
Martin meletakkan ponselnya setelah selesai menghubungi Helena untuk memberitahu bahwa dia sudah sampai di apartemen dengan selamat, Sofia juga sudah tidur sejak di jalan pulang. Sebentar mereka membahas tentang Helena yang akan bekerja, sebenarnya Martin tidak ingin melarang, tapi dia benar-benar ingin Helena istirahat total lebih dulu sampai yakin benar dia sudah sembuh. Di tambah lagi sedang banyak hal yang harus di urus untuk pernikahan mereka kan? Ada juga tentang harta Tuan Feto yang di berikan Helena hingga kini belum rampung.
Martin menghela nafas, tersenyum menatap photo dirinya bersama Sofia dan juga Helena yang menghiasi meja di samping tempat tidurnya. Sekarang dia tidak lagi ingin mengeluh tentang hidup, dia tidak akan lagi menyalahkan orang lain dan fokus untuk kehidupan mereka bertiga nanti. Eh, bukan bertiga, mungkin bisa berempat, berlima, atau bahkan berenam atau lebih tergantung berapa anak yang akan di lahirkan mereka nanti.
Martin sudah bersiap untuk mengambil posisi tidur, dia juga sudah memastikan kalau Sofia sudah nyenyak sekali di kamarnya. Tapi begitu ingin mulai memejamkan mata, ponsel Martin berdering tanpa panggilan masuk. Khawatir itu adalah telepon dari Helena, segera Martin meraih ponselnya, sebaik bangkit dari posisinya.
"Ini, nomor telepon siapa?" Gumam Martin menatap nomor telepon yang tidak ada dalam daftar. Sebentar dia mengeryit, tapi dengan segera dia menggeser tombol untuk menerima telepon.
"Halo?" Ucap Martin begitu panggilan telepon sudah terhubung.
Martin, ini aku, Yuri.
Martin menghela nafasnya, rasanya ingin cepat mengakhiri sambungan telepon, tapi mengingat jika Yuri adalah Ibunya Sofia, Martin mencoba untuk menyebarkan diri dan membiarkan Yuri menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan.
"Ada apa?" Tanya Martin.
Martin, aku merindukan Sofia. Apa aku boleh datang ke apartemen? Aku tidak akan membawa Sofia pergi, hanya sebentar ingin bermain bersama untuk melepaskan perasaan rindu, sungguh!
"Besok tidak bisa, aku bekerja. Kalaupun ingin kau paksa Sofia untuk bersama mu, aku yakin dia hanya akan menangis ketakutan jika aku meninggalkan kalian berdua."
__ADS_1
Yuri terdiam sebentar.
Martin, aku tidak masalah kalau bertemu di tempat kerja mu. Kita bisa sebentar bicara tentang anak kita kan?
Martin tersenyum kesal mendengar ucapan Yuri. Anak kita? Kenapa sejak dulu Yuri selalu menyebut Sofia adalah anaknya, Martin tidak pantas menjadi apalagi menjadi Ayahnya Sofia. Martin benar-benar terhina dengan pengakuan itu, dia juga terhina karena hal untuk mengakui anak kandungnya sendiri di rampas oleh Yuri. Sekarang mengatakan jika Sofi adalah anak kita apakah Yuri tidak berpikir bahwa hal itu sangat menyebalkan? Sudah membawa lari anak seolah dia mampu memberikan kehidupan yang jauh lebih layak untuk Sofia, tapi tiba-tiba saja menganggap Sofia adalah beban dan memberikan kepada Martin. Sungguh Ibu yang sangat hanya mencintai diri sendiri bukan?
"Kalau kau begitu memaksa untuk bertemu Sofia besok, maka temui saja dia di apartemen. Tapi, kau hanya bisa masuk saat Helena ada di sana."
Apa? Helena? Martin, Sofia itu adalah anak kit, kenapa kita harus meletakkan orang lain di tengah-tengah kita? Aku hanya ingin bersama dengan Sofia berdua, tidak menginginkan Helena! Kalaupun harus ada yang menemani Sofia, tentu saja itu adalah kau!
"Tidak, aku tidak bisa menemani Sofia besok pagi karen aku harus menemani klien ku ke persidangan. Jangan menyamakan Helena dengan orang asing, dia bahkan tidak perlu melakukan apapun tapi Sofia lah yang mendekatkan diri kepada Helena. Kau tahu kenapa? Karena Sofia merasa Helena dapat melindunginya, Helena dapat mengisi peran yang dia inginkan dalan versi Helena sendiri. Helena tidak pernah menggantikan posisi seorang Ibu, karena sejak awal, kau benar-benar tidak pernah berada di posisi layaknya seorang Ibu.”
Yuri mengakhiri sambungan telepon tanpa mengatakan apapun lagi kepada Martin. Tentu saja hatinya sakit dan kecewa dengan apa yang di katakan Martin. Memang benar sejak awal dia hanya mementingkan dirinya sendiri, dia hanya ingin mendapatkan apa yang dia inginkan yaitu, harta, dan cinta sehingga dapat di perlakukan layaknya ratu.
Win memberikan banyak hal sebelum Yuri benar-benar meninggalkan Martin dulu. Mulai dari perhiasan, bau bermerek, tas, sepatu, bahkan juga selalu mengirimkan uang untuk membeli apa yang di inginkan Yuri. Tapi begitu dia meutuskan untuk meninggalkan Martin dan menikah dengan Win, semua benar-benar tak seindah apa yang dia bayangkan.
Win tidak menikahinya secara legal, Win juga tidak memperlihatkan bahwa dia menyukai Sofia, bahkan Win juga tidak seroyal biasanya, parahnya lagi Win ternyata bermain dengan banyak wanita.
Yuri sudah terlanjut dengan pilihannya, dia pikir dia hanya perlu berusaha lebih keras lagi untuk membuat Win hanya fokus kepadanya, mendandani Sofia agar terlihat cantik dan Win akan menyukainya. Tapi, semakin hari Win semakin menuntut banyak hal yang sulit untuk di lakukan Yuri. Dia meminta Yuri untuk pergi ke dokter dan melakukan perawatan tubuh uni membenahi bentuk bagian v dan juga dadanya. Hampir setiap bulan Yuri harus datang ke klinik kecantikan, bertarung dengan alat kedokteran yang cukup menyakitkan. Tapi semua dia lakukan demi Win, hingga dia tidak memikirkan bagaimana tubuhnya yang lelah.
__ADS_1
Yuri tersentak saat suara Win terdengar keras memanggil namanya, segera Yuri keluar dari kamar dan menuruni anak tangga untuk melihat Win.
"Win, kau mabuk lagi?" Tanya Yuri dengan tatapan sedih, bukan hanya sedih melihat Win pulang dengan keadaan mabuk, tapi Yuri semkain di hancurkan dengan seorang wanita yang menemani Win untuk pulang. Dia adalah asisten pribadinya Win, dan dia juga adalah salah satu wanita yang menjalin hubungan dengan Win.
"Biarkan aku yang membawa Win ke kamar." Ucap Yuri seraya mendekati Win, dia juga sedang menggegerkan tangannya untuk meraih lengan Win, tapi asisten Win dengan segera menghentikan tangan Yuri, dia dengan berani menunjukan wajahnya dan tersenyum kesal.
"Maaf sekali, tapi Win sudah menitipkan pesan bahwa dia hanya ingin tidur bersama dengan ku. Katanya kalau pulang tanpaku dia akan merasa sangat malas, Win bilang rasa mu sangat hambar."
Yuri tentu saja marah, tidak cukup kah mereka berselingkuh di luaran sana dan harus terang-terangan seperti ini?
"Di sini aku istrinya Win, aku adalah nyonya di rumah ini, jadi jangan mengatur ku!"
Asisten Win terkekeh dengan tatapan menghina.
"Nyonya? Hanya kau yang menganggap seperti itu, karena bagi Win tidak begitu."
Asisten itu membawa Win masuk ke dalam kamar yang kadang di gunakan Win, sementara Yuri tidak lagi ingin mengatakan apapun dan membiarkan saja air matanya jatuh.
Bersambung.
__ADS_1