Why?

Why?
Eva dan Singa


__ADS_3

Tepat satu jam kemudian, bel sekolah berbunyi, pelajaran matematika pun berakhir. Bu Ernita mengemasi perlengkapannya, berdiri dari tempatnya lalu berkata, “Untuk yang belum dipanggil, kita lanjutkan kuisnya di pertemuan berikutnya. Lalu untuk ketua kelas, ikut Ibu ke ruang majelis.”


“Bu, Satria sakit tidak masuk. Kalau Putra sepertinya bolos,” ucap salah seorang murid memberitahukan keabsenan ketua dan wakil ketua kelasnya.


Bu Ernita mendengkus. “Kalau begitu sekretaris saja. Ayo, ikut Ibu.”


Eva Riana si sekretaris kelas langsung berdiri. “Baik, Bu,” sahutnya lalu mengekori Ibu guru ke ruang majelis.


Sesampai mereka di sana, Bu Ernita mengeluarkan tumpukan berkas dari laci mejanya. “Ini kumpulan soal latihan. Bagikan ke semua anak lalu kumpulkan minggu depan,” pesannya dan Eva mengangguk sambil mengangkut tumpukan kertas tersebut.


Baru saja Eva hendak berjalan keluar, salah seorang guru menghentikannya. Ternyata adalah Pak Fahrul, guru mapel Kimia.


“Eva, berikutnya Bapak masuk kelas kalian, ya?” tanyanya dan Eva mengangguk lagi. “Bapak ada urusan hari ini, jadi nanti kalian belajar sendiri, ya? Buat ringkasan tentang bab yang kita pelajari kemarin. Sekalian tolong sampaikan juga kalau besok kuis.”


Tanpa banyak bicara Eva hanya mengangguk mengiyakan ke semua permintaan gurunya. Dua bulan terakhir menjelang ujian sekolah, jadi maklumlah bahwa hampir seluruh pelajaran diadakan kuis.


Selang beberapa menit sejak keluar dari majelis guru, Eva sudah kembali ke kelasnya. Begitu tiba, langsung saja ia menyampaikan pesan serta tugas dari guru-guru. Sesuai dugaan, mayoritas siswa mengeluh dan bersorak kecewa. Namun, daripada mengerjakan tugas seperti yang diinstruksikan, kebanyakan lebih memilih untuk memainkan ponsel, celoteh dengan teman, ataupun bolos ke kantin.


“Eva, ke kantin, yuk. Aku lapar, nih, belum sarapan tadi pagi,” ucap Gita, teman satu meja sekaligus sahabat karib sejak sekolah dasar.


Eva menggeleng pelan. “Aku mau buat ringkasan, Git. Aku juga belum lapar.”


Gita cemberutan. “Gak ada guru pun kamu tetap jadi anak yang baik? Gak asyik bener. Ya, udah, aku bareng yang lain. Kamu benar gak mau ikut, kan? Mau titip?” tanya Gita dan Eva menggeleng lagi. “Ok, deh, aku pergi dulu. Kalau bisa kerjakan punyaku juga, ya.”

__ADS_1


Sepeninggalan Gita yang terakhir keluar, kelas XI IPA-A menjadi sunyi. Setengah masih berada di dalam ruangan, tapi yang benar-benar mengerjakan tugas atau belajar dapat dihitung dengan jari—termasuk Eva.


“Halo.”


Mendengar suara, Eva spontan menengadah dan terkesiap. Tepat di sampingnya—tempat duduk Gita—duduk seseorang yang tengah tersenyum lebar padanya. Dia adalah Ren, si murid baru.


“Kamu ... memanggilku?” tanya Eva ragu, lebih tepatnya gugup. Sudah berapa lama dia duduk di sampingnya? Eva yang sudah hampir menyelesaikan ringkasannya sama sekali tidak menyadari keberadaannya.


“Haik* ,” sahut Ren sambil mengangguk kuat. “Apa benar namamu Eva?”


“Iya, benar. Ada apa?”


Ren tersenyum lagi. “Salam kenal, Eva-san. Apakah saya boleh berteman denganmu?”


“Bagaimana? Apa saya boleh menjadi temanmu?” Ren ulang bertanya.


“Oh, ya, boleh. Kamu boleh jadi temanku.”


“Berarti kita adalah teman sekarang! Eva-chan* ... saya boleh memanggilmu begitu?”


Eva terdiam sesaat lalu mengangguk. Terus terang Eva tidak pernah nonton anime atau hal-hal lain yang berbau jepang, sehingga ia tidak paham perbedaan sebutan tersebut meskipun sering mendengarnya dari teman yang lain—terutama Andi. Tapi sepertinya bukan masalah yang besar.


Ren lagi-lagi tersenyum hingga memamerkan giginya yang rapi. “Eva-chan, saya ingin menunjukkan sesuatu.” Ia berjalan ke mejanya, mengambil sesuatu dari dalam tas, lalu kembali ke samping Eva. “Lihat, ini Leon.”

__ADS_1


Eva mengamati benda yang ditunjukkan Ren, sebuah boneka flanel mini berbentuk singa. Menilai dari kepudaran warnanya dan bulu-bulu yang timbul, boneka bernama Leon ini sepertinya sudah disimpan lama.


“Ini sahabat saya sejak kecil,” jelas Ren. “Lucu, bukan? Ini buatan ibu saya dulu. Saya suka singa, sosok yang gagah, kuat, dan berani.”


“Kamu selalu membawanya?” tanya Eva penasaran. Selain sudah beranjak dewasa, Ren juga laki-laki. Apa dia selalu menunjukkan sahabat kecilnya ini kepada siapapun?


“Tentu saja,” jawab Ren. “Leon bagaikan jimat pelindung saya.”


Ren beralih dari boneka kecil ke Eva. Ia menatapnya dengan serius. “Eva-chan ... saya suka kamu.”


Kedua mata Eva membulat. Apa yang barusan dia katakan? Eva tidak salah dengar, kan?


“Saya suka rambutmu, Eva-chan. Rambutmu keren, mirip dengan singa.”


Apa?


***


Catatan:


*4: Jawaban “ya” atau “benar” dalam bahasa Jepang.


*5: Panggilan untuk orang yang dekat/akrab dalam bahasa Jepang.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2