
"Helena, Sofia memang bukan anak kandung mu, tapi aku melihat sendiri bagaimana Sofia menganggap mu sebagai Ibu kandungnya. Dia tidak membutuhkan ku, jadi aku benar-benar meminta tolong untuk ikut menjaganya dengan baik bersama Martin. Aku titipkan Putri ku pada mu, tolong jangan lakukan apa yang pernah aku lakukan, tolong jangan memberikan luka lagi untuk putriku dan Martin. Aku berharap kalian bahagia, aku berharap kalian akan tetap teguh dan saling menguatkan sehingga sebesar apapun ujian dalam hubungan kalian tidak akan mengubah apapun."
Helena tak mampu berkata-kata. Dari cara Yuri berbicara dan menangis, dia benar-benar terlihat sangat tulus sehingga Helena seperti bisa merasakan betapa sakitnya menjadi Yuri saat ini.
"Kau yakin dengan pilihan mu ini?" Tanya Martin.
Yuri mengangguk, yakin tidak yakin intinya dia tidak boleh berada di sekitar Martin dan juga Win. Dia tidak ingin buta karena Win lagi, dan dia juga tidak ingin memiliki niat jahat jika terus melihat Martin dan Sofia.
Setelah selesai mengatakan apa yang ingin di katakan oleh Yuri, segera Yuri menemui Sofia yang baru saja bangun dari tidur. Yuri langsung memeluk, mencium pipi dan kening, hidung juga mata. Sekali lagi dia kembali memeluk tubuh putrinya dan menghirup aroma tubuhnya sembari menangis tanpa suara. Tubuh kecil yang tengah dia peluk adalah bagian dari dirinya, separuh hati yang telah dia sakiti. Di kemudian hari jelas mereka tidak akan bisa dengan mudah untuk bertemu melepas rindu, tapi hatinya sebagai seorang Ibu dengan tegas mengharapkan kebahagiaan, keselamatan dan juga kesejahteraan bagi putrinya.
"Tetap lah menjadi anak Ibu yang manis, dan selalu tertawa bahagia. Ibu minta maaf karena telah menyakiti mu, Ibu minta maaf karena telah membuat kebahagiaan di wajah mu menghilang. Sekarang tinggal lah bersama Ayah dan juga Ibu Helena, Ibu janji akan selalu mendoakan mu, Ibu juga akan selalu menghubungi Ibu Helena untuk menyapa mu." Kalimat itu adalah kalimat terakhir yang di ucapkan Yuri sebelum dia benar-benar keluar dari apartemen Martin dan pergi ke tempat yang ingin dia tuju.
Martin terdiam dia sama sekali tak bicara setelah kepergian Yuri seolah dia memikirkan banyak hal, dan Helena juga hanya bisa memilih untuk menemani Sofia bermain di kamarnya. Karena Sofia meminta minum, maka dari itu lah Helena keluar dari kamar untuk ke dapur. Tapi begitu melihat Martin masih saja dengan gelisah, Helena memutuskan untuk buru-buru mengambil botol Sofia dan memberikan botol berisi air kepada Sofia, lalu kembali untuk berbicara dengan Martin.
__ADS_1
"Kau masih belum selesai?" Tanya Helena, dia menyuguhkan secangkir kopi, lalu duduk di sebelah Martin untuk bicara dengan nyaman.
"Maaf, aku tidak berniat mengabaikan mu, sungguh."
Helena menghela nafasnya, tentu saja dia tahu. Hanya saja diamnya Martin memendam segala yang dia pikirkan seorang diri membuat Helena merasa tidak nyaman dan tidak seharusnya dia datang hari ini.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Apa tidak apa-apa aku mengatakan yang sebenarnya?" Tanya Martin.
"Kalau kau tidak mengatakan apapun, aku justru akan merasa kecewa." Ujar Helena yang langsung membuat Martin tersenyum dan merasa lebih ringan untuk menyampaikan apa yang memang sedang dia pikirkan.
"Sebenarnya kalau boleh jujur, aku benar-benar merasa kasihan dengan Yuri. Aku tetap berhutang padanya karena berkat dia aku memiliki Sofia. Aku ingin membantunya, tapi sepertinya dia juga sadar benar bahwa apapun yang akan dia lakukan tidak akan membuat Win berhenti membuat ku hancur."
__ADS_1
Helena tertarik ketika Martin membahas Win, yah ini memang sangat aneh kan? Win seperti terus mencoba untuk memprovokasi Martin dan mencoba untuk selalu merendahkan dan menghina Martin. Win jelas tidak perduli tentang Yuri, dia justru terlihat seperti ingin menunjukan kepada Martin bagaimana wanita yang Win cintai setengah mati justru mengejarnya dengan gila hingga rela meninggalkan suami sebelumnya beserta anaknya. Win begitu memamerkan diri, dan itu benar-benar tidak masuk akan jika tidak ada yang terjadi dengan Martin dan Win sebelumnya bukan?
"Sebenarnya, aku dan Win adalah saudara satu Ayah."
Helena benar-benar terkejut sekali, dia sampai lupa bernafas sampai beberapa detik. Saudara satu Ayah? Jadi, mereka bersaudara? Tunggu, sebenarnya kenyataan macam apa lagi ini?
"Sayang, sebenarnya aku mencurigai Ibunya Win dan Win sendiri. Aku curiga mereka adalah dalang dari meninggalnya Ibu ku. Aku curiga kalau hanya demi membunuh Ibu ku mereka bahkan sampai menyeret beberapa nyawa yang tidak bersalah. Bagaimanapun aku selalu berpikir bahwa sangat aneh sekali ada kebakaran di saat tengah malam, dan petugas bangunan juga sudah memastikan benar tidak ada masalah. Tapi sial sekali hingga sekarang aku tidak memiliki bukti, sulit sekali hingga setiap kali melihat photo Ibuku, atau datang ke makamnya aku merasa menjadi anak yang amat gagal dan pengecut."
Helena mengeratkan tangannya, dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan tatapan matanya yang terlihat sedih juga khawatir sekali.
"Aku juga baru tahu kebenaran itu saat aku duduk di bangku sekolah menengah pertama. Ibu ku akhirnya membawa ku bertemu Ayah yang selama ini aku impikan. Kami bertemu dan dia memeluk ku sangat erat, dia menangis dan meminta maaf karena tidak berada di sisi kami. Tapi saat di bawa ke rumah Ayah ku, aku benar-benar mulai memahami banyak hal bahwa, Ayahku memiliki istri dan anak, Ibu ku hanya selingkuhan Ayah ku saja. Ayah ku bilang bahwa pernikahan dengan Ibunya Win adalah pernikahan aliansi yang tidak bisa dia hindari, tapi sejak awal hingga akhir dia benar-benar hanya mencintai Ibu ku. Aku pikir itu hanyalah omong kosong belaka, tapi sejak Ibu ku di temukan tewas, dia benar-benar terlihat sangat terpukul dan sakit-sakitan hingga sekarang. Sejak pertama aku bertemu Win dan Ibunya, mereka selalu saja mencoba untuk mencelakai ku, dan mendorong ku untuk menjauh. Makanya aku pikir akan lebih baik jika aku menghapus nama belakang dari Ayah ku, hidup jauh dari keluarga itu. Sepertinya semua yang aku lakukan masih tidak cukup untuk mereka, jadi aku yakin setelah ini mereka akan menjadi lebih tidak terkontrol."
Bersambung.
__ADS_1