
Di sisi lain.
"Gila! Kau gila, benar-benar gila, Feto!" Ibunya Melisa melemparkan semua barang yang ada di meja kerja milik Tuan Feto, juga menghamburkan kembaran kertas yang entah apa isinya.
Tuan Feto yang sedang duduk hanya bisa menghela nafas, membiarkan semua barang di mejanya hancur berantakan. Tentu saja begini reaksi istrinya kalau mengetahui jika delapan puluh persen aset milik Tuan Feto di alihkan kepada Helena, dan jika Helena menolak maka otomatis akan menjadi milik anak yang di lahirkan Helena nanti.
"Bajingan! Kau anggap apa aku, dan anak kita hah?! Dia sedang kesulitan di penjara, tapi kau justru mengkhianatinya?! Kau Ayah yang kejam!"
Tuan Feto masih memilih untuk diam, Ayah yang kejam? Selalu saja seperti ini, dan karena ucapan itulah dia selalu melakukan apa yang di katakan istrinya hanya demi menunjukan kalau dia bukanlah Ayah yang kejam.
"Sekarang ubah kembali surat kuasa itu, ubah! Kembalikan semuanya atau ubah menjadi milik Melisa, putri sah kita!"
Tuan Feto menatap istrinya yang masih terlihat begitu tak bisa menahan kemarahannya. Sebenarnya dia sedang tidak ingin berdebat karena ingin melanjutkan melihat photo Helena dan memperhatikan satu persatu, tapi istrinya terus saja menuntut ini dan itu jelas tidak akan berakhir jika Tuan Feto masih memilih untuk diam bukan?
"Jawabanku adalah, tidak. Aku tidak akan melakukan apa yang kau katakan."
Ibunya Melisa benar-benar tidak habis pikir, sebegitu pentingkah Helena di banding Melisa?
"Kalau begitu, aku akan pastikan Helena lenyap malam ini!"
Tuan Feto menatap istrinya dengan tatapan tajam, sebenarnya seberapa tak berharganya dia dimata istrinya sehingga dia harus terus melakukan apa yang di katakan istrinya? Apakah masih belum cukup apa yang dia lakukan selama ini? Padahal Tuan Feto begitu dingin jika tehadap orang lain, dia hanya akan menunduk terhadap istrinya, dan hangat kepada putrinya. Apakah sikap seperti itu tidak cukup menjelaskan bahwa dia bukanlah orang yang mudah untuk di tindas?
"Lakukan saja, lakukan apa yang kau katakan barusan, dan lihatlah dengan seksama bagaimana aku akan menunjukkan siapa diriku padamu. Ini bukan lagi soal siapa anak sah dan yang tidak sah, ini soal kewajiban ku sebagai seorang Ayah."
__ADS_1
Ibunya Melisa sebenarnya cukup tertekan dengan bagaimana Tuan Feto menatapnya, mengancam dengan sorot matanya yang dingin. Tapi hatinya yang sakit, hatinya yang tidak terima seolah menuntut dan perlahan menyingkirkan perasaan takut kepada suaminya itu.
"Kau akan membunuhku? Kau akan mengurungku atau membawaku ke penjara ikut bersama mu? Aku benar-benar tidak takut sama sekali dengan itu, Feto. Aku kehilangan Melisa, aku kehilangan Denise, aku kehilangan suami yang dulu begitu baik dan selalu memanjakan kami, kau pikir aku akan merasa takut hanya dengan itu?"
Tuan Feto tersenyum dingin, dia sepertinya memang sudah tidak ingin banyak bicara lagi.
"Baiklah, kau sepertinya memang sudah tidak mau mendengarkan apa yang aku katakan. Sekarang lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, bahkan jika kau menghancurkan dunia tapi kau sendiri yang hancur, maka maaf karena aku hanya akan melihat mu dengan sorot mata acuh."
Setelah mengatakan itu Tuan Feto bergegas bangkit, meninggalkan Ibunya Melisa di sana.
Histeris, kembali mengamuk hanya itu yang bisa di lakukan Ibunya Melisa. Dia menginginkan keluarganya kembali seperti sebelumnya, bahagia dan hanya fokus untuk kesembuhan Denise saja. Tapi sadar jika itu tidak akan bisa terjadi, dia seperti kehilangan akal dan membutuhkan seseorang untuk di salahkan dan menanggung kemarahan yang begitu besar darinya.
Di sisi lain.
Memang benar selama di dalam penjara Melisa masih bisa makan dengan makanan yang baik dan sehat, penjara yang dia gunakan juga cukup baik di banding Nara pidana yang lain. Tapi, semua itu mana bisa menenangkan hatinya yang sedang hancur sehancur-hancurnya? Air mata yang jatuh dari kedua mata indahnya nampak tak lagi bisa di hitung, penyesalan akan semua hal juga dia rasakan benar meski dia masih tetap menyalahkan Tuhan dan Helena.
Pagi tadi, Ibunya datang menjenguk Melisa, dia juga menceritakan bahwa sebenarnya Helena dalam anak kandung ayahnya juga. Sungguh dia sudah tidak ingin hidup lagi karena kehidupan seperti begitu kejam padanya. Sekarang harapan untuk keluar dari sana juga sudah tidak ada karena pengadilan sudah menjatuhi hukuman seumur hidup padanya.
"Denise.......Ibu lelah sekali, Ibu sudah tidak sanggup lagi." Gumam Melisa semakin erat memeluk kedua lututnya, menangis tanpa suara.
Kesunyian itu, rasa sepi, hancur, rasa putus asa, menginginkan kematian, semua kehancuran hingga untuk membuka mata saja seperti tak sanggup, semua itu pernah Helena alami. Seorang boleh jahat, tapi sejahat-jahatnya seorang Ibu, dia akan menjadi tidak berdaya saat kehilangan anak yang paling dia sayangi.
Di rumah sakit.
__ADS_1
"Aku baru saja datang ke kantor polisi untuk menyampaikan surat laporan polisi seperti yang sudah kita bicarakan." Ucap Martin seraya membuka kotak makanan yang Martin beli sesuai dengan pesanan Helena. Sup kacang merah dengan teh hijau hangat.
Helena memaksakan senyumnya, mengangguk saja karena dia tidak tahu harus bagaimana menanggapi masalah ini. Sekarang kenyataannya adalah, Tuan Feto adalah Ayahnya, walaupun kesannya seorang anak memenjarakan Ayahnya sendiri, tapi Helena merasa kalau seseorang yang bersalah patas mendapatkan hukuman.
"Lusa Dokter sudah memperbolehkan mu keluar dari rumah sakit, tapi kau tetap harus banyak istirahat di rumah."
Helena menghela nafasnya.
"Aku benar-benar tidak bisa bekerja ya?"
Martin tersenyum sembari mencuri kesempatan untuk mengacak rambut Helena.
"Kalau begitu, bagaimana kalau cepat kita menikah supaya kau tidak usah bekerja selamanya?"
Helena menyipitkan matanya, rasanya dia ingin mengatakan tidak mau! Tapi bibirnya seperti terkunci rapat membuat Martin terkekeh sendiri.
"Kau mengatakan itu hanya ingin membuatku menjadi pengasuh Sofia kan?"
Martin menghela nafas, menyingkirkan dulu bubur kacang yang akan dia suapkan kepada Helena, mendekatkan posisi mereka agar menjadi lebih dekat.
"Aku tidak akan menjadi selicik itu, Helena. Aku meminta Sofia memanggilmu Ibu karena aku hanya ingin kau yang jadi Ibunya, dan jadi istriku. Aku, tidak pernah memiliki minat mencari pengasuh anak karena aku bisa mengasuh anakku sendiri."
Helena menelan salivanya melihat Martin yang begitu dekat dengan wajahnya.
__ADS_1
Bersambung.