulu dia tidak begitu berani menyakiti manusia lain apalagi dia juga memiliki bayi setelah menunggu sekitar enam tahun pernikahan.
Martin benar-benar kehabisan kata-kata mendengar fakta yang benar-benar tak pernah dia bayangkan itu. Jadi selama ini Ibunya Helena meminta kasus tentang Velerie di hentikan karena tidak ingin Helena menyerang Ayah kandungnya sendiri? Terdengar baik, tapi apa yang terjadi ini adalah situasi yang paling buruk dan paling tidak masuk akal.
Tuan Feto mengarahkan pandangannya menatap Helena yang juga menatapnya dengan tatapan menghina, jijik, memaki sebab sorot matanya yang begitu tajam mengingatkan Tuan Feto dengan mendiang Ayahnya.
"Sungguh, jangan menatapku seperti itu, aku benar-benar jadi ingin meludahi wajahmu." Ucap Helena yang kini benar-benar seperti mendapatkan kembali energi untuk memaki.
Tuan Feto memundurkan langkahnya, dia benar-benar seperti tak bisa mengelak membuat Ibunya Melisa tak bisa menerima itu sehingga tanpa pikir panjang mengangkat pisau itu tinggi-tinggi dan bersiap mengayunkan kepada Helena.
Melihat hal itu Martin, Ibunya Helena, juga Tuan Feto bergegas berlari untuk menyelamatkan Helena. Martin yang sampai lebih dulu menahan tangan Ibunya Melisa, Tuan Feto mendorong jauh tubuh Ibunya Melisa hingga membentur lantai, dan untunglah dia tidak jatuh ke bagian yang berbahaya.
Ibunya Helena memegangi dadanya yang merasa lega karena putrinya selamat dari bahaya.
__ADS_1
"Helen," Ibunya Helena mendekati Helena, mencoba untuk melepaskan ikatannya sementara Ibunya Helena bangkit dari posisinya menahan sakit sembari menatap Tuan Feto dengan tatapan kecewa dan tidak percaya kalau dia akan di perlakukan kasar oleh suaminya yang selama ini begitu baik padanya.
Tuan Feto, pria lima puluh tahunan itu benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa. Kalau benar Helena adalah putrinya, maka dia juga tidak memiliki pilihan lain selain menyelamatkan putrinya.
"Kau benar-benar memilih menyelamatkan dia?" Tanya Ibunya Melisa yang semakin jelas memperlihatkan perasaan kecewanya kepada Tuan Feto.
Tuan Feto gak menjawab, dia bingung harus mengatakan apa. Dia tidak suka melihat istrinya sedih, tapi dia juga lebih tidak ingin kalau putrinya terluka. Di banding harus memilih, sekarang yang harus Tuan Feto pikirkan adalah, bagaimana jika Helena benar adalah putrinya? Bukankah ini pembodohan diri? Dia membantu putrinya yang lain untuk membunuh cucunya yang lain demi menyelamatkan satu lagi cucunya? Hukuman macam apa ini? Mengapa kehidupan benar-benar mempermainkan dirinya? Seumur hidup dia berusaha sebaik mungkin untuk istri dan anaknya tapi tanpa sadar dia telah mengabaikan satu lagi anaknya, bukan hanya itu saja. Dia menyakiti hingga dia sendiri tidak sanggup untuk mengingatnya kembali. Dulu dia membantu Melisa memisahkan David dan Helena dengan begitu banyak ancaman, lalu membantu Melisa dalam hal apapun, terutama menutupi perbuatan Melisa dan membantu mendapatkan dua ginjal Velerie.
"Tega sekali kau? Hanya karena anak haram mu ini kau menyakitiku?!"
Tuan Feto menatap Istrinya dengan tatapan terkejut, dia juga terlihat begitu dingin dan tegas.
Ibunya Melisa terdiam karena bingung untuk menjawab. Sungguh dia begitu kelepasan karena perasaan marah yang dia rasakan, sekarang ingin mengelak juga sudah tidak bisa kan? Toh jika dia mengelak sekarang nanti juga akan ketahuan kebenarannya jadi sudah tidak ingin lagi Ibunya Melisa menutupi akan hal itu.
"Iya, aku sudah tahu sejak lama! Lalu kenapa? Toh anak itu adalah anak haram bukan? Dia pantas untuk semua yang terjadi ini, karena dia telah begitu jahat kepada Melisa dan juga putra kita!"
__ADS_1
Tuan Feto memundurkan langkahnya, dadanya benar-benar nyeri saya debaran jantungnya terasa begitu cepat, telinganya berdengung hingga sulit baginya untuk berkonsentrasi. Tuan Feto mengangkat kedua tangannya yang kini gemetar hebat membayangkan betapa gilanya tangan itu menyakiti Helena, bahkan sejak kemarin dia memukul Helena, membuatkan Helena terikat di sana hingga Helena begitu tidak berdaya.
"Tuan Feto, kali ini anda benar-benar sudah sangat keterlaluan. Aku benar-benar tidak akan membiarkan anda bebas begitu saja setelah apa yang anda lakukan kepada Helena." Ucap Martin sembari mengangkat tubuh Helena setelah semua ikatan dan rantai di kaki Helena di lepaskan.
Setelah mengatakan itu Martin langsung membawa tubuh Helena agar segera Helena mendapatkan perawatan. Sementara Ibunya Helena memilih untuk sebentar berada di sana karena ada hal yang ingin dia bicarakan kepada dua orang itu.
"Tuan Feto, dan anda Nyonya. Seumur hidupku aku tidak pernah mengusik kehidupan kalian meski adanya Helena yang adalah anak kandung Tuan Feto sendiri. Aku memilih selalu diam saja suamiku merendahkan ku karena melahirkan Helena, sungguh hidupku sulit sekali, tapi kalian semua seolah semakin menjadi senjata mematikan untuk putriku. Dia sudah banyak berkorban sejak dia lahir, dia kehilangan anaknya karena putri kalian, dia bahkan di salahkan untuk kesalahan yang tidak di lakukan. Berhentilah, aku mohon.......Dia hanya manusia biasa, dia bisa merasakan perasaan seperti yang lainnya. Helena ku menderita karena suami dan anak ku yang lainnya, juga menderita karena kalian dan anak kalian. Aku berharap ini selesai, jangan mengusik Helena lagi dan biarkan dia hidup tenang karena sejatinya dia tidak pernah melakukan kesalahan apapun."
Setelah mengatakan itu Ibunya Helena memilih untuk meninggalkan tempat dan menyusul putrinya.
"Bagaimana ini?" Gumam Tuan Feto sembari menatap kedua tangannya yang gemetar hebat.
Ibunya Melisa menatap suaminya yang lagi-lagi terlihat begitu tertekan dan merasa bersalah. Memang kenapa kalau yang di katakan itu benar? Helena hanyalah anak yang tidak sengaja di lahirkan karena kesalahan, tentu saja Helena tidak memiliki arti seperti Melisa dan kakaknya. Ibunya Helena hanya melahirkan satu anak saja, sedangkan dia melahirkan Melisa dan kakaknya, jadi wajar saja jika Melisa yang di nomor satukan, di tambah Melisa juga anak sah mereka yang sudah di tunggu kehadirannya selama beberapa tahun menikah.
"Jangan sok baik, Feto. Anak itu hanyalah anak haram mu yang tidak penting, memang kenapa dan apa hebatnya? Toh dia adalah benalu di hidup kita buka? Sekarang semua sudah seperti ini, kau pikir kita bisa apa? Sebentar lagi kita akan di penjara kalau tidak cepat bergerak dan menghapus semua buktinya."
__ADS_1
Tuan Feto mengusap wajahnya dengan kasar, tidak! Kali ini dia benar-benar tidak akan melakukan hal itu.
Bersambung.