Why?

Why?
Aktivitas Akhir Pekan


__ADS_3

Hari ini adalah akhir pekan, waktu yang banyak di gunakan oleh anggota keluarga untuk makan bersama, menonton bioskop, atau bahkan liburan bersama. Begitu juga dengan Helena, Martin dan juga Sofia, rencananya mereka akan pergi ke pusat belanja dulu untuk membeli sepasang cincin untuk pernikahan mereka yang rencananya akan di gelar dua bulan dari sekarang. Terkesan buru-buru memang, tapi ini lebih baik di banding menunda waktu lagi toh akan sangat berbahaya mengingat Martin yang selalu saja tidak bisa menahan diri kan?


"Ayah, Ibu, hari ini kita jadi pergi ke taman bermain kan?" Tanya Sofia yang kini duduk di kursi belakang lengkap dengan sabuk pengaman yang mengunci tubuhnya agar tetap aman.


Helena dan Martin kompak mengangguk dan itu benar-benar membuat Sofia bahagia sekali.


"Tapi kita akan pergi kesana kalau sudah membeli barang yang ingin kami berdua beli ya?" Ujar Martin dan langsung mendapatkan anggukan pertanda kalau Sofia paham akan apa yang di katakan Martin.


Begitu sampai di pusat belanja, segera Martin membawa Helena untuk melihat cincin terlebih dahulu, sedangkan Sofia duduk dengan santai di kursi yang telah di sediakan sembari memainkan games menonton video lagu untuk menghafalkan abjad.


"Bagaimana dengan ini?" Tanya Martin sembari menunjuk cincin wanita dengan hiasan berlian yang cukup besar. Helena sontak menggelengkan kepalanya tidak setuju membuat Martin sedikit kecewa.


"Kau sedang kasihan padaku karena takut aku akan kehabisan uang? Percayalah padaku, aku bisa menghasilkan banyak uang berkat mu, aku bahkan bisa memiliki tabungan untuk pendidikan Sofia dan untuk kehidupan kita. Helena, percayalah aku mampu jadi jangan seperti ini ok?" Ucap Martin berbisik kepada Helena. Iya tentu saja tepat seperti apa yang di katakan Martin, dia menghasilkan cukup banyak uang setelah menangani kasus Velerie. Bahkan Martin juga mendapatkan bonus dan penghargaan dari salah satu pemerintah kota yang membuat namanya semakin naik dan firma hukum di tempatnya bekerja semkain terkenal, juga sekarang sudah di renovasi menjadi jauh lebih baik.


Helena menghela nafasnya, menatap Martin dan mencubit perutnya cukup kuat membuat Martin berdesis menahan sakit padahal sebenarnya dia tidak merasakan apapun.


"Aku bukannya tidak mau yang itu, hanya saja kalau untuk di pakai sehari-hari agak kurang nyaman. Apa kau mau aku memakai cincin pernikahan sesekali saja?"


Martin menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Iya, setelah di pikirkan memang benar apa yang di ucapkan Helena. Pasti tidak akan nyaman menggunakan cincin dengan hiasan berlian yang cukup besar di jemari kalau untuk harian kan?

__ADS_1


"Cincin pernikahan kita nanti tentu saja tidak boleh di lepas sama sekali, makanya juga harus beli yang benar-benar pas di jari. Tapi karena aku suka yang tadi, tetap beli itu juga ya?"


Helena menghela nafasnya.


"Tidak!"


"Cih! Sudah ku duga."


"Aku mengatakan tidak karena kalau untuk sesekali pakai tentu saja berlian nya kurang besar. Jangan pikir adalah wanita yang sederhana dan tidak suka pemborosan, kau jangan pernah berpikir seperti itu."


Martin tercengang untuk beberapa saat, lalu terkekeh sendiri karena dia memang menganggap Helena seperti yang di katakan Helena tadi.


Helena tersenyum, tentu saja semua perempuan akan seperti itu. Toh membeli perhiasan bukanlah pemborosan karena pada akhirnya jika ada dalam situasi buruk perhiasan dapat di gunakan alias membeli perhiasan adalah investasi kan?


"Wah, pengacara baru kaya berada di toko berlian apa yakin dapat membeli perhiasan di sini?"


Helena dan Martin kompak menoleh ke arah sumber suara yang dengan sialan mengatakan kalimat menyakitkan itu. Begitu melihat orang itu Martin benar-benar hanya bisa tersenyum kesal, sementara Helena tak menunjukkan ekspresi apapun.


Orang itu adalah Win, dia adalah pria yang menjadi suami dari mantan istrinya Martin. Mantan istrinya Martin juga berada di sana, menatap dengan tatapan aneh yang membuat Helena juga Martin merasa kurang nyaman.

__ADS_1


"Minggir lah pengacara baru kaya, kau tahu sejak lama kau memiliki nasib yang buruk kan? Aku, tidak menginginkan itu jadi kalau jarak kita terlaku dekat, aku takut kau akan menularkan nasib sial mu padaku." Ucap Win membuat Martin mulai terbawa emosi. Helena yang menyadari itu dengan segera meraih tangan Martin dan menggenggamnya erat. Sungguh Helena bisa melihat bagaimana orang kaya seperti Win ini memandang rendah orag lain. Dia terus ingin menunjukkan bahwa dia jauh berada di atas, mendapatkan apa yang dia inginkan, hanya saja dia tidak sadar kalau sebenarnya yah sedang dia lakukan adalah menunjukkan sikap iri kepada Martin.


"Tenanglah, kalimat itu bukan hal yang bisa kau buat menjadi perdebatan." Ucap Helena pelan tapi masih bisa di dengar oleh Win.


Win mengeraskan rahangnya, dia belum lama ini tahu bahwa wanita yang sedang menjalin hubungan dengan Martin ternyata adalah mantan karyawan di perusahaannya, dan sialnya lagi adalah, Helena jauh lebih cantik kalau di bandingkan dengan Yuri, dia adalah mantan istrinya Martin yang kini telah menjadi istrinya. Bukan hanya cantik, Helena memiliki tubuh yang ideal dan tidak terlihat lemah melahirkan, sialnya lagi adalah, Helena ternyata juga anak dari Tuan Feto yang jelas Tuan Feto meninggalkan kekayaan untuknya.


"Kau pasti sengaja mendekati kekasihmu untuk mendapatkan keuntungan ganda kan? Cih! Aku benar-benar tidak heran kalau pada akhirnya kau akan melakukan hal seperti itu." Ucap lagi Win mencoba untuk memprovokasi Martin.


Sayang sekali, genggaman tangan Helena seolah menjadi kontrol yang hebat sehingga Martin sama sekali tak memiliki keinginan untuk merasa kesal.


"Yah, ngomong-ngomong soal keuntungan? Sebenarnya aku memang mendapatkan banyak keuntungan. Wanita ini sangat cantik, dia baik, dia juga bukan wanita yang akan goyah haha karena uang. Entah masih banyak lagi yang aku dapatkan darinya, aku sampai tidak bisa menyebutkannya." Ujar Martin membuat Win dan Yuri terlihat kesal.


"Tuan dan Nyonya, jika memang ingin memilih perhiasan maka silahkan saja. Tempat ini cukup luas dan saja pastikan bahwa kulit anda dan kulit calon suami saya tidak akan bersentuhan." Ujar Helena membuat Win dan Yuri semakin tidak nyaman.


"Ibu........! Video ini sulit untuk di putar!" Ucap Sofia berlari kepada Helena dan Martin. Tapi begitu tatapan matanya bertemu dengan Yuri dan Win, Sofia langsung saja terdiam seperti orang bisu.


Helena tentu saja masih ingat benar bagaimana Sofia menceritakan tentang Ibu dan Ayah tirinya, jadi dengan segera dia meraih lengan Sofia dan membawanya mendekat. Martin juga cepat tanggap, dia membawa Sofia ke dalam gendongannya dan mengarahkan wajah Sofia ke pungungnya.


"So Sofia....." Panggil Yuri.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2