Why?

Why?
Persaingan Sifat


__ADS_3

"Yang menghancurkan keluargamu, adalah ulah kalian semua. Melisa dengan ambisi yang berlebihan, menjadi temanku hanya untuk mendekati dan merebut suamiku. Kalian yang bodoh hanya memiliki ambisi membahagiakan putri tersayang, menuruti apa yang dia inginkan, membiarkan dia tumbuh dengan cinta yang salah. Kalian membelanya tidak perduli dia salah atau benar, kalian selalu melimpahkan kesalahan kepada orang lain. Putramu yang meninggal itu, dia bahkan tidak tahu bagaimana caranya menghargai diri sendiri, lalu meninggal dengan alasan tidak jelas, tapi kalian menyalahkan ku yang tidak menerima cinta darinya? Pft! Bodoh, aku benar-benar tidak pernah menemukan orang sebodoh kalian."


"Tutup mulutmu!" Kesal Tuan Feto yang tentu saja tidak bisa menerima apa yang di katakan Helena barusan. Bagaimana dia memaki bodoh dengan mudahnya? Ini benar-benar pertama kalinya dia mendengar ada orang yang memakinya, jadi dia benar-benar tidak akan membiarkan begitu saja.


"Tidak, aku tidak akan menutup mulutku. Ah, Tuan Feto, akan aku beritahu satu hal padamu ya? Sebelumya aku membenci mu karena kau berlebihan dalam mencintai putrimu itu dan menghalalkan segala cara untuk menutupi kesalahannya. Tapi mulai dari hari ini, aku membencimu, aku jijik padamu, aku juga sangat mual melihat wajahmu. Untuk pertama kalinya aku begitu benci dan jijik, mual saat melihat wajah, dan itu adalah wajahmu. Kau, benar-benar membuatku sampai membenci diri sendiri karena harus melihatmu."


" Dasar sialan!"


Bugh!


Bugh!


Dua pukulan itu mendarat di perut Helena.


"Benar, aku sialan. Tapi jangan lupa, kau adalah bajingan sialan juga!"


Tak terima melihat Helena yang tak hentinya memaki melalui ucapan dan tatapan matanya, Taun Feto melayangkan tangannya ke wajah Helena hingga memerah dan sudut bibir Helena mengeluarkan darah. Helena masih hidup, dia masih sadar benar itu lah makanya dia masih tidak terlihat takut sama sekali. Mati kehausan, kehujanan, kepanasan, tersambar petir, mati di tangan orang sialan seperti Tuan Feto juga sudah dia relakan asalkan dia tetap terus memperlihatkan bahwa dia tidak takut sama sekali, dan dia juga tidak akan menyerah sampai dia benar-benar tidak sanggup lagi.


Helena mengabaikan rasa sakit yang dia rasakan saat ini, dan kembali menatap Tuan Feto dengan tatapan mencemooh.


"Lebih baik kau benar-benar memastikan untuk aku tidak bisa lepas dari ikatan ini, karena kalau kau lengah, percayalah meski kau memotong kedua kaki dan tanganku, aku pastikan aku bisa membunuhmu, menghancurkan wajah menjijikan mu itu juga. "


Tuan Feto mengeraskan rahangnya, sungguh dia tidak mengerti bagiamana Helena bisa tak memiliki rasa takut sama sekali padahal di situasi sekarang ini seharusnya Helena menangis memohon ampun, mengemis untuk di lepaskan bukan? Tuan Feto benar-benar menginginkan Helena yang seperti itu, tersungkur, bersujud di kakinya, bahkan rela menjilat sepatunya demi ampunan. Tapi, Helena benar-benar begitu keras kepala, dia tak secuil pun terlihat takut, bahkan darah dan memar yang ada pada tubuhnya tak terlihat membuatnya merasa sakit.


"Harus ku akui, keras kepalamu benar-benar hebat sekali. Aku tidak pernah menemukan orang yang sama keras kepalanya sepertiku, aku benar-benar menjadi bersemangat ingin menyiksamu lebih gencar lagi." Tuan Feto pikir kali ini bisa menghancurkan keras kepala dan harga diri Helena yang begitu tinggi itu, tapi lagi-lagi dia di buat tak kesal karena nyatanya Helena jutsru terlihat jijik untuk hal yang tidak sepemikiran dengannya.


"Anjing tua gila sepertimu, jangan berani-beraninya menyamakan denganku! Bahkan kotoran ku saja jauh lebih baik di banding wajahmu, brengsek!"

__ADS_1


Plak!


Tuan Feto benar-benar di buat kesal dengan mulut Helena yang begitu keterlaluan dalam memakinya. Tak puas dengan itu, dia meraih rambut Helena, menariknya cukup kuat membuat Helena mengeryit dengan wajah yang begitu merah tapi dia benar-benar tak mengaduh sama sekali.


"Kau benar-benar tidak memiliki rasa takut, jadi biarkan aku mengajarimu apa itu takut padamu!"


Helena terkekeh, menatap Tuan Feto dengan tatapan yang begitu menghinanya.


"Tangan mu yang kotor itu, perbuatan dan segalanya tentang anda, aku benar-benar membenci sampai ke urat nadi. Aku benar-benar tidak pernah membenci orang lain sampai seperti itu sampai merasa jijik juga terhadap diri sendiri."


Tuan Feto benar-benar sudah kehabisan kata-kata melihat bagaimana kekukuhan Helena, dia memilih menjauhkan diri dari Helena, membiarkan Helena di sana, biarkan dia kepanasan, kehujanan, kehausan dan kelaparan. Biarkan dia mati dengan perlahan, biarkan dia menderita seperti yang di rasakan oleh Melisa dan juga Denise.


"Pastikan tidak ada yang naik ke atap, pastikan juga dia tetap dalam posisinya sekarang. Jangan ada yang memberikan makan atau minum, percayalah aku akan memberikan sangsi berat jika itu sampai terjadi." Ucap Tuan Feto kepada dua orang yang sejak awal menculik Helena.


"Baik."


Brak!


Martin menghancurkan ruangan dari rumah tua di dekat hutan, tempat di mana Helena di sekap sebelumya.


"Sialan! Kemana lagi sekarang?!" Kesal Martin mengusap wajahnya dengan kasar.


Martin sebentar menenangkan dirinya agar bisa berpikir dengan benar. Tak lama suara dering ponselnya terdengar, segera Martin menerima panggilan telepon itu.


"Ada apa, Pak Han?"


Martin, aku baru saja melihat rekaman kamera pengawas jalan, mobil yang membawa Helena Sepertinya sengaja mengganti plat mobil, dia sudah meninggalkan hutan sekitar tiga jam lalu, sepertinya dia menuju ke kota di mana kita tinggal.

__ADS_1


Martin terdiam sebentar.


"Lalu, bagiamana dengan Tuan Feto? Apa saja kegiatan dia sejak kemarin?"


Dia tidak melakukan banyak kegiatan di luar rumah, kecuali mendatangi rumah sakit di mana cucunya pernah di rawat.


"Mobil yang membawa Helena apa ada ke rumah sakit itu?"


Ada mobil yang mirip, tapi dia membawa satu pasien lumpuh, tidak ada jejaknya.


Martin menghela nafas kasarnya.


"Baiklah, Pak Han. Tolong bantu aku untuk terus mengawasi Tuan Feto, dan beritahu aku jika ada kecurigaan tentang keberadaan Helena. Bagaimana dengan Sofia?"


Aku akan melakukan apa yang kau perintahkan, Sofia baik-baik saja. Dia memang menanyakan keberadaanmu dan Helena, tapi dia sedikit tenang karena mainan yang aku bawa.


Martin menghela nafas lega.


"Baiklah, maafkan aku harus begitu merepotkan mu, pak Han. Aku benar-benar kacau sekali."


Tenanglah, Martin. Kami semua di sini akan membantu sekuat tenaga, jangan menyerah, semua akan baik-baik saja.


Martin mengangguk tanpa kata.


Setelah sambungan telepon berakhir, Martin segera berlari menuju kendaraannya dan melajukan kendaraannya untuk menuju ke sekitar rumah sakit dan apartemen Helena untuk kembali memastikan dan mecari tahu lagi mungkin saja dia melewatkan sesuatu yang sangat penting tentang keberadaan Helena.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2